Pusaran Hitam di Danau Mati
Kami baru saja meninggalkan perkemahan saat senja mulai dimakan kabut. Rombongan kami kecil: Aku, Kak Alfin, Kak Yayan, Kak Ishak, David, dan Boren—seorang teman luar yang entah bagaimana bisa terseret masuk ke lingkaran anak pramuka ini. Desa tempat kami berkemah itu indah, namun memiliki keindahan yang ganjil. Terlalu sunyi.
Pusat keanehan itu ada pada danaunya. Air di sana tidak beriak, melainkan berputar. Bukan pusaran air deras yang menghisap ke bawah, melainkan putaran lambat, konstan, dan senyap yang mengelilingi sebuah gundukan tanah hitam di tengahnya. Seperti ritual tawaf yang dilakukan oleh air mati.
Saat kami menyusuri tepian danau, mataku menangkap sesuatu yang pucat timbul tenggelam mengikuti arus putaran itu. Benda itu mendekat. Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu bukan kayu, bukan sampah. Itu manusia.
"Lihat..." suaraku tercekat, telunjukku gemetar mengarah ke air. "Mayat itu... mirip Kak Ishak."
Mereka semua menoleh. Hening yang panjang dan menyakitkan menyelimuti kami. Sosok di air itu tertelungkup, namun postur dan rambutnya... terlalu identik.
"Di desa ini," suara Kak Alfin memecah keheningan, terdengar dingin dan datar, "mayat yang dibuang ke danau biasanya adalah orang tak dikenal. Atau penjahat yang tak diinginkan tanah kuburan."
Kami mengangguk kaku, mencoba menepis pikiran buruk. Namun, sejak saat itu, atmosfer berubah. Udaranya terasa berat, seolah mengawasi kami.
Mataku mulai tak bisa lepas dari sosok "Kak Ishak" yang berjalan bersama kami. Ada yang salah. Sangat salah.
Kak Ishak yang kukenal adalah seniman yang berantakan; bajunya selalu kedodoran, kacamatanya tak pernah lepas. Namun sosok di depanku ini memakai kemeja yang terlalu sempit, seakan otot-ototnya membesar dalam semalam. Bahunya tegang. Dan yang paling mengerikan: dia tidak memakai kacamata, namun langkahnya tidak ragu sedikitpun di jalan setapak yang gelap ini.
Kami tiba di sebuah rumah tua di pinggir desa. Cat temboknya hijau lumut, mengelupas seperti kulit penderita kusta. Entah rumah siapa, tapi kami butuh tempat bernaung sejenak. Di bawah sorot lampu kuning yang remang, kejanggalan itu semakin nyata.
Aku tak tahan lagi. Ketakutan itu berubah menjadi nekat.
"Kau bukan Kak Ishak," kataku tajam. "Bajumu sesak. Kau tidak berkacamata. Siapa kau sebenarnya?"
Teman-teman lain tersentak. David mundur selangkah. Boren menegang. Sosok itu terdiam lama, membelakangi kami. Ketika ia berbalik, wajahnya memang wajah Ishak, tapi sorot matanya asing. Liar. Ketakutan.
"Iya," suaranya parau, berbeda dari suara Ishak yang cempreng. "Aku memang bukan dia."
Pengakuan itu menghantam kami seperti palu godam.
"Wajahku mirip dengannya... sebuah kebetulan yang terkutuk," lanjutnya, tubuhnya mulai gemetar hebat. "Aku tidak sengaja membunuhnya."
David mulai terisak pelan. Aku mematung. Hanya Kak Yayan yang berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi, matanya gelap menatap si penipu.
"Lanjutkan," perintah Kak Yayan, nadanya datar namun menusuk.
Si penipu mulai meracau. Ceritanya melompat-lompat, didorong rasa bersalah yang membusuk di otaknya. Dia disewa seorang gadis—cinta masa lalu Ishak yang sakit hati. Niat awalnya hanya memberi pelajaran. Tapi di hutan, di tengah malam buta, pelajaran itu berubah menjadi petaka.
"Aku memukul tengkuknya dengan bambu... sekali saja... tapi dia langsung diam," racau anak itu, matanya terbelalak menatap kosong. "Aku panik. Aku menyeretnya. Jauh sekali... rasanya jauh sekali sampai ke danau itu. Aku membuangnya. Lalu aku sadar aku mirip dia. Aku pikir aku bisa menjadi dia. Tapi aku salah... Tuhan, aku salah..."
Suasana di ruangan bercat hijau itu menjadi anyir. Bau keringat dingin bercampur dengan ketakutan murni.
Kak Alfin tampak ingin meledak marah, tapi Kak Yayan melangkah maju. Langkahnya pelan, tidak menimbulkan suara. Dia berhenti tepat di depan pembunuh itu.
"Kau menyesal?" tanya Kak Yayan lembut. Terlalu lembut.
"Iya! Saya menyesal sekali... Saya takut..." jawabnya sambil menangis.
"Oke," bisik Kak Yayan. "Aku akan mengakhiri ketakutanmu."
Gerakan selanjutnya terjadi begitu cepat hingga otakku gagal memprosesnya. Tangan Kak Yayan merogoh ke punggung. Kilatan logam menyambar di bawah lampu remang. Sebilah celurit tajam melayang.
CRAASSS!
Darah muncrat ke dinding hijau. Aku menjerit tanpa suara. Kakiku bergerak sendiri sebelum nalarku bekerja. Aku berbalik dan lari. Keluar dari rumah terkutuk itu, menembus pekatnya malam desa.
"Lari!" teriakku entah pada siapa.
Aku mendengar langkah kaki berat di belakangku. Boren. Kami berlari seperti orang gila, menjauhi rumah hijau, menjauhi danau berputar, menjauhi mayat Ishak. Paru-paruku terasa terbakar, kakiku lemas, tapi bayangan celurit Kak Yayan terus memburu. Gelap semakin pekat, seolah menelanku bulat-bulat.
Aku terus berlari hingga tak ada lagi tanah untuk dipijak, dan aku terjatuh ke dalam jurang hitam tanpa dasar.
"Hah! Hah! Hah!"
Mataku terbuka lebar.
Cahaya monitor komputer menyilaukan mata. Aku terlonjak dari kursi, dadaku naik turun dengan liar, keringat dingin membasahi seluruh punggung.
Kamarku. Ini kamarku.
Aku meraba wajahku, lenganku. Utuh. Tidak ada darah. Tidak ada danau, tidak ada rumah hijau, tidak ada Kak Yayan dengan celuritnya.
"Astaghfirullah..." desisiku, menyadari itu semua hanya bunga tidur yang beracun.
Dengan tangan gemetar, aku mengusap wajah dan melafalkan doa yang diajarkan Nabi, "Allahumma innii a'uudzubika min 'amalisy syaithooni wa sayyiaatil ahlaami." Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari perbuatan setan dan mimpi-mimpi buruk.
Aku duduk diam sejenak, membiarkan detak jantungku kembali normal. Aku melirik jam di sudut layar komputer. 26 Mei 2013. Dini hari.
Suara riuh komentator bola dari streaming di komputer menarikku kembali ke realitas. Final Liga Champions 2013. Bayern Munchen vs Borussia Dortmund. Pertandingan tinggal seperempat waktu lagi.
"Alhamdulillah," gumamku, mengambil gelas air putih di meja dan meneguknya sampai habis. Rasa dingin air membasuh sisa-sisa horor di tenggorokan.
Aku mencoba fokus ke layar, melihat Arjen Robben menggiring bola. Aku berusaha melupakan tatapan dingin Kak Yayan dan mayat yang berputar di danau itu. Bayern Munchen akhirnya juara, dan aku bersorak pelan, lebih karena rasa lega bahwa aku masih hidup di dunia nyata daripada karena kemenangan itu sendiri.
Semoga itu benar-benar hanya mimpi. Semoga Allah senantiasa melindungiku, keluargaku, dan teman-temanku dari fitnah, kejahatan, dan kegelapan yang mengintai di sudut-sudut tak terduga.
Aamiin.

Tapi hanya mimpikan..heee.
ReplyDelete