Pagi sampai siang si ibu yang ngurusin keduanya, bayangkan gimana repotnya. Siang sepulang kerja sampai malam giliran saya yang ngurusin mereka sementara si ibu menyelesaikan pekerjaannya. Sebagai ayah dari anak-anak perempuan otomatis saya harus bisa beberapa hal yang menyangkut perempuan misalnya mengepang rambut, masak, bikin mainan anak cewek, dll. Sesekali iseng ngajarin main perang-perangan pake pistol dari pelepah pisang dan kostum dari daun pisang. Pokoknya hari-hari mereka harus seru dan penuh kenangan manis bersama ayah dan ibunya.
Capek? secara ilmiah sih pasti capek tapi secara batiniah rasa capek itu tidak terasa sama sekali karena saya selalu tanamkan dalam hati dan ke istri saya bahwa masa-masa seperti ini bersama mereka tidak panjang. Tak lama lagi mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang akan sibuk dengan dunia dan zamannya. Tak banyak lagi waktu mereka untuk kita.
Kadang-kadang saya bilang ke Quin dengan segenap perasaan saya "Kakak, nanti kalau sudah besar jangan malu ya kalau ayah cium atau ayah peluk" entah dia faham atau tidak tapi dia bilang "Iya ayah" sambil mengangguk dengan bingung. 😂
Mungkin terlalu dini tapi saya yakin masa-masa itu akan datang, ketika mereka mulai sibuk dengan dunianya. Saya harus antisipasi masa-masa itu. Apapun itu, bagaimanapun itu kelak mereka harus menjadi anak-anak yang bahagia bersama keluarganya. Kami harus menjadi tempat paling nyaman untuknya.
Aaah... saya seperti bisa merasakan perasaan bapak, emak, kakek dan nenek saya ketika saya mulai sering main di luar rumah, jarang pulang dan akhirnya menikah....



Comments
Post a Comment