Begini Caranya Agar Orang Lain Menghargai Kita

Saya sering melakukan eksperimen sosial kecil - kecilan, bukan buat apa-apa tapi buat iseng doang. Pengen tau aja gitu reaksi orang-orang bagaimana menghadapi situasi berbeda-beda. Biasanya eksperimen ini gak terencana, semacam spontan aja gitu.

Suatu hari saya sedang berkebun, sedang menyemai bibit selada dan pakcoy di halaman rumah. Lalu tiba-tiba istri saya butuh bantuan untuk beli sesuatu yang penting banget karena stoknya dia habis, dan itu harus ke stokisnya yang lumayan jauh dari rumah. Tadinya dia mau dianterin aja tapi you know lah kalau wanita siap-siap mau pergi itu pasti lama persiapannya. Tanpa pikir lama-lama lagi saya langsung aja ke stokis barang tersebut dengan penampilan yang dekil abis berkebun (ga yang dekil berlumpur kayak yang kalian bayangkan juga sih), sampai disana baru buka pintu langsung ditanyain "Cari siapa pak?" dengan nada yang gak enak lah pokoknya. Awalnya saya kaget tapi waktu sadar penampilan saya gini amat, cuma pake oblong, celana selutut, pake sendal jepit, oh saya menyadarinya kemudian saya senyum aja.

"Mau beli produk X mbk" kata saya sesopan mungkin

Si mbaknya masih tampang pasang jutek, bibir merahnya yang pasti pakai lipstik mahal itu benar-benar tidak terlihat cantik dengan wajah jutek seperti itu. Dia langsung duduk di depan monitornya, sebelum dia nanya saya langsung sebutkan produk dan jumlahnya juga nama Istri saya yang merupakan member mereka sejak kita baru menikah

"Prouduk X, 5 pasang" lalu saya menyebutkan nama Istri saya sebagai member

Wajahnya mulai melunak, meski tidak senyum setidaknya tidak terlihat se-menyebalkan tadi

"Total satu juta dua ratus lima puluh ribu, mas" katanya lalu tersenyum. Dia tersenyum gaesss and see? Dia manggil saya "mas" setelah tadi manggil saya "bapak".

Pesan moral pertama, dalam beberapa hal menghargai diri sendiri dengan berpenampilan rapi dan bersih akan membuat orang lain mrnghargai dan "mengganggap" kita. Tapi sebagai manusia tentu sikap si mbak tidak dibenarkan karena siapapun dengan penampilan apapun selama ia masih sopan dan apalagi kita sebagai yang melayani haruslah tetap sopan dan memperlakukan orang lain dengan baik. No matter berapa banyak dia belanja, berapa banyak dia punya uang.

Dan berkali-kali terjadi seperti ini. Di kantor dinas, di rumah makan, di toko-toko, di pergaulan para pejabat dll.

Banyak yang mengira saya ASN karena saya memakai seragam ASN sesuai aturan tempat kerja saya sebagai honorer, mereka memperlakukan dengan baik dan ramah, lalu ketika mereka bertanya sudah status pekerjaan dan akhirnya mereka tau seketika sikap mereka berubah. Miris kan? Tapi saya sih merasa kasian aja sama mereka dan kadang merasa lucu.

Di antara orang-orang (yang sering disebut) besar, pejabat dll juga seperti ini dan saya pernah merasakan. Yang ini tak perlu saya tulis hehe. Ga baik.

Sosial experiment seperti ini tidak pernah saya rencanakan, semua terjadi begitu saja dan spontan. Misal rambut lagi panjang, kumis dan cambang mulai lebat, muka jarang di bersihkan lalu saya ke sebuah tempat pelayanan pasti saya akan dipanggil "Pak" ya karena mungkin keliatan tua hahaha. Lalu saya iseng setelah mandi, cukur kumis, tampilan cambang, facial sampe bersih, berpakaian rapi dan wangi saya ke tempat yang sama lagi. Tebak si mbaknya manggil saya apa? Dengan ramah dan tersenyum mereka bertanya, ada yang bisa kami bantu, mas? 

Lagi-lagi Pesan moralnya adalah hargai diri sendiri baru orang akan menghargai kita

Lalu yang paling dalam yang saya dapat ambil pelajarannya dan sangat penting adalah tentang kita memperlakukan diri kita di depan Allah...

Dulu saya paling santai kalau pergi sholat Jum'at karena rumah saya dekat dengan masjid. Khotib sudah di atas mimbar bahkan sudah hampir selesai khotbah saya baru jalan ke mesjid bahