Aku membuka mata dengan perasaan yang berbeda pagi ini. Sembari membasuh wajah dengan wudhu, bayangan wajah-wajah orang tersayang yang telah pergi lebih dulu melintas. Lalu ada perasaan rindu yang teramat pada masa-masa kecil bersama mereka. Betapa indah namun betapa cepat berlalu.
Lalu dada semakin sesak, bayangan senyum kakek-kakek dan nenek-nenekku terus ada. Mereka seakan juga sedang merasakan rindu yang sama.
Aku bergegas ke masjid. Sepanjang perjalanan terlintas kenangan-kenangan masa kecil nan indah. Berlarian, tertawa, terjatuh, berenang, berkuda, makan bersama, bermain, menangis, merengek dan semuanya. Pagi ini aku merasa semakin jauh dari semua itu.
Kumulai sholat ku dengan perasaan yang tak biasa pagi ini...
Rindu dan entah apa
Selepas salam. Aku mulai mencerna semuanya. Ya, ini tentang waktu yang atas namanya Allah bersumpah. Pada detik ini aku kembali diingatkan bahwa waktu itu begitu berharga sekaligus kejam. Tak ada ruang tunggu. Tak ada jeda. Waktu datang padamu, memberimu kesempatan, lalu pergi membawa semua yang pernah ada begitu saja. Namun kebanyakan tak kita sadari.
Waktu telah memberiku orang-orang terbaik dalam hidupku, memberi mereka kesempatan merawat dan membesarkan ku dengan cinta yang cukup bahkan berlebih, namun waktu juga yang telah menghentikan perjalanan mereka (karena mereka telah tiba pada saat yang ditentukan?) sementara aku masih harus berjalan mengikuti perjalanan yang entah akam berujung dimana.
Pada titik ini, aku kembali belajar memahami atau lebih tepatnya memaksa diri mengingat kembali bahwa perjalanan perjalanan ini sesungguh perjalanan menuju pada titik akhir kehidupan. Tidak ada yang abadi. Seperti masa kecil yang hilang, masa remaja yang berlalu, bahagia yang pasti usai begitu juga seperti duka yang pasti sirna. Semua pasti berlalu.
Lalu selepas doa-doa kupanjatkan, kuingat-ingat lagi sudah berapa usiaku saat ini. Sudah berapa banyak dosa-dosa tercipta oleh diri? Sudah berapa cukup kebaikan yang telah terwujud?. Banyak keberuntungan yang terjadi, aku percaya itulah kehendak Allah, bisa jadi karena kebaikan - kebaikan tak kita sadari, karena doa-doa orang tua, doa-doa mereka yang telah kita ringan kan bebannya, doa-doa mereka mencintai kita diam-diam. Demikian kerjanya, Allah memberi balasan dan mengabullan doa.
Lalu aku berpikir, bagaimana dengan dosa-dosa dan kesalahan? Pastilah tak sedikit. Menumpuk-numpuk dari hari kehari dan aku mulai semakin khawatir, seperti kebaikan, keburukan pun akan terbalaskan. Astagfirullah...
Dada semakin bergemuruh hingga pandangan mulai saru. Allah.. Allah.. Ampuni.. Ampuni.. Ampunii aku.. Laa ilahailla anta yaa subhanaka inni kuntu minassholimiin.. Sesungguhnya jika tanpa rahmat dan ampunan-Muz, aku hanyalah hamba yang merugi.
Waktu terus berlalu, roda terus berputar, semua tumbuh dan menjadi berubah hari ke hari. Sementara dosa kian menumpuk disaat kebaikan tak seberapa.
Berharap kesempatan berbuat baik masih diberikan-Nya. Aaamiiin...


Comments
Post a Comment