Novel yang diangkat dari kisah perjalanan ini memang banyak mengungkap
jejak-jejak peradaban Islam di Eropa. Bahkan jejak-jejak peradaban itu
masuk ke tempat-tempat sakral Kristen di daratan Eropa. Diantaranya
adalah berbagai macam kaligrafi bergaya Kufic pada lukisan-lukisan di
Gereja, piring makan, lengkungan berbentuk ogive berjumlah ganjil pada
gereja dan pada jubah raja Sisilia.
Perjalanan Hanum dengan rasa ingin lebih mengenal kejayaan Islam ratusan tahun silam membawanya pada bukti-bukti sejarah yang mencengangkan dan membuat iman semakin menggebu dan tentu saja hati semakin mencintai Islam.
Belajar sejarah memang tidak harus kaku dan terpaku pada buku teks
yang kering. Lewat novel ini kita menelusuri sejarah Islam di Eropa
terutama dari masa Dinasti Umayyah dan Ustmaniyyah. Kita akan melihat
jatuh bangunnya peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa.
Lebih dari itu novel ini akan menggugah pemahaman dan perilaku beragama
kita selama ini. Lewat novel ini kita juga akan menyaksikan perjuangan imigran-imigran
dari negara-negara muslim untuk mencari kehidupan yang lebih sebaik
sekaligus menyebarkan cahaya Islam dan menghapus stereotipe negatif
tentang Islam yang sudah mengakar kuat di Eropa. Latar belakang jurnalis yang dimiliki pengarang novel ini membuatnya
sangat enak dibaca. Narasinya sangat deskriptif tetapi tidak
bertele-tele. Pemilihan dialognya pun berbobot. (Irawan)
Lewat buku ini Hanum mengajak kita untuk memperbaiki pandangan dunia terhadap islam, islam bukan agama yang hobi berperang, islam bukan agama menghinakan perempuan, islam bukan agama penuh kekerasan sebaliknya Islam penuh kelembutan, santun dan tidak pernah memaksa tetapi memberi contoh. Hanum mengajak kita untuk menjadi agen Islam pembawa kedamaian seperti sahabatnya Fatma. Waktu itu mereka tengah makan di sebuah restoran kemudian terdengarlah oleh mereka dua orang eropa yang menghina-hina islam dan negara Fatma (Turki), Hanum panas, begitu juga Fatma tetapi Fatma meredam sakit hatinya, bukan lantas ia melabrak dua orang itu. Hanum menulis sebuah memo kemudian meminta kasir memberikannya pada dua orang itu, Fatma juga dengan ikhlas membayar makanan dua orang itu tanpa sepengetahuan mereka. Dalam suratnya, Fatma mengajak dua orang itu untuk berdiskusi tentang apa yang mereka hina lewat email. Luar biasa gadis Turki itu.
Sudah seharusnya begitu, sebagai pemeluk agama yang Rahmatan Lil alamiin kita harus memberi contoh yang baik kepada siapa saja, kita harus menunjukkan seperti apa islam sebenarnya. Apalagi sekarang maraknya fitnah yang menuding islam adalah teroris. Astagfirullah. Sungguh jika mereka mau sedikit saja memperlajari Islam pada orang dan sumber yang benar mereka akan mengetahui seperti apa Islam sebenarnya. Ketidak tahuan dan nafsulah yang membuat mereka memusuhi dan menyebarkan fitnah.
Perjalanan Hanum ke Paris ditemani sahabt barunya Marion seorang mualaf ahli sejarah yang mempertemukannya dengan fakta-fakta tentang kejayaan Islam pada masa lalu. Mengenalkannya pada seni-seni dakwah Islam pada masa lalu yang Istimewa.
-------------------------------------------------------------------------------------
Aku mengucek-ngucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu
terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi hidungku menyentuh permukaan
lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah aku
tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu.
“Percaya atau tidak, pinggiran kerudung Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Illaaha Ilallah, Hanum, ” ungkap Marion akhirnya. (Bab 23, hal. 165)
Bagian prolog-nya saja sudah sanggup menggemuruhkan hati dengan kalimatnya yang sangat menyentuh dan puitis.
”Saat memandang matahari tenggelam
di menara Eiffel, Katedral Mezquita Cordoba…Hagia Sophia Istanbul, saya
bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah jelas matahari
yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun
yang lalu.”
"Eropa bukan sekedar Eiffel atau
Colosseum, bukan sekedar Tembok Berlin, Eropa adalah sejuta misteri
tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, Peradaban Cahaya yang pernah
memayungi dunia"
Novel 99 Cahaya di Langit Eropa, juga menebarkan kisah-kisah langka yang jarang terkuak oleh publik,
seperti misteri tentang Napoleon Bonaparte, roti Croissant, asal usul
kopi, misteri tulisan kaligrafi dalam jubah raja Eropa, The Mosque
Cathedral, hingga ke misteri garis imajiner “sejarah satu garis’ atau
yang sering disebut dengan Axe Historique yang menghubungkan bangunan-bangunan bersejarah di Paris dengan Ka’bah di kota Mekkah.
Buku ini sudah mengalami cetak ulang yang ketiga
sejak diterbitkan pada bulan Juli 2011. Dengan tebal buku 412 dan harga
yang tidak terlalu mahal, Rp. 69.000,-, buku ini pantas dimiliki oleh
semua kalangan

Harus punya nich....
ReplyDeleteHarus lan..
Deletewah jadi pingin beli buka nya...........
ReplyDeletesalam kenal sobat, kehadiran saya ingin menyambung tali silahturahmi..
ReplyDelete