Pelajaran Besar dari Si Kecil Kwaci


Tentang Perjuangan dan Sabar
Saya paling suka makan Kwaci Biji bunga Matahari. Beberapa teman sampai mengindentikkan saya dengan kwaci merk R*bo itu, tak terkecuali istri dan anak-anak. Quin dan Deeva nanya, ayah kenapa suka kwaci? Saya jawab sekenanya aja "Karena enak dan bikin ayah batal jadi Beruang".
Sebenarnya bukan hanya karna enaknya tapi sesungguhnya saya suka makan kwaci saat ada kerjaan malam atau movie maraton malam minggu untuk menghindari makan makanan berat kayak nasi dll.

Lalu pada suatu siang, tiba-tiba datang Expedisi membawa paket yang ternyata isinya kwaci yang sudah dibuka kulitnya. Istriku bilang biar ga capek buka kulitnya dan ga banyak sampah. Istriku memang super perhatian.

Tetapi ternyata memakan kwaci kupas dan kwaci kulit itu berbeda rasa dan sensasinya. Semacam ada sesuatu yang kurang. Gak greget. Padahal tinggal ambil dan makan tapi kok gak seenak yang ada kulitnya ya. Secara rasa sih gak jauh beda bahkan kayak sama aja tapi tetap aja gak greget.

Ternyata makan kwaci dengan terlebih dahulu membuka kulitnya satu persatu bahkan kadang kulitnya ketelan itu yang lebih nikmat. Ada perjuangannya. Ada gregetnya dan ternyata selain rasanya, saya menikmati proses itu. Proses berjuang mendapatkan biji bunga matahari yang kecil tapi jadi terasa nikmati digigit dan dikunyah. Puas rasanya. Beda dengan Kwaci kupas ini, sekali ambil bisa naik lima sampai belasan biji di tangan, langsung masuk ke dalam mulut dan kelar begitu saja. 

Lalu saya berpikir dan menganalogikan perjuangan hidup dengan kwaci ini. Benar adanya. Kita akan memiliki kebahagiaan yang lebih ketika kita mendapatkan sesuatu karena berjuang, karena ada proses dengan berbagai level tantangan sebelum kita mendapatkan hasilnya. Adalah beda rasanya ketika kita mendapatkan sesuatu karena perjuangan dan karena pemberian orang lain. Kita merasa telah benar-benar menjadi manusia yang baik, yang tak bergantung pada orang lain, bahwa kita bisa memberikan diri dan keluarga kita apa yang kita inginkan itu adalah nutrisi bahagia yang diperlukan hati kita. See? Memberi itu sumber bahagia, gaes! Sementara menerima meski juga membuat bahagia tetap rasanya ada yang kurang. Kurang perjuangannya. Sabar itu manis dan membahagiakan buahnya dan itu benar.


Kwaci sekecil itu, ketika kita berhasil membuka kulitnya itu bisa menghasilkan bahagia tanpa kita sadari, lalu bagaimana dengan perjuangan hidup yang kita sabar-sabarkan kemudian membuahkan hasil?
Mendapat biji kwaci besar yang ternyata isinya dempet tiga adalah senangnya luar biasa. Kayak dapat bonus apa gitu. Tentu itu juga bisa terjadi dalam perjuangan hidup kita. Bayangkan gimana nikmat dan bahagianya?


Buat kamu yang saat ini sedang kesulitan tetap bersyukur dan sabar, Allah sedang menyiapkan bahagia buat kamu. Buat kamu yang sudah berusaha dan masih tetap zonk, tetap bersyukur dan bersabar karena Allah lah yang tahu kapan waktu yang tepat itu. Berbaik sangka pada Allah ya...


Kamu suka kwaci kupas atau kwaci kulit?





Comments