Mimpi. Ku pikir semua anak di dunia ini memiliki mimpi untuk hidupnya
masing-masing. Mimpi-mimpi lugu yang indah dan lucu. Seperti anak-anak
lain, sejak kecil aku punya banyak mimpi. Suatu saat aku punya cita-cita
ingin menjadi seorang dokter. Maka aku akan sangat menyenangi hal-hal
yang berbau medis dan hal-hal yang dilakukan oleh dokter. Walau hanya
bisa mengikuti cara berpakaian dokter dan punya stetoskop mainan aku
girang bukan kepalang. Tapi mimpi jadi dokter harus ku hapus sejak
sepupuku Shanty tiba-tiba jatuh dan tepat di garis nadinya tergores paku
pagar depan rumah. Malam itu aku menemani bapaknya membawa Shanty ke
Puskesmas kampungku. Listrik Mati, gelap mencekam di ruangan Puskemas
kecil itu. Aku di mintai tolong memegang lilin oleh pak Mantri Tabrani
yang sudah mulai menangani luka yang bahaya itu. Darahnya belum juga mau
berhenti mengalir. Aku mulai merasa ada yang aneh, kepalaku pusing,
mual menyerang perutku dan sesaat sebelum akhirnya aku pingsan tak
sadarkan diri aku sempat memberikan lilin itu pada pak Mantri yang
kebingungan.
Beberapa saat kemudian aku membuka
mata,menerka-nerka apa yang terjadi dan dimana aku saat itu. Aku kaget
saat sadar bahwa ini bukan ruangan kamarku atau ruangan keluarga rumah
Kakekku tempat dimana aku sering ketiduran saat menonton TV. Kemudian
yang lebih mengagetkan lagi, Pamanku –bapaknya Shanty- tertidur
pulas di sampingku. Apa yang terjadi? Sambil berusaha mengumpulkan
kembali kekuatan aku bangun dan di sana, di sisi lain kamar Puskesmas
ini Pak Mantri sedang susah payah menjahit luka nadi sepupuku.
Mengertilah aku apa yang telah terjadi. Aku –dan juga pamanku-
pingsan karena terlalu pusing melihat darah segar yang begitu banyak
mengalir dari tangan sepupuku itu. Aku mendekati pak Mantri, ku tawarkan
bantuan memegang kembali Lilin itu namun kali ini sambil membelakangi
beliau yangs sedang berusaha menangani tangan Shanty. Tak gampang
ternyata menjadi Dokter. Apalagi di kampung kecilku yang kala itu belum
ramai dan memadai. Saat itu juga ku hapus keinginanku untuk menjadi
dokter dan satu kenyataan yang akhirnya kusadari. Aku dan beberapa orang
dalam keluargaku phobia melihat darah manusia. Pantas saja tak ada satu orangpun dalam garis keturunan moyangku yang menjadi Dokter.
Setelah
tragedi berdarah itu. Selain menjauhi pagar bambu depan rumah aku juga
merombak mimpi kecilku. Kali ini aku ingin jadi penyanyi, lalu menjadi
aktor, dan selebritis. Ku tuliskan dalam buku harian kecilku hadiah dari
Kak Neneng yang saat itu mondok di sebuah pesantren di Lombok. Merasa
mantab saja rasanya menjadi penyanyi. Suaraku bagus, itu kata ibuku dan
beberapa tetangga saat aku didaulat bernyayi di acara ulang tahunnya
Adit. Padahal aku adalah anak paling pemalu dan dikenal sangat irit
bicara. Tapi aku punya dunia sendiri. Dunia khayal. Aku merangkai
mimpiku sendiri, berimajinasi sendiri semauku. Kadang aku bermimpi ikut
sebuah audisi di Jakarta, dalam khayalan itu aku akan menumpang tidur
beberapa waktu di rumah sepupuku Abang Eful yang kuliah di UI. Lalu
minta di antar auidisi, kemudian juri terperangah mendengar suara
emasku, kemudian dengan antusias dan seolah menenemukan seorang bintang
dia akan berkata bahwa akulah yang selama ini dicarinya. Sang superstar
cilik. Aku bahagia bukan kepalang. Senyum-senyum sendiri dan… terbangun
dari khayal saat Emak berteriak lantang.
“Chu*.. Waktunya pergi Mengaji!” atau “Chu… belajar!!” atau teriakan ini “Chu.. Tidur siang!”
Ah..selamat tinggal sementara dunia mimpiku.
