Tahun-tahun berlalu di Labu Pukat bukan sebagai catatan waktu yang dihitung dengan perayaan, melainkan dengan ketekunan membelah tanah yang keras. Bagi Saleh dan Fatimah, pemulihan bukanlah tentang melupakan; itu adalah tentang bagaimana membelah tanah yang pernah direndam darah untuk menumbuhkan tunas padi yang baru. Rumah mereka dibangun di atas fondasi yang sama dengan rumah lama, menggunakan kayu-kayu jati sisa yang tidak dimakan api. Tidak ada ukiran mewah, hanya struktur yang kokoh, seolah dirancang untuk menahan badai yang mungkin saja datang kembali suatu hari nanti. Di halaman, mereka menanam pohon lontar muda yang kini mulai tumbuh menjulang—pengingat akan hari-hari ketika mereka berlindung di bawah naungan pohon yang sama saat dunia sedang runtuh. Setiap pagi, Saleh masih bangun sebelum matahari menyentuh pucuk Olat di timur desa. Bahunya yang pernah terluka kini memiliki parut yang dalam, sebuah peta permanen dari malam yang paling kelam. Namun, saat ia memikul cangkul, ia ...
- Get link
- X
- Other Apps