Di balik hiruk-pikuk modernitas yang kini menyelimuti Mataram dan Cakranegara, tersembunyi sebuah cetak biru yang melampaui sekadar fungsi administratif. Kota ini tidak dibangun atas dasar kebetulan atau sekadar pemenuhan kebutuhan ruang. Dua kota ini adalah manifestasi fisik dari sebuah tatanan semesta yang agung, sebuah cerminan mikrokosmos dari makrokosmos yang kita kenal sebagai filosofi Catuspata. Bagi para pendahulu kita, membangun kota adalah ibadah. Menata ruang adalah menyelaraskan kehidupan manusia dengan kehendak alam dan restu Tuhan. Catuspata: Titik Nol yang Menyatukan Semesta Catuspata, atau perempatan agung, bukanlah sekadar persimpangan jalan bagi lalu lintas manusia. Dalam kosmologi Hindu yang menjadi landasan filosofis tata kota Mataram, Catuspata adalah titik nol, poros dunia (axis mundi) yang menjadi pusat gravitasi aktivitas sosial, religius, dan pemerintahan. Perempatan ini adalah jantung di mana energi kota bertemu. Di sinilah denyut nadi masyarakat ...
- Get link
- X
- Other Apps