Angin dari Selat Alas tidak pernah membawa aroma yang sama dua kali. Kadang ia membawa bau garam yang tajam, kadang aroma tanah basah yang baru saja disapa hujan, namun bagi Muhammad Saleh, angin itu selalu membawa aroma yang paling ia kenal: bau dedaunan lontar yang terbakar matahari dan wangi pucuk padi yang sedang merunduk manja di bulirnya. Labu Pukat, tahun 1688. Sebuah negeri yang seolah luput dari riuh rendah dunia. Di sini, waktu tidak diukur dengan dentang lonceng logam sebagaimana yang dikabarkan terjadi di negeri-negeri jauh di seberang samudra. Waktu di Labu Pukat diukur dengan gerak matahari yang menyapu puncak-puncak Olat (bukit/Gunung), dengan suara azan yang membelah senja dari masjid kayu yang tiang-tiangnya masih kokoh memeluk aroma kayu cendana. Saleh berdiri di tengah ladang. Punggungnya yang bidang basah oleh keringat. Di depannya, hamparan Pade Gutis, padi pilihan yang ikatan-ikatannya telah ia rapikan dengan jemari yang kasar namun telaten, berbaris menung...
- Get link
- X
- Other Apps