Posts

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 6 - Ekspedisi Balasan.

Suara gemuruh di cakrawala pagi itu bukan berasal dari guruh guntur, melainkan dari deru layar yang terkembang gagah. Di ufuk timur, sepuluh kapal dari Kerajaan Bone yang dipimpin oleh barisan prajurit pilihan yakni pendekar-pendekar yang telah teruji dalam riuhnya pertempuran laut, mereka memotong jalur air, ditemani oleh dua sekoci besar milik Kompeni: Maccasser dan Arent . Di atas geladak Maccasser , Letnan Hendrik Collardt menatap pesisir di Labu Pukat, Sumbawa dengan kacamata jauh yang teropongnya kusam oleh garam laut. Di sampingnya, seorang perwira dari Kerajaan Bone, dengan keris terselip di pinggang dan mata yang setajam elang, memindai garis pantai yang terlihat sunyi dan mematikan. Mereka mencari Karaeng Pamolikang. Mereka membawa titah Gubernur Jenderal Joannes Camphuijs : basmi para perompak itu, atau Kerajaan Sumbawa akan benar-benar lenyap dari peta perdagangan Saleh, yang selama berhari-hari mengintai dari balik pepohonan lontar yang rapat di tepi Tuwa ( Hutan), melih...

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 5 - Transformasi di Hutan

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 4 - Neraka di Laut

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 3 - Serangan Subuh

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 2 - Awan Hitam

Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 1 - Kehidupan di Labu Pukat

Catuspata: Harmoni Kosmos dalam Denah Kota Mataram

Mengapa Membaca karena Kesenangan Lebih Penting daripada Membaca karena Kewajiban?

Dari 86 Kg ke 63 Kg! Transformasi Ekstrem Yayat yang Sempat Dikira Netizen Pakai Narkoboy!

Di Tengah Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat, Ke Sini Kita Harus Pulang untuk Menyelamatkan Jiwa

Selembut Biji Sawi: Mengapa Hal Kecil Ini Bisa Menghapus Seluruh Amal Kita?

Ketika Dunia Sibuk Rapat Iklim, Masyarakat Adat Bayan di Kaki Rinjani Sudah Berhasil Jaga 37 Mata Air Selama Berabad-abad

Seni Mengelola Dendam: Menang Tanpa Menyakiti, Tumbuh Tanpa Membenci!