***
Aku
mulai beranjak besar. Sebentar lagi aku akan tamat SD. Biasa saja
menurutku. Tak ada yang istimewa. Dimana saja aku berada, sepintar
apapun aku. Tak pernah ada yang membuatku senang. Tak pernah ada yang
menghargaiku. Kecuali mimpi-mimpiku. Di sekolah siapa yang tak kenal
aku yang selalu juara satu. Anak yang hasil ulangannya tak pernah
delapan ke bawah. Di kampungku siapa yang tak tahu aku juara di sekolah.
Beberapa orang tua temanku acap kali bertanya kepada Bapak dan Emak apa
dan bagaimana cara mereka mendidikku hingga bisa selalu juara dan ku
dengar emak selalu berkata cuma di suruh belajar saja dan tidak
dibolehkan bermain dengan si Anu, si Ini, si Itu yang nakal. Pengaruh
tak baik kata Emak. Orang tua temanku manggut-manggut takzim. Aku hanya
memandang hampa dari jauh. Lalu menulis lagi di buku harianku.
Aku. Anak pintar yang merasa tak bisa apa-apa. Mimpiku begitu indah dan tinggi tapi aku telah melupakan –tepatnya kehilangan-
satu hal. Percaya diri. Apa yang salah? aku tak tahu. Saat
teman-temanku dengan riang gembira berlari-lari mengikuti arak-arakan
pengantin, Aku harus tetap berada di dalam rumah. Hari minggu, saat
teman-temanku ke kampung sebelah untuk menonton serial Wiro Sableng di
Rumah pak Hamid. Aku hanya bisa diam di teras rumah dengan buku
bacaanku. Bukan komik atau majalah Bobo. Emak bilang mereka anak-anak
nakal. Tak boleh aku ikut dengan mereka karena nanti aku akan menjadi
nakal seperti mereka. Kalau aku nakal nilaiku di sekolah pastilah jelek.
Namun tak jarang aku melanggar kata-kata Emak. Dengan berani aku ikut
bersama teman-temanku menonton ke kampung sebelah, memancing belut,
bermain perang-perangan Serpok* di Kebun Deapapin*,
atau mandi di sungai. Tapi tak jarang pula aku main kejar-kejaran dengan
Emak yang berujung aku di cubit. Sakitnya minta ampun! Maka butuh
keberanian ekstra untuk mengulangi kejahatan itu lagi. Tapi aku
lebih memilih patuh. Emak bilang anak yang melanggar orang tua itu
namanya durhaka. Seperti Malin Kundang atau Si Kantan yang sering di
ceritakan ibu sebelum aku tertidur sambil memeluk beliau dengan perasaan
cemas dan niat tak akan pernah durhaka.
***
Mimpi
terakhirku yang juga harus kandas menjelang lulus SD adalah sekolah di
pesantren. Rencana telah ku atur dalam khayalanku. Sematang-matangnya
meski itu hanya versiku. Tadinya bapak dan Emak mengijinkan dan
mendukung. Tapi kali ini Kakek menghalangi. Aku terlalu kecil katanya.
Nantilah kalau sudah tamat SMP aku boleh Sekolah jauh drai keluarga. Aku
menangis kawan, sehari semalam aku menangis dalam diam. Kecewa yang
pertama kali ku alami dalam hidupku. Tapi tak ada yang tahu kekecewaan
itu begitu membuatku dendam. Aku dendam pada orang tuaku sendiri
sekaligus menyayangi mereka dengan rasa takut akan durhaka. Aku dendam
pada orang-orang kampungku yang selalu meremehkanku. Rasanya sia-sia
perjuanganku belajar untuk juara setiap waktu. Tak ada pengaruhnya buat
teman-temanku aku menjadi anak yang baik, patuh dan pintar. Mereka malah
menyebutku culun, dan yang pedas sekali di telingaku : Banci!.
Di
SMP aku tak lagi punya mimpi. Hari-hariku begitu berat. Hanya guru-guru
yang mengajarku yang sesekali memujiku yang selalu juara dan tidak
termasuk nakal sama sekali. Padahal aku khawatir sekali dengan kata “tidak nakal”
itu. Menurut buku Penjaskes kelas 5 SD yang ku baca sewaktu kelas 6 SD
dulu. Anak yang pasif dan terlihat tidakk nakal itu justru masalah.
Akibat paling fatal dari anak-anak yang pasif adalah MADESU alias Masa
Depan Suram. Oh Tuhan… Aku tak mau itu terjadi. Tapi apa yang harus aku
lakukan? Semua orang meremehkanku dalam pergaulan, menganggapku hanya
bahan olokan karena lebih suka mengisi majalah dinding dari pada bermain
bola, karena aku lebih senang mendengar curhatan teman-teman
cewekku daripada ikut anak-anak itu diam-diam merokok di belakang
sekolah. Bahkan aku khawatir pada diriku. Aku. Anak sekecil itu,
khawatir akan perkembangan psikologiku sendiri. Buku paket Penjaskes
kelas 5 itu benar-benar mengusikku. Aku harus berubah, pikirku. Aku
harus menjadi lelaki sejati yang “nakal” dan pintar tentu saja. Aku akan buktikan pada mereka aku pantas dianggap sebagai teman mereka yang gaul. Aku tak butuh mimpi menjadi Dokter atau Selebritis lagi. Saat ini mimpi terbesarku adalah menjadi anak yang gaul, pintar dan punya banyak teman. Mimpi yang bagi kebanyakan orang begitu sederhana. Allah mendengar mimpi itu. Aku yakin!.
***
Misi
pertama, aku memberanikan diri mendaftar menjadi anggota Pramuka di
SMP-ku. Selain Kak Hamdan dan Kak Rayi, semuanya masih saja
meremehkanku. Menganggapku bencong! Hanya karena aku tak bisa merokok,
tidak nakal dan selalu bicara sopan. Ah seandainya mereka tahu potensi
yang kumiliki, batinku. Di Pramuka pelan-pelan aku mulai menemukan “jalan”
untuk menuju mimpiku. Aku menjadi kebanggaan kakak-kakak seniorku. Aku
menjadi utusan Gugus Depan untuk ke Jambore Nasional setelah proses yang
melelahkan tentu saja, namun sayang aku sudah kelas 3 saat itu. Tak
diijinkan oleh sekolah. Aku kecewa tapi tak parah. Aku tetap kebanggaan.
Masa-masa SMP lewat sudah. Aku menagih janji Kakek untuk memilih sekolah mana yang akan menjadi “tempat gaul”
baruku. Alhamdulillah kakek menepati janjinya. Aku memilih SMA 2.
Sekolah favorit di kota Sumbawa yang ku tahu pasti anak-anak kampung itu
tak ada yang bisa masuk sekolah keren ini. Lihatlah kawan, aku memulai
hidup baruku. Aku mengalami De Javu disini. Aku sudah membuang
semua masa lalu suram itu saat aku memasuki gerbang megah sekolah ini.
Tak ada lagi aku yang minder dan pemalu. Aku berubah atau tepatnya
berusaha menciptakan image baru disini. Toh, tak ada satu
orangpun yang mengenalku sebelumnya. Ku ikuti beberapa organisasi
terkenal di sekolah tak lupa Majalah Dinding yang membuatku terkenal
saat itu. Genk-ku adalah genk yang cukup populeri di sekolah, bukan karena nakal tapi karena prestasi dan Alhamdulillah
karena tampang juga. Begitu indah hidup saat semua orang mengakui
eksistensi kita. Tuhan telah membuatku kebal pada cercaan dan menjawab
doa-doaku. Mimpiku dikabulkan-Nya setelah aku ditempa dengan duka yang
ganas dan nyaris membuatku benar-benar jatuh. Hanya kesabaran yang
membuatku sampai disini. Di titik terindah masa remajaku. Aku menangis
haru membayangkan perjuanganku melawan tekanan jiwa itu. Tapi sudahlah,
sebuah pelajaran berharga telah ku kantongi untuk mengarungi hidup
kedepan.
Tahun 2005 aku lulus SMA lalu kuliah di
Universitas Mataram Fakultas Ilmu Pendidikan dan berpisah jarak dengan
sahabat-sahabat dan guru-guru yang menyayangi dan ku sayangi. Tapi
sampai detik ini dalam hatiku mereka dekat. Pelajaran berharga itu
adalah sahabat. Sahabat yang memberi rasa percaya diri untuk meraih
mimpi. Sahabat dan keluarga adalah motivasi untuk menjadi “orang” dalam hidup ini. Maka hargailah keduanya.
Mataram, 17 Maret 2011. 04.51 am
__________________________________________________________
Catatan :
*Chu : Panggilan kecil penulis.
*Serpok : Permainan Perang-perangan senjata dari bambu kecil dengan peluru kertas basah
*Deapapin : Sebutan untuk kakek yang sudah naik Haji.(bhs, Sumbawa)
............
sebuah mimpi meskipun sederhana tetap saja baik...daripada tidak punya mimpi sama sekali
ReplyDeletesepakat!
ReplyDeletemakasi sudah berkunjung n berkomentar..:)
salam kenal.