"Ya Allah, kuatkanlah aku… ampuni aku. Tanpa-Mu, mungkin beban ini akan terasa berkali-kali lipat lebih berat…"
Lelaki itu berdoa lirih selepas salat Zuhur di sebuah musala kantor pemerintahan, tak jauh dari tempat yang baru saja ia datangi. Wajahnya sayu, memantulkan beban yang tengah ia pikul. Matanya meredup seolah mengantuk, namun sesungguhnya ia sedang tenggelam dalam doa-doanya. Ia menikmati curhatnya pada Ilahi, membiarkan dirinya larut dalam diam yang dalam.
Hari kian siang. Jamaah satu per satu meninggalkan musala, namun ia masih duduk tafakur. Tiba-tiba, setetes air mata hangat mengalir dari mata kirinya. Ia berusaha menahan diri agar tidak sesenggukan, mencoba tetap tegar. Namun air mata itu seakan sudah lama ingin keluar—seperti beban yang selama ini ia simpan rapat-rapat, akhirnya menemukan celah untuk dilepas.
Hidup ini memang terlalu singkat jika hanya diisi dengan tawa. Terlalu berharga jika hanya diwarnai satu jenis rasa. Sekali-sekali, kita perlu merasakan pahitnya masalah, agar kita mengerti: Tuhan punya cara-Nya sendiri dalam mengajar dan menguatkan hamba-Nya. Ia kembali memejamkan mata. Diam. Dalam.
Perlahan, ia membuka kembali lembar demi lembar memori tentang hari-hari bahagianya. Tentang istrinya yang sangat ia cintai. Tentang kisah cinta mereka yang singkat karena mereka memilih menikah lebih cepat.
Namanya Pandu. Muhammad Pandu Prasetya. Ia menikah pada usia 25 tahun, dua tahun lalu. Sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, Pandu sudah bercita-cita menikah di usia 25, seperti Rasulullah. Saat membaca kisah Rasulullah, ia berdoa diam-diam: "Ya Allah, aku ingin seperti itu." Siapa sangka, doanya dikabulkan.
Meski merasa belum sepenuhnya siap, Pandu percaya: Allah lebih tahu dirinya daripada ia sendiri. “Jika Allah menakdirkanku menikah saat ini, maka aku pasti sudah siap, meski aku belum menyadarinya,” katanya dalam hati. “Tugas kita hanyalah menjalani dengan baik. Cinta akan melengkapi dan menguatkan.”
Ia pun menikah dengan kekasihnya, meskipun saat itu sedang bersiap menyusun tesis. Momen yang telah lama dinanti, baik olehnya maupun keluarganya. Orang tuanya tak sabar ingin melihat anak sulung mereka mengenakan toga untuk kedua kalinya. Saat wisuda S1 dulu, mereka tak sempat merayakan kebahagiaan itu karena nenek Pandu jatuh sakit tepat di hari wisuda. Tak ada foto kenangan. Tak ada pesta kecil. Hanya air mata dan doa.
Kini, saat tesis S2 mulai dirancang, cinta datang dan menyita perhatiannya. Dengan hati-hati, ia meyakinkan orang tuanya bahwa ia bisa menyelesaikan tesis sekaligus membina rumah tangga. Ia dan calon istrinya telah merintis bisnis online kecil-kecilan. Ia pun meyakinkan bahwa perempuan pilihannya adalah gadis cerdas, mandiri, dan baik.
Akhirnya, meski berat, orang tuanya merestui. Harapan mereka agar anak sulungnya mapan terlebih dahulu sebelum menikah, harus dilepaskan.
"Inilah jalan takdir," kata ibunya pelan.
---
"Saya percaya kamu anak baik. Tapi menjadi baik saja tidak cukup untuk membina rumah tangga. Kamu belum begitu mengenal calon istrimu, juga keluarganya. Kamu belum punya pengalaman pacaran panjang. Tapi jika itu pilihanmu, dan tekadmu bulat, kami hanya bisa berdoa.
Satu hal yang harus kamu ingat, menikah itu bukan seperti berjalan di taman bunga dengan sungai-sungai jernih di sekelilingnya. Menikah adalah perjalanan panjang, kadang berat. Tapi ia akan terasa ringan jika dijalani dengan saling mengerti dan menghargai. Tak peduli seberapa jauh dan berat jalannya, jika kamu menjalaninya dengan orang yang tepat, jarak dan beban itu tak ada artinya.
Perbanyak memperbaiki diri, dan teruslah berdoa agar Allah memudahkan setiap langkahmu. Kami hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu…”
Dengan mata yang basah, kakek Pandu menyampaikan petuah yang tak pernah ia lupakan. Hari itu, Pandu merasa dirinya berubah. Ia bukan lagi anak kecil yang selalu ditunggu pulang. Hari itu, ia memilih memutar arah hidupnya, bahkan sebelum tahu pasti ke mana kemudi akan diarahkan.
Ia menikah.
---
Hidup, kadang seperti perjudian. Waktu demi waktu, kita mempertaruhkan diri, masa depan, dan kebahagiaan untuk hal-hal yang tampak menjanjikan. Ada yang berhasil. Banyak pula yang tersedu di pojok gelap, menyesali kepingnya yang habis.
Namun, hidup memang tak akan pernah benar-benar kau mengerti sampai kau benar-benar menjalaninya—berjalan jauh, mendaki tinggi, dan tak berhenti saat lelah datang. Hanya mereka yang berani dan bertekad kuat yang bisa sampai ke puncak dan melihat betapa indahnya dunia dari atas sana.
"Inilah hidup…" lirih Pandu dalam hati.
Comments
Post a Comment