Catatan Pendakian pertamaku ke Gunung Rinjani


Kawan, aku pernah mendaki Gunung Rinjani — dan itu adalah salah satu pengalaman terhebat dalam hidupku. Tulisan ini sebenarnya kutulis pada tahun 2009, jadi ini semacam catatan lama yang masih menyimpan semangat dan rasa kagum yang sama seperti dulu.

Apapun yang kudapatkan dari perjalanan itu, sudah sepatutnya kusyukuri. Terlebih jika mimpi kecilku akhirnya terwujud. Sungguh, tak ada alasan untuk tidak memuji kebesaran-Nya.

Awal Petualangan

Mimpi itu terwujud pada 1 Agustus 2009. Meski harus berdesak-desakan di atas atap engkel pedesaan bersama barang-barang penumpang, aku akhirnya tiba juga di Bayan — titik awal menuju puncak tertinggi di Pulau Lombok.
Rasa mual karena jalanan berliku di Pusuk dan Tanjung tak lagi kupedulikan. Angin dingin menampar wajahku, tapi hati ini justru hangat: petualangan impianku baru saja dimulai.

Menjelang maghrib, engkel berhenti di depan rumah Pak Yamin, kepala SMAN 1 Bayan yang ternyata teman Ahwan — sahabatku. Kami sholat berjamaah di berugak halaman rumah yang dipenuhi bonsai unik.
Sebenarnya, tujuan kami bukan rumah Pak Yamin, tapi karena itu engkel terakhir sore itu, kami menginap di situ. Tak lama, Rahmat, Yuni, dan Swardi datang menjemput kami. Mereka sudah berangkat lebih dulu dengan motor.

Hari Pertama Pendakian

2 Agustus 2009. Semua perlengkapan sudah kupacking rapi sesuai teknik yang kupelajari saat diklat Pramuka tahun 2006.
Pukul 08.30 pagi, kami berenam — aku, Ahwan, Swardi, Erwin, Asri, Yuni, dan Emi — memulai langkah pertama di gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani. Dengan perasaan campur aduk antara senang dan deg-degan, aku mengucapkan basmalah, membuka perjalanan menuju puncak impian.

Awal medan cukup mudah, melewati kebun dan ladang warga. Satu jam kemudian kami tiba di Jebag Gawah (pintu hutan), tempat istirahat pertama para pendaki. Hari itu ramai sekali, banyak juga pendaki asing.

Perjalanan menuju Pos I (1.165 mdpl) terasa menyenangkan. Kami banyak bercanda, tertawa, hingga tak terasa sudah tiba di “Pos Extra” tepat pukul 1 siang. Di sini aku melakukan tayammum — mengingat tak ada sumber air di ketinggian ini.
Ternyata benar, pengalaman memang guru terbaik. Kalau tidak mendaki, mungkin aku sudah lupa tata cara tayammum dan bersuci tanpa air yang kupelajari di SD dulu.


Perjuangan di Jalur Menanjak

Dua jam kemudian kami tiba di Pos II. Teman-teman perempuan mulai mengeluh pegal, aku juga, tapi tak ingin terlihat lemah. Air mulai menipis, jadi kuhemat betul. Di atas ketinggian ini, air jadi barang mewah. Untung saja di sepanjang jalan tumbuh banyak roseberry liar yang asam manis — cukup untuk mengganjal haus dan lapar.

Malam datang. Dalam kabut tebal, akhirnya kami tiba di Pos III. Dua shelter beratap seng terlihat samar dalam gelap. Dengan tubuh lelah, kami segera mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam.

Malam itu kami makan malam sederhana. Aku mencoba membuat sambal, dan meski rasanya entah bagaimana, semua teman memakannya dengan lahap. Untuk ukuran koki gunung, bolehlah aku dapat nilai tujuh. 😄


Menuju Cemara Lima

Pagi tiba. Setelah subuh, aku dan Erwin kembali menarik sleeping bag, terlalu dingin untuk keluar.
Sekitar pukul 09.30 kami lanjut berjalan menuju Cemara Lima, tempat istirahat berikutnya. Perjalanan empat jam penuh pemandangan menakjubkan: hamparan Edelweiss dan langit biru bersih yang membuatku ingin berhenti lama dan berbaring di rerumputan.

Setiap langkah seperti hadiah. Kamera digital pinjaman dari teman kos terus kupakai memotret setiap keindahan yang kulihat. Sesampainya di Cemara Lima, kami sholat Zuhur dan beristirahat sambil menyapa para pendaki asing yang tersenyum ramah.

