Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan peta jalan yang sudah digambar oleh orang lain di lingkungan kita. Bagi seorang anak laki-laki, peta itu sseringnya berupa instruksi yang sangat kaku: jangan menangis, jangan terlihat lemah, dan jadilah yang terkuat. Kita terbiasa mendengar kalimat seperti, "Laki-laki kok nangis, memalukan!" atau "Kalau dipukul, balas pukul lagi, jangan mau kalah!". "Laki-laki kok gak suka bola?!" Tanpa disadari, ekspektasi-ekspektasi ini tumbuh bersama kita, membentuk sebuah dinding tebal yang memisahkan diri kita yang sebenarnya dengan apa yang dituntut oleh lingkungan sekitar. Fenomena inilah yang hari ini sering kita sebut sebagai toxic masculinity atau maskulinitas beracun. Istilah ini sering kali disalahartikan sebagai serangan terhadap kaum pria. Padahal, sama sekali bukan tentang menyalahkan pria menjadi pria. Sebaliknya, istilah ini lahir untuk menggugat tuntutan sosial yang sempit, yang memaksa pria memakai topeng k...
- Get link
- X
- Other Apps