Luar biasa memang dedikasi pemimpin kita. Di satu sisi, podium negara bergetar oleh instruksi "efisiensi anggaran". Rakyat diminta maklum jika ikat pinggang harus ditarik hingga sesak demi menyelamatkan kas negara. Namun, sepertinya definisi "hemat" memiliki kamus yang sangat berbeda jika sudah menyentuh aspal luar negeri, terutama di Paris.
Ada hal yang terasa begitu "surealis" di tengah agenda kenegaraan yang katanya padat dan melelahkan. Di sela-sela urusan bangsa, masih sempat-sempatnya tersaji momen melankolis : seorang kepala negara merayakan hari jadi Sekretaris Kabinetnya, sesama pria, dengan seremoni kue dan bunga di sebuah hotel mewah di luar negeri.
Secara akal sehat, ini adalah pemandangan yang ganjil. Kita tidak sedang membicarakan urusan personal, melainkan kewajaran publik. Sejak kapan standar etika birokrasi kita berubah menjadi begitu puitis dan penuh bunga, sementara rakyat di bawah diminta tetap tangguh menghadapi himpitan ekonomi?
Rasanya aneh melihat para pemegang kebijakan yang biasanya bicara soal "ketegasan" dan "jiwa korsa", tiba-tiba berubah menjadi begitu lembut dan penuh selebrasi "manis" hanya untuk merayakan bertambahnya usia seorang pejabat.
Ketika pemerintah gembar-gembor soal penghematan, sudah selayaknya pemimpin memberikan teladan yang konkret. Bukan malah mempertontonkan romantisasi birokrasi yang mahal di negeri orang menggunakan anggaran negara.
Jika untuk merayakan ulang tahun rekan sejawat saja harus melintasi samudera dengan fasilitas kelas satu, maka kata "prihatin" yang sering diucapkan pemerintah hanyalah sekadar pemanis bibir dalam naskah pidato. Publik tidak butuh melihat bunga yang cantik di luar negeri; publik butuh melihat uang pajak mereka kembali dalam bentuk kesejahteraan, bukan dalam bentuk tagihan hotel ratusan juta untuk acara yang tak ada urgensinya bagi bangsa.

Comments
Post a Comment