Posts

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 1 - Kehidupan di Labu Pukat

Angin dari Selat Alas tidak pernah membawa aroma yang sama dua kali. Kadang ia membawa bau garam yang tajam, kadang aroma tanah basah yang baru saja disapa hujan, namun bagi Muhammad Saleh, angin itu selalu membawa aroma yang paling ia kenal: bau dedaunan lontar yang terbakar matahari dan wangi pucuk padi yang sedang merunduk manja di bulirnya. Labu Pukat, tahun 1688. Sebuah negeri yang seolah luput dari riuh rendah dunia. Di sini, waktu tidak diukur dengan dentang lonceng logam sebagaimana yang dikabarkan terjadi di negeri-negeri jauh di seberang samudra. Waktu di Labu Pukat diukur dengan gerak matahari yang menyapu puncak-puncak Olat (bukit/Gunung), dengan suara azan yang membelah senja dari masjid kayu yang tiang-tiangnya masih kokoh memeluk aroma kayu cendana. Saleh berdiri di tengah ladang. Punggungnya yang bidang basah oleh keringat. Di depannya, hamparan Pade Gutis,  padi pilihan yang ikatan-ikatannya telah ia rapikan dengan jemari yang kasar namun telaten, berbaris menung...

Catuspata: Harmoni Kosmos dalam Denah Kota Mataram

Mengapa Membaca karena Kesenangan Lebih Penting daripada Membaca karena Kewajiban?

Dari 86 Kg ke 63 Kg! Transformasi Ekstrem Yayat yang Sempat Dikira Netizen Pakai Narkoboy!

Di Tengah Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat, Ke Sini Kita Harus Pulang untuk Menyelamatkan Jiwa

Selembut Biji Sawi: Mengapa Hal Kecil Ini Bisa Menghapus Seluruh Amal Kita?

Ketika Dunia Sibuk Rapat Iklim, Masyarakat Adat Bayan di Kaki Rinjani Sudah Berhasil Jaga 37 Mata Air Selama Berabad-abad

Seni Mengelola Dendam: Menang Tanpa Menyakiti, Tumbuh Tanpa Membenci!

Pelajaran Penting dari Film Remarkably Bright Creatures : Saat Luka Menemukan Penawarnya.!

Senja dan Perjalanan Pulang

Awas! Gejalanya Mirip Flu Biasa, Tapi Campak Bisa Bikin Anak Sesak Napas Hingga Radang Otak.

Gumi Inan: Ketika Denyut Nadi Bayan Berporos pada Rahim Ibu

Awiq-Awiq dan Hukum Negara: Menjaga Hutan di Tengah Badai Heterogenitas!

Misteri Kue dan Bunga Untuk Seskab Teddy : Estetika Baru Birokrasi?

Strategi Main Cantik Hadapi El Nino 2026 | Catatan Dialog NTB Bicara