"Aku tak ingin lenyap walau telah hilang, aku tak mau mati walau telah terkubur, aku tak akan redup walau lampu lampu pentas padam, aku tak akan berhenti menari dan bermelodi walau layar panggung ini diturunkan, aku tak mungkin senyap walau suara suara dibungkamkan, aku ingin hidup seribu satu tahun lagi untuk kebudayaan, aku adalah ruh dalam jiwa-jiwa, jika pun aku pergi, kehidupan ada di mana-mana..! Salam" (Bunda Bening)
Puisi itu di deklamasikan begitu lantang dan menyentuh jiwa maka kelar sudah perhelatan akbar Festival Budaya Sumbawa 2011 : Samawa Intan Bulaeng. Berakhir dengan decak kagum para penonton, senyum puas para pelakon, dan dada kembang kempis bangga Tau Samawa. Acara yang digelar selama 5 hari (4-8 Mei) ini sukses mempersembahkan sekaligus membuktikan eksistensi kebudayaan Tana' Samawa yang gilang gemilang dan kaya.
Bolehlah kiranya aku sebagai salah satu bagian dari pelakon acara ini mengucapkan rasa bangga dan haruku. Bangga karena meski tak begitu banyak mendapat peran, paling tidak pernah berada di panggung megah yang menoreh sejarah baru Sumbawa itu dan terharu, tepatnya bahagia melihat Tana' Sumbawa-ku di elu-elukan keberagaman adat dan budayanya.
Bintang-bintang yang menari di bawah bianglala, mereka bekerja keras untuk kesuksesan acara ini. Kak Joe Think dengan ide briliant dan kesabaranya membimbing para pelakon, Kak Ivan yang cerdas, yang merancang kostum-kostum penuh warna dan elegan tanpa meninggalkan ciri khas Sumbawa. Aku bangga pada mereka. Juga Pada BUnda Bening yang KIAK (Semangat) mewujudkan acara ini bersama Bapak Badrul Munir (Wagub NTB) sebagai penggagas. Seorang pemimpin yang tak lupa pada budaya, seorang pemimpin yang mencintai budaya.
Tak banyak yang bisa ku tulis, secara pribadi memang ada hal-hal yang sedikit membuat kecewa tapi itu sama sekali tak perlu untukku bahas dan di permasalahkan. Aku terlanjur bangga dan bahagia untuk FBS, KIAK g-Art dan Sumbawa-ku!
Berikut ini 5 Hal yang menjadi Alasan Hebatnya Festival BUdaya Sumbawa 2011 :
1. Panggung yang luas dengan tata lampu dan dekorasi yang apik.
2. Musik pengiring yang luar biasa. Memadukan musik etnik dan modern, syahdu, menghentak menyemangati.
3. Kostum penari dan pemusik yang elegan, penuh warna, berciri khas sumbawa (Motif Bunga Eja, Lonto Engal, Cadar dll)
4. Penari-penari yang cantik molek dan tampan berwibawa dan penuh senyum semangat.
5. Team building yang kokoh dan kompak, meski pada awalnya para penari adalah mahasiswa-mahasiswa Sumbawa yang berada di Mataram yang sebagian besar sebelumnya tak saling mengenal.
Dewa Mas Mawa Sultan Kaharudin IV
yang diminta memberi sambutan juga menyatakan bahwa event ini “Sungguh
Cemerlang”, karena tidak saja memperkenalkan budaya Samawa, tetapi juga
memiliki nilai penting sebagai medan pemaknaan kehidupan menghadapi era
global. Sultan Sumbawa ke 17 tersebut mengatakan,” Sikap budaya itu
seperti parasut, akan berfungsi jika sudah terbuka. Karena itu hakekat
dari kebudayaan adalah pola pikir dan pola sikap kita yang respektif
terhadap kebaruan tanpa meninggalkan khazanah yang kita miliki,”
ungkapnya.
