Posted by
BangAjie
on
Ada sebuah pergeseran yang menyesakkan dada belakangan ini. Jika kita menilik ke belakang, standar seseorang dijadikan idola terasa begitu terhormat. Kita mengagumi mereka yang berdarah-darah melahirkan karya—aktor yang menjiwai peran, musisi yang merangkai nada, atau akademisi yang membuka cakrawala berpikir kita. Kita memuja proses, kerja keras, dan substansi. Namun, coba lihat layar ponsel kita hari ini. Popularitas seolah bisa dibeli dengan pamer kemewahan. Standar "keren" kini menyempit menjadi sekadar angka: berapa saldo rekeningnya, seberapa hedon gaya hidupnya, atau berapa ratus juta yang ia hasilkan dalam sekali siaran langsung. Masalahnya bukan pada uangnya, tapi pada pesannya. Ketika materi menjadi satu-satunya standar kemuliaan, kita sedang membangun fondasi mental yang rapuh bagi generasi mendatang. Di titik ini, etika menjadi barang murah. Hal yang salah, perilaku yang tidak terpuji, hingga tindakan yang tidak beretika bisa mendadak dianggap "...
- Get link
- X
- Other Apps