Apapun yang kudapatkan dari perjalanan itu, sudah sepatutnya kusyukuri. Terlebih jika mimpi kecilku akhirnya terwujud. Sungguh, tak ada alasan untuk tidak memuji kebesaran-Nya.
Awal Petualangan
Hari Pertama Pendakian
Awal medan cukup mudah, melewati kebun dan ladang warga. Satu jam kemudian kami tiba di Jebag Gawah (pintu hutan), tempat istirahat pertama para pendaki. Hari itu ramai sekali, banyak juga pendaki asing.
Perjuangan di Jalur Menanjak
Malam datang. Dalam kabut tebal, akhirnya kami tiba di Pos III. Dua shelter beratap seng terlihat samar dalam gelap. Dengan tubuh lelah, kami segera mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam.
Malam itu kami makan malam sederhana. Aku mencoba membuat sambal, dan meski rasanya entah bagaimana, semua teman memakannya dengan lahap. Untuk ukuran koki gunung, bolehlah aku dapat nilai tujuh. 😄
Menuju Cemara Lima
Setiap langkah seperti hadiah. Kamera digital pinjaman dari teman kos terus kupakai memotret setiap keindahan yang kulihat. Sesampainya di Cemara Lima, kami sholat Zuhur dan beristirahat sambil menyapa para pendaki asing yang tersenyum ramah.
Saat itu pendakian ke Danau Segara Anak dan puncak Rinjani ditutup karena Gunung Baru Jari sedang aktif. Awalnya aku kecewa karena tak bisa mancing di danau legendaris itu — katanya siapa pun yang memancing di sana pasti dapat ikan besar. Tapi akhirnya aku pasrah. Cukuplah sampai Pelawangan untuk kali ini.
Di Pelawangan: Mimpi yang Jadi Nyata
“Tak akan kulupa, Rinjani.Di sinilah mimpi kecilku menjadi nyata.”
Drama Turun Gunung
Di perjalanan kami lebih banyak diam dan jalannya berjarak cukup jauh karena rasa lelah dan bosan pada perjalanan. Aku pun demikian. Aku ingat pesan Supni temanku anak mapala yang sudah sering mendaki. Salah satu pesannya adalah
"Ji, nanti simpan satu botol air sama makanan di dasar cariermu selama pendakian jangan sentuh. Itu adalah stok darurat. Kalau keadaan sudah benar-benar darurat barulah kamu keluarkan" lebih kurang seperti itu kata-katanya. Aku sih sebagai pemula manut aja. Lalu nasehat berikutnya dari Supnie;
"Kalau nanti ada temanmu yang mulai suka marah-marah dan ngajak debat, itu biasanya karena udah mulai capek dan bosan. Kamu jangan terpancing untuk meladeni, menjawab atau ikut debat. Iya iyain aja, atau diam aja. Karena itu akan bikin capek dan bisa jadi masalah"
Masuk akal juga nasehatnya. Ya udah aku oke aja dan kuingat terus itu.
Benar saja, ketika di perjalan turun ke pos II persedian makanan dan air teman-temanku mulai habis. Kami beristirahat di shelter pos II, dengan pelan-pelan ku keluarkan roti yang cukup untuk kami semua dan sebotol air mineral ukuran besar agar mereka bisa kembali bertenaga. Tapi tiba-tiba Ahwan malah ngamuk.
"Oo gitu ya kamu. Teman-temanmu sudah mau mati kehausan dan kelaparan, ternyata dari tadi kamu masih punya stok air dan makanan"
Astaga aku kaget. Dia benar-bernar marah. Ya aku berusaha gak terpancing seperti kata Supnie. AKu tarik nafas dan bilang dengan pelan "ini kan aku keluarin buat kalian, kan.." Ahwan masih terus dongkol tapi makan juga wkkwwkw.
Ya begitulah.... Ada yang pernah bilang :
“Kalau ingin tahu sifat asli seseorang, ajaklah dia mendaki. Beberapa malam di gunung akan menyingkap siapa dirinya yang sebenarnya.”
Dan benar saja, selama pendakian ini aku jadi mengenal sifat-sifat teman-temanku yang hampir tidak pernah terlihat ketika hari-hari biasa. ketika perjalanan balik, di Pos III dan pos II aku sudah bisa merangkum semua sifat asli teman-temanku ketika lelah mulai memuncak — termasuk diriku sendiri.
- Ahwan, pemimpin kami, sedikit angkuh, jutek, tapi baik banget dan berpengalaman.
- Swardi, tangguh dan bertanggung jawab, tapi keras kepala.
- Erwin, paling sabar, tak pernah mengeluh meski memikul barang lebih berat, gak banyak omong.
- Asri, awalnya manja tapi akhirnya kuat dan bersemangat dan seru
- Yuni, manja dan dramatis, tapi tetap lucu dengan keluhannya.
- Emi, pendiam tapi bijak dan penuh pertimbangan, adem anaknya
- Dan aku, kata Ahwan, egois tapi semangat dan bertanggung jawab. asekk




Comments
Post a Comment