Saat itu pendakian ke Danau Segara Anak dan puncak Rinjani ditutup karena Gunung Baru Jari sedang aktif. Awalnya aku kecewa karena tak bisa mancing di danau legendaris itu — katanya siapa pun yang memancing di sana pasti dapat ikan besar. Tapi akhirnya aku pasrah. Cukuplah sampai Pelawangan untuk kali ini.


Di Pelawangan: Mimpi yang Jadi Nyata

Pukul 15.04 sore, aku tiba di Pelawangan. Dari sana terlihat jelas danau berwarna hijau kehijauan dengan Gunung Baru Jari yang sedang mengeluarkan asap di tengahnya.
Di sebelah timur berdiri gagah Puncak Rinjani. Hati ini bergetar. Aku tak bisa berhenti mengucap takbir. Mimpi kecilku kini nyata di depan mata.

Aku duduk di lereng barat, menatap matahari sore yang perlahan tenggelam di balik bukit, menulis pengalaman ini di buku harian. Di hadapanku, lahar menyembur dari perut bumi.
Saat itu aku tahu — aku sedang menyaksikan salah satu momen paling berharga dalam hidupku.

“Tak akan kulupa, Rinjani.
Di sinilah mimpi kecilku menjadi nyata.”

Drama Turun Gunung

Di perjalanan kami lebih banyak diam dan jalannya berjarak cukup jauh karena rasa lelah dan bosan pada perjalanan. Aku pun demikian. Aku ingat pesan Supni temanku anak mapala yang sudah sering mendaki. Salah satu pesannya adalah 

"Ji, nanti simpan satu botol air sama makanan di dasar cariermu selama pendakian jangan sentuh. Itu adalah stok darurat. Kalau keadaan sudah benar-benar darurat barulah kamu keluarkan" lebih kurang seperti itu kata-katanya. Aku sih sebagai pemula manut aja. Lalu nasehat berikutnya dari Supnie; 

"Kalau nanti ada temanmu yang mulai suka marah-marah dan ngajak debat, itu biasanya karena udah mulai capek dan bosan. Kamu jangan terpancing untuk meladeni, menjawab atau ikut debat. Iya iyain aja, atau diam aja. Karena itu akan bikin capek dan bisa jadi masalah" 

Masuk akal juga nasehatnya. Ya udah aku oke aja dan kuingat terus itu.

Benar saja, ketika di perjalan turun ke pos II persedian makanan dan air teman-temanku mulai habis. Kami beristirahat di shelter pos II, dengan pelan-pelan ku keluarkan roti yang cukup untuk kami semua dan sebotol air mineral ukuran besar agar mereka bisa kembali bertenaga. Tapi tiba-tiba Ahwan malah ngamuk. 

"Oo gitu ya kamu. Teman-temanmu sudah mau mati kehausan dan kelaparan, ternyata dari tadi kamu masih punya stok air dan makanan"

Astaga aku kaget. Dia benar-bernar marah. Ya aku berusaha gak terpancing seperti kata Supnie. AKu tarik nafas dan bilang dengan pelan "ini kan aku keluarin buat kalian, kan.." Ahwan masih terus dongkol tapi makan juga wkkwwkw.

Ya begitulah.... Ada yang pernah bilang :

“Kalau ingin tahu sifat asli seseorang, ajaklah dia mendaki. Beberapa malam di gunung akan menyingkap siapa dirinya yang sebenarnya.”

Dan benar saja, selama pendakian ini aku jadi mengenal sifat-sifat teman-temanku yang hampir tidak pernah terlihat ketika hari-hari biasa. ketika perjalanan balik, di Pos III dan pos II aku sudah bisa merangkum semua sifat asli teman-temanku ketika lelah mulai memuncak — termasuk diriku sendiri.

  • Ahwan, pemimpin kami, sedikit angkuh, jutek, tapi baik banget dan berpengalaman.
  • Swardi, tangguh dan bertanggung jawab, tapi keras kepala.
  • Erwin, paling sabar, tak pernah mengeluh meski memikul barang lebih berat, gak banyak omong.
  • Asri, awalnya manja tapi akhirnya kuat dan bersemangat dan seru
  • Yuni, manja dan dramatis, tapi tetap lucu dengan keluhannya.
  • Emi, pendiam tapi bijak dan penuh pertimbangan, adem anaknya
  • Dan aku, kata Ahwan, egois tapi semangat dan bertanggung jawab. asekk

Comments