Ratusan tahun telah membasuh luka di tanah Labu Pukat. Jika hari ini seseorang berdiri di bibir pantainya, menatap garis cakrawala di mana dua belas kapal besar pernah memuntahkan api, ia tidak akan lagi mencium aroma mesiu. Yang ada hanyalah wangi laut yang memeluk daratan, dan desau pohon lontar yang kesepian karena hutan telah berubah menjadi kebun dan desa-desa nelayan, pohon lontar yang mungkin membisikkan doa-doa tentang masa lalu yang tidak pernah benar-benar mati. Di pusat desa, sebuah jangkar kayu yang ditemukan di tepi Pantai telah dibawa warga ke dalam desa, ia “disemayamkan” di sebuah bangunan khusus yang dibangun di halaman depan masjid sebelah kanan. Mereka tidak lagi tahu persis kapal siapa yang pernah memilikinya, apakah itu kapal Karaeng Pamolikang yang angkuh, atau kapal perompak lain yang hancur di tengah amukan sejarah 1688, namun bagi mereka, jangkar itu adalah kompas moral. Sebuah pengingat bahwa badai sedahsyat apa pun akan karam, tetapi ketabahan adalah dermag...
- Get link
- X
- Other Apps