Sejak saya kecil. Sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Jujur saya tidak pernah benar-benar berani menonton langsung pacuan kuda yang jokinya anak-anak ini. Di kampung saya dulu ada arena pacuan kuda. Saya benar-benar tidak tega melihat ana-anak kecil harus ketakutan di atas kuda yang larinya super kencang itu. saya was-was mereka jatuh, terinjak kuda lainnya, nyangkut di pagar kayu arena pacuan atau hal buruk lainnya. Saya sama sekali tidak pernah antusias menonton. Saya takut, saya tidak tega melihat anak-anak yang bahkan saat itu lebih kecil dari saya. Saya ke arena pacuan kuda untuk beli es campur di warung papin Hani. Duduk disana memperhatikan keramaian mendadak di lapangan kampung. Orang-orang dewasa dan remaja berkerumun mengelilingi bandar Judi Bola adil atau bandar "main goncang" permainan menebak mata dadu dibalik ember yang diguncang-guncangkan.
![]() |
| Pic from ridersofdestinyfilm.com |
Ketika kuda terlepas dari garis start, kerumunan orang-orang ikut berlari dari dalam arena mengikuti kuda-kuda yang membawa joki kecil yang saya tahu pasti sedang ketakutan. Mereka, sang joki, seperti boneka yang menempal di punggung kuda. Bahkan saya melihat mereka tak banyak yang sempat memberikan cambukan pada kudanya agar berlari lebih kencang. Orang-orang tua berteriak menyebut nama-nama kuda jagoan mereka, ibu-ibu melambaikan sarung batik sambil berteriak menyemangati. Dari tempatku duduk kadang terdengar orang-orang dewasa bercerita tentang Jimat Tokek dan sejenisnya yang dipakaikan ke Joki kecil itu agar tak jatuh. Ah aku tak percaya itu sejak dulu.
Sebenarnya aku hanya ingin diam di rumah saja. Tetapi seisi kampung tumpah ruah ke lapangan, ke arena pacuan kuda. Beberapa orang yang melihatku masih dirumah bertanya, kenapa gak ke lapangan? kenapa diam di rumah aja? atau bahkan mengejek saya karena tidak punya hobi katanya. Yah menurut kebanyakan mereka hobi itu adalah ikutan nonton pacuan kuda, main bola, ikut ke aren barapan kebo dll. Ke arena barapan kebo aku suka. Tapi yang lain terutama pacuan kuda, aku tidak suka. Lebih pada tidak tega melihat joki-joki kecil berjatuhan bersimbah darah. Aku yakin hati ibu-ibu mereka tak pernah rela anaknya menjadi joki kecil diusia sekecil itu. Bayangkan anak-anak itu usianya 3,4,5 tahun lho. Mereka bahkan belum mengerti banyak hal.
Ketika SMA saya pernah dapat tugas kelompok membuat sebuah makalah tentang sejarah dan budaya suku Mbojo, lalu saya dan teman-teman kelompok berangkat ke Dompu dan Bima beberapa hari. Kami berkesempatan menonton langsung latihan pacuan kuda di arena pacuan kuda di wilayah Kempo, di Dompu karena dekat dengan rumah salah satu teman kami. Aku tak memperhatikan benar-benar, aku hanya ikut karena pagi itu teman-teman kelompokku yang pagi itu bingung mau kemana. Sulit memaksakan diri menyukai hal-hal yang memang tak sesuai dengan nurani. Apalagi sejak muncul film dokumenter Joki Kecil mbk Yuli Andari Merdikaningtyas, saya mengikuti nonton barengnya beberapa kali berdiskusi tentang film ini dengan beberapa orang teman diwaktu dan tempat terpisah. Lagi-lagi saya tidak habis pikir bagaimana bia budaya yang mengeksploitasi anak, membahayakan nyawa anak, dan bahkan membuat anak tak mendapat hak pendidikan yang layak harus dipertahankan? sebesar apa keuntungan yang anak-anak itu dapatkan? adakah mereka mendapatkan hal yang setimpal dengan perjuangan mereka? Ketakutan mereka yang terpaksa mereka harus abaikan karena desakan dan paksaan orang tua yang mengatakan bahwa ini tradisi yang harus dikembangkan. Kemana hati kita? Oke ini mengajarkan mereka kuat, tapi bagaimana jika menjadi joki kecil adalah sebab mereka akan celaka? cacat bahkan meninggal?
![]() |
| Pic from ridersofdestinyfilm.com |
Ini adalah suara hati saya sejak kecil dan film ini berhasil membuat saya bersuara dan menyuarakan kesedihan saya melihat anak-anak yang bahkan belum cukup umur untuk sekolah tetapi sudah diharuskan menjadi Joki kuda-kuda perkasa yang larinya seperti angin. Saya berharap semoga tradisi Main Jaran (Sumbawa) atau Pacoa Jara (Bima,Dompu) bisa terus ada tetapi tidak lagi memakai joki kecil. Kita tidak berdosa, kan jika kita tidak memakai anak kecil sebagai joki? Kita tidak melanggar hukum, kan jika mengganti Joki kecil dengan joki yang lebih layak? Semoga ada solusi yang baik dari semua pihak terkait. Itu harapan saya dan mungkin juga harapan banyak orang lainnya.
Trailer film ini, meski cuma dua menit telah membuat hati dan mata saya basah. Semacam membuka kembali ingatan masa kecil saya tentang joki-joki kecil yang terjatuh, menangis histeris kesakitan dan berdarah-darah di tengah arena pacuan kuda. Bermandikan debu dan peluh serta air mata. Hati siapa yang tak iba melihat itu? Semoga film ini membuka mata kita bahwa ini tradisi yang harus diperbaiki dan dibenahi kembali. Harus.


Comments
Post a Comment