5 April 2011, Daeng Muhammad
Abdurrahman Kaharuddin dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa XVII. Ribuan
orang memadati jalan-jalan dan Istana tua Bala Kuning di kota kami.
Selama ini, kami, anak-anak muda di daerah ini hanya tahu, di gedung tua
itu tersimpan benda-benda keramat. Apapula artinya bagi kehidupan zaman
sekarang dimana tak seorangpun bisa lepas dari benda-benda tekhnologi?
Sultan diarak dari Istana Bala Kuning, bersama permaisuri menggunakan tandu dengan hiasan warna kuning,
yang disebut Juli. Sejak pagi hari, lonceng di istana sudah berdentang,
menandai mulainya prosesi adat. Sultan dan permaisuri, Andi Tenri
Djadjah Burhanuddin diarak sambil diiringi pasukan bertombak dan
hulubalang istana, dengan musik rebana khas Sumbawa. Bersama permaisuri
Sultan keluar istana Bala Kuning dengan bacaan Shalawat Nabi Muhammad
SAW.
Ribuan warga memadati dua sisi
Jl Dr Wahidin dan Jl Sudirman, jalan protokol yang dilalui rombongan
sultan. Rombongan bergerak dari Istana Bala Kuning menuju Istana Dalam
Loka, istana kayu milik Kesultanan Sumbawa yang dibuat tahun 1885 silam.
Di istana tua itu, Sultan dan Permisuri istirahat sejenak, sebelum
menuju Masjid Agung Nurul Huda, tempat penobatan berlangsung. Di Masjid
Agung, penobatan sultan tidak dilakukan dengan pengambilan sumpah,
melainkan Sultan membacakan sumpahnya sendiri dengan bahasa Arab
disaksikan Imam Masjid Agung. Sultan bersumpah sebagai orang yang
ditakdirkan sebagai Sultan. Isinya antara lain kalau Sultan tidak adil
maka dirinya akan dilaknati Al Quran 30 Juz. Usai sumpah itu, Sultan
selanjutnya melantik pengurus Tana Adat Samawa.
Selain oleh masyarakat, upacara
penobatan dihadiri beberapa raja, diantaranya Raja Denpasar IX, Raja Niki Niki, Timor Tengah Selatan, NTT, Raja Gowa, Sulawesi Selatan, dan
juga Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Kesultanan Ngayogyakarta. Gubernur NTB, M Zainul Majdi bersama pejabat Pemprov dan Pemkab Sumbawa dan
Sumbawa Barat juga hadir di arena penobatan.
Penobatan Sultan yang merupakan
pertama sejak 80 tahun lalu itu bagi sebagian besar kami anak-anak muda,
prosesi itu memang tidak lebih sebagai karnaval budaya. Harusnya Sultan
naik tahta pada 1975 silam, sesaat setelah ayahnya Sultan Muhammad
Kaharuddin III mangkat. Namun penobatan sultan waktu itu diputuskan
ditunda. Kamipun lantas bertanya-tanya, apa pula urgensinya, penobatan
seorang Raja atau Sultan di zaman seperti ini, zaman dimana seorang
kepala Negara sekalipun sering dicaci dan dimaki karena dianggap tidak
becus mengelola dan mempertahankan kedaulatan Negara? Zaman, dimana
globalisasi telah membuka tabir rahasia paling rahasia. Segala sekat
tersingkap, dan manusia di seluruh dunia, seperti hidup di dalam sebuah
kampong yang sangat kecil. Bukankah penobatan itu sendiri tak lebih dari
sebuah sandiwara yang digelar secara kolosal? Bisa saja anda berfikir
seperti itu. Tetapi cobalah tengok kembali sejarah kami. Sejarah yang
tak pernah berhenti menyusun diri, meski beberapa kali mengalami
pembungkaman dan pemberangusan oleh sebab-sebab alamiah atau penguasaan
bangsa lain. Selama itu pulalah kami terus tiarap, seperti menunggu
untuk menyusun lembaran sejarah baru kami.
Tetapi zaman terus bergerak.
Seiring dengan perkembangannya, system kerajaan justru dianggap
ketinggalan zaman, feudal, penuh kepalsuan dan lekat dengan penindasan.
Sebab siapa pula yang mengangkat dirinya seorang raja dan menganggap
dirinya lebih dari manusia lain? Begitulah zaman demokrasi ini
menyebutnya, meski sejatinya sama saja. Demokrasi, ternyata juga tak
seperti yang dibayangkan orang. Ia hanya milik mereka-mereka yang
memiliki modal besar. Demokrasi menjadi mata rantai penindasan baru,
dimana Negara-negara yang merasa lebih maju mengendalikan dan memaksakan
keinginannya pada Negara-negara kecil. Globalisasi, senyatanya juga
hanya kedok “penyeragaman” nalar dan pemaksaan sebuah komoditas budaya
pada budaya-budaya yang telah ringkih.
5 April 2011, memang layak disebut sebagai hari paling bersejarah bagi kami, masyarakat Sumbawa. Bukan saja karena dihari itu dilakukan penobatan Sultan setelah 36 tahun tertunda. Pada hari itulah kami sebagai masyarakat Sumbawa merasa harga diri, pengakuan, dan kehendak untuk berdiri tegak dan sejajar dengan masyarakat lain dibumi Nusantara dan diseluruh dunia sepertinya terwujud.
Prosesi penobatan sultan itu sendiri hanyalah sebuah momentum dimana
kami memaknai kembali sejarah kami; sebuah peneguhan, kedaulatan dan
harga diri sebagai sebuah masyarakat yang memiliki akar, cita-cita serta
kehormatan.
[Source : senimana dot com by Tessar Dhana Gelora & Paox Iben]



Blogwalking from indonesia
ReplyDeletethanks mbak...
ReplyDeleteThanks udah mampir mas..
ReplyDeleteTerima kasih kawan, kita saling berbagi... dgn senang hati silahkan share artikel di web kami www.senimana.com sebanyak2nya. Kita saling berbagi ilmu untuk kemanusiaan. Salam !
ReplyDelete