“Tak lupa saya sebagai pribadi, juga mewakili masyarakat
Sumbawa mengucapkan terimakasih yang sangat mendalam kepada masyarakat
kota mataram khususnya yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini,
kepada para pejabat daerah, juga para pengisi acara dan seluruh
panitia,” kata Sultan menutup sambutannya.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini memang
tidak hanya menampilkan pentas atau atraksi kesenian saja. Tetapi juga
diisi dengan berbagai rangakaian acara, seperti lomba lukis dan mewarnai
untuk anak-anak, loba memasak, dialog budaya dan aneka rupa pameran
industry kerajinan khas Sumbawa serta pameran foto Sumbawa tempo dulu
hingga kini.
Dalam kegiatan mala mini juga dibacakan Deklarasi Budaya Sumbawa
yang intinya bahwa dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur
tradisi, masyarakat Sumbawa khususnya, berikhtiar untuk memajukan
seni-budaya serta menjalin silaturrahmi budaya, mempererat tali
persaudaraan serta bersama-sama meraih kemajuan bagi daerah hingga ke
pentas nasional dan internasional.(senimana.com)
FBS 2011, PENGHARGAAN BAGI MEREKA YANG BERJASA
Malam penutupan FBS 2011 ini menjadi terasa sangat
istimewa dengan diserahkannya anugerah budaya, atau penghargaan kepada
para seniman dan budayawan yang telah berdedikasi untuk memajukan budaya
Sumbawa dari Gubernur Nusa Tenggara Barat. Penghargaan tersebut
disampaikan kepada 7 orang seniman dan budayawan, diantaranya; H.
Mustaqim Biawan, Mantan kepala Taman budaya NTB atas jasa-jasanya.
Bahkan dimasa pension, budayawan senior itu masih aktif menjadi
pembicara seni-budaya didaerah maupun ditingkat nasional juga
menciptakan lagu-lagu yang menjadi mars kab. Sumbawa Barat serta
beberapa lagunya dijadikan nada sambung bekerja sama dengan Telkomsel.
Peraih penghargaan berikutnya adalah H. Dinullah Rayes,
sastrawan senior yang karyanya dapat dijumpai dalam berbagai antologi
bersama maupun antologi tunggal. Perannya sebagai budayawan Sumbawa
cukup besar terutama dalam memajukan Lembaga Adat Tana Samawa.
Penghargaan lainnya juga diberikan kepada H. Machmud M, Drs. A. Gani
Selim, Nurhayati K, Spd, Alm. Bujir DM, dan Hasanudin, SPd.
Pemberian penghargaan ini merupakan wujud apresiasi yang
mendalam dari pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan
seni-budaya di Nusa Tenggara Barat. Dengan penghargaan ini akan
memberikan beberapa dampak seperti ketauladanan bagi generasi muda untuk
terus berkarya demi kemajuan daerah. Wagub NTB secara khusus menyatakan
bahwa penghargaan serupa akan diberikan setiap tahunnya bukan hanya
untuk para senior, tetapi semua kalangan, termasuk generasi muda yang
memiliki inovasi-inovasi dalam berkarya dan mampu menciptakan dampak
yang positif bagi daerah NTB.(senimana.com)
PAGELARAN YANG MERIAH
Seusai sambutan-sambutan dan pemberian anugerah budaya, acara dilanjutkan dengan penampilan KIAK SPIRIT yang menyajikan aneka taritian dan iringan music yang luar biasa, perpaduan antara etnik , modern dan kontemporer. Pada malam penutupan ini, kita bias mendengarkan aransemen rancak lagu-lagu Sumbawa yang digarap dengan apik. Suasana yang dihadrkanpun hampir mirip dengan pembukaan piala dunia di Afrika Selatan kemarin. Hal ini patut diapresiasi, betapa tanah Samawa yang banyak memiliki padang Savana, terasa seperti The Litle Afrika, sehingga memiliki beberapa kesamaan ritme dan melodi.
Berbagai tarian dengan sesekali diselingi puisi itu sungguh mampu menghipnotis pengunjung. Panggungpun terasa mewah dengan taburan warna-warni cahaya dan gerak gemulai para penari yang menggunakan kostum dominan cerah. Acara ditutup dengan pawai obor dan pembacaan puisi yang mengikrarkan kemuliaan tanah Samawa. (senimana.com)
Kata Mereka :
“Catatan penting dari daeri kegiatan ini adalah FBS 2011
merupakan ajang silaturrahmi lintas budaya. Saya melihat bahwa selama
ini kita sering terjebak dalam ego sektor budaya, dimana masing-masing
budaya merasa dirinya yang terbaik, padahal semua adalah baik dan
terbaik. Dengan memahami budaya lain, kita menjadi lebih berendah hati
namun tetap bersemangat untuk berbuat yang terbaik,” ungkap Wagub.
“Festival ini adalah jalan harmoni, dimana kita bias saling bahu-membahu, bekerjasama memajukan kebudayaan kita. Tak lupa saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak atas apresiasinya yang mendalam, tertama panitia yang sudah bekerja keras dan sangat solid. Ini merupakan cerminan kerjasama yang baik dari anak-anak muda kita dan seluruh masyarakat yang mendukung kegiatan ini” ungkap Wagub NTB.
Dr. Endo Suanda, yang diminta berkomentar secara resmi pada malam penutupan festival yang lebih tepat disebut sebagai malam puncak acara itu juga membenarkan, bahwa banyak hal yang bisa dimaknai dari festival besar ini.
“Tadi saya menunggui mereka, anak-anak muda itu yang latihan sampai menjelang pagi. Kita para orangtua selalu menyalahkan mereka seolah anak-anak muda tidak memiliki kepedulian. Ini bukti bahwa keliru jika anak-anak kita tidak memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap khazanah tradisi. Tinggal bagaimana sekarang memfasilitasi dan mendorong mereka untuk terus maju,” Kata direktur PSN atau Pendidikan Seni Nusantara tersebut.
“Saya merasa bersyukur bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara. Luar biasa. Festival ini membuka mata bagi kita semua, tidak cukup kita lihat hanya sebagai pentas seni semata. Masyarakat, kita semua bisa belajar banyak hal. Ada banyak rangkaian acara, tidak hanya pementasan seni. Tadi saya lihat ada pameran foto, disitu ada foto karya Kapolda dan Kapolres lombok Timur yang menurut penilaian saya sangat luar biasa, setaraf dengan hasil jepretan para profesional. Ini membawa makna, bahwa para seniman, budayawansemestinya juga harus merasa tertantang. Jika kapoldanya sudah mahir seni, maka seniman-budayawan juga harus memiliki kecerdasan politik, kecerdasan sosial sehingga kita memiliki tanggungjawab pada kebudayaan dan kerukunan sosial,” ungkapnya.
“Kemarin ada Lomba memasak yang diikuti oleh para pejabat. Saya tanya kesalah seorang peserta , sudah berapa lama bapak tidak memasak? Lalu beliau menjawab, 52 tahun. Memang umur bapak berapa? Dia jawab, 52 tahun juga. Berarti semuur hidup baru pertama kali ia memasak. Luar biasa, festival ini memberi ruang bagi orang-orang yang belum pernah menjadi pernah,” tuturnya. (senimana.com)
Fan Page Festival Budaya Sumbawa 2011
Seusai sambutan-sambutan dan pemberian anugerah budaya, acara dilanjutkan dengan penampilan KIAK SPIRIT yang menyajikan aneka taritian dan iringan music yang luar biasa, perpaduan antara etnik , modern dan kontemporer. Pada malam penutupan ini, kita bias mendengarkan aransemen rancak lagu-lagu Sumbawa yang digarap dengan apik. Suasana yang dihadrkanpun hampir mirip dengan pembukaan piala dunia di Afrika Selatan kemarin. Hal ini patut diapresiasi, betapa tanah Samawa yang banyak memiliki padang Savana, terasa seperti The Litle Afrika, sehingga memiliki beberapa kesamaan ritme dan melodi.
Berbagai tarian dengan sesekali diselingi puisi itu sungguh mampu menghipnotis pengunjung. Panggungpun terasa mewah dengan taburan warna-warni cahaya dan gerak gemulai para penari yang menggunakan kostum dominan cerah. Acara ditutup dengan pawai obor dan pembacaan puisi yang mengikrarkan kemuliaan tanah Samawa. (senimana.com)
| Iqbal Harun Sohar : Jenderal Musik KIAK |
| Dwi Bujir "Penyair Jiwa" |
| KIAK Cultural Show |
| Tarian Angin Renas |
| Bagian Tarian Angin Renas |
Kata Mereka :
| Pak BM Penggagas FBS (Wagub NTB) |
“Festival ini adalah jalan harmoni, dimana kita bias saling bahu-membahu, bekerjasama memajukan kebudayaan kita. Tak lupa saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak atas apresiasinya yang mendalam, tertama panitia yang sudah bekerja keras dan sangat solid. Ini merupakan cerminan kerjasama yang baik dari anak-anak muda kita dan seluruh masyarakat yang mendukung kegiatan ini” ungkap Wagub NTB.
Dr. Endo Suanda, yang diminta berkomentar secara resmi pada malam penutupan festival yang lebih tepat disebut sebagai malam puncak acara itu juga membenarkan, bahwa banyak hal yang bisa dimaknai dari festival besar ini.
“Tadi saya menunggui mereka, anak-anak muda itu yang latihan sampai menjelang pagi. Kita para orangtua selalu menyalahkan mereka seolah anak-anak muda tidak memiliki kepedulian. Ini bukti bahwa keliru jika anak-anak kita tidak memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap khazanah tradisi. Tinggal bagaimana sekarang memfasilitasi dan mendorong mereka untuk terus maju,” Kata direktur PSN atau Pendidikan Seni Nusantara tersebut.
“Saya merasa bersyukur bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara. Luar biasa. Festival ini membuka mata bagi kita semua, tidak cukup kita lihat hanya sebagai pentas seni semata. Masyarakat, kita semua bisa belajar banyak hal. Ada banyak rangkaian acara, tidak hanya pementasan seni. Tadi saya lihat ada pameran foto, disitu ada foto karya Kapolda dan Kapolres lombok Timur yang menurut penilaian saya sangat luar biasa, setaraf dengan hasil jepretan para profesional. Ini membawa makna, bahwa para seniman, budayawansemestinya juga harus merasa tertantang. Jika kapoldanya sudah mahir seni, maka seniman-budayawan juga harus memiliki kecerdasan politik, kecerdasan sosial sehingga kita memiliki tanggungjawab pada kebudayaan dan kerukunan sosial,” ungkapnya.
“Kemarin ada Lomba memasak yang diikuti oleh para pejabat. Saya tanya kesalah seorang peserta , sudah berapa lama bapak tidak memasak? Lalu beliau menjawab, 52 tahun. Memang umur bapak berapa? Dia jawab, 52 tahun juga. Berarti semuur hidup baru pertama kali ia memasak. Luar biasa, festival ini memberi ruang bagi orang-orang yang belum pernah menjadi pernah,” tuturnya. (senimana.com)
Fan Page Festival Budaya Sumbawa 2011
Sumber foto : dokumentasi senimana.com
mantabsss!!
ReplyDeleteAku blom nonton kok sudah tutup nih.. Sukses deh..hehe
ReplyDeletetunggu festival berikutnya :)
ReplyDeletearifah lagi ne guys...aq hanya menikmati istimewa acra tu dalam khaylan wkt aq tau di net.ya rabb gk sabar ingin segera raga ini beranjak dari bagian bumi lain ini..mf yac oretan aku banyak banget alnya mumpung da kesemptan.im always missing u west sumbawa
ReplyDeletesempurnaaa,,,,,FBS 1 N FBS 2,,,,,!!!!
ReplyDelete