“Kalaupun seandainya Tuhan itu tidak ada, kita tetap harus mencari-Nya.” (hlm. 138)
Misi
kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa
keberkahan di komunitas nonmuslim. Suatu saat kau akan banyak belajar
bagaimana bersikap di negeri tempat kau harus menjadi minoritas. (hlm.
47)
Menjadi agen muslim yang baik di Eropa.
Agen muslim yang menebar kebaikan. Bawalah nama baik Islam. Jangan
sampai memalukan ataua malah mencemarkan. (hlm. 54)
Adalah
Hanum Salsabiela Rais bersama suaminya, Rangga Almahendra yang
menorehkan pengalaman hidupnya saat tinggal di Eropa selama 3 tahun
menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Pengalaman yang makin
memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara
yang berbeda.
Di sini, kita tidak menemukan
penjelajahan di Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion
Sepak Bola San Siro, Colosseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia.
Lebih dari sekedar itu. Kita dibuat takjub dengan penjabaran deskripsi
lengkap tempat-tempat yang jarang terekspos malah menyimpan makna
sejarah yang mendalam.
Beberapa tempat yang dikunjungi Hanum bahkan kerap menambah pengetahuan kita tentang nilai sejarah Islam. Beberapa diantaranya:
- Schatzkammer, Museum Harta Kerajaan di kompleks Istana Hofburg Wina, tempat mantel Raja Roger II yang berkaligrafi Arab disimpan. Beliau seorang raja di Eropa memakai mantel bertuliskan kaligrafi Arab pada hari pengangkatannya sebagai raja. Kalimat Tauhid juga bertahta di pinggir mantel bordirnya. Dia memang memesannya dari seorang muslim Arab. Konon, si raja memang menyukai budaya Arab, terutama kaligrafinya. Hingga kini mantel itu masih tersimpan rapi. Berwarna merah menyala, mantel ini terbuat dari beludru sutra berkualitas. Bordiran benang emas menghiasi sekujur mantel itu.
- Quadriga Arc de Triomphe du Carrousel berlatar belakang horizon garis lurus Axe Historique yang membelah kota Paris. Marion mengatakan, Napoleon membuat garis imajiner ini sepulangnya dari ekspedisi Mesir, searah kiblat. Tidak penting apakah Napoleon muslim atau bukan. Kenyataan, pada suatu masa dia telah memberi ruang yang lebar bagi nilai-nilai Islam, baik untuk negara maupun dirinya sendiri.
- Di Hagia Sophia Instanbul, ada medallion raksasa bertuliskan Allah dan Muhammad, mengapit gambar Bunda Maria yang tengah memangku bayi Yesus.
- Le Grande Mosquee de Paris, Masjid Agung Paris di pusat kota Paris. Masjid ini pernah meyelamatkan puluhan waga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman.
“Ada sebuah mata rantai yang putus antara peradaban kuno Yunani dan Romawi dengan peradaban Eropa Renaissance.”
Rasa
syukur yang lebih dalam lagi karena dilahirkan sebagai orang Indonesia
yang tak memiliki trauma sejarah dengan hegemoni agama, dan berharap
tidak akan pernah ada sampai kapan pun. Islam yang awet, yang abadi
dalam diri setiap orang, adalah Islam yang datang dengan cara damai.
Selain
mengunjungi tempat-tempat menakjubkan yang memiliki makna sejarah bagi
dunia Islam, Hanum juga sempat berkenalan dengan beberapa sahabat muslim
dari belahan negara lain.
Beberapa sahabat yang ditemui Hanum dan memberikan banyakpencerahan hidup:
- Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengirim puluhan surat lamaran pekerjaan.
- Natalie Deewan, seorang agen muslim sejati. Dia mempromosikan ajaran Islam tentang ikhlas bukan dengan ucapan yang hanya berhenti di mulut. Dia menggelarnya menjadi sebuah kedai makanan sumber kerelaan antara penjual dan pembeli.
Aku
bisa menganalogikan semua ibadah yang kulakukan sebagai premi yang harus
kubayarkan kepada Tuhan. Agar aku merasa tenang dan damai.
Sejauh-jauhnya
orang terhadap agama, pada akhirnya dia tak akan sanggup menjauhkan
Tuhan dari hatinya. Meski pikiran dan mulutnya bisa mengingkari-Nya, ruh
dan sanubari manusia tidak akan pernah sanggup berbohong. (hlm. 137)
Fanatisme agama dengan segala bentuknya merupakan sumber segala perselisihan, musuh bersama umat manusia. (hlm. 137)
Dari
cerita perjalanan yang dialami Hanum dan suaminya ini, kita bisa
merasakan bahwa masih sedikit sekali kita membuka mata untuk melihat
dunia dan segala isinya. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa
membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan
sekaligus memperdalam keimanan. Sungguh berbeda dibandingkan buku
traveling pada umumnya.
Banyak bertebaran kalimat favorit:
- Hidup ini hanyalah sebuah giliran. Dan saat kita mendapatkan giliran itulah kita harus mempergunakannya sebaik-baiknya. (hlm. 316)
- Kita lupa berapapun kita menyayangi mereka, mereka bukanlah milik kita seutuhnya. Demikian pula kita, bukan milik kita seutuhnya. Menyadari kembali bahwa perpisahan pasti akan datang menghampiri seharusnya menjadi pelecut untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang kita sayangi di dunia ini. (hlm. 321)
- Manusia sesungguhnya hanya membela kepentingannya sendiri. Dia tak pernah benar-benar membela agamanya. (hlm. 336)
- Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan, dan mencintai Islam, bukan karena paksaan orang lain. (hlm. 368)
- Jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia. Jadi, nikmatilah perbedaan itu. (hlm. 368)
- Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. (hlm. 372)
- “Pada dasarnya semua orang mendapatkan hidayah itu. Pada satu titik dalam kehidupannya, setiap manusia di dunia pada dasarnya pernah berpikir tentang siapakah dirinya, mengapa dan untuk apa dia hidup, dan adakah kekuatan di atas kekuatan hidupnya. Hanya saja ada yang kemudian mencari dan menelisik, ada pula yang membuangnya jauh-jauh atau melupakannya. Yang mencari pun ada yang caranya salah dan keliru…” (hlm. 119)
- “Buatku rukun Islam itu ada 6. Yang keenam menjaga kehormatanku dengan jilbab.” (hlm. 131)
Dikatakan di covernya bahwa
buku ini merupakan novel Islami, bukannya cocok disebut memoar ya karena
ini isinya kisah nyata perjalanan penulisnya? Jenis fontnya sebenarnya
sudah nyaman, tapi mengapa tulisannya tidak rata kiri kanan ya? Terlepas
dari itu, sangat menyukai buku ini. Apalagi cukup lama nggak baca buku
bernapaskan agama. Ah, jadi gak sabar pengen baca seri berikutnya; Berjalan di Atas Cahaya - Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. (Review oleh Luckty Giyan Sukarno)
Keterangan Buku:
Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais
Desain & cover isi : Suprianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2012 (Cet. 10)
Tebal : 412 hlm.
ISBN : 978-979-22-7274-1

Comments
Post a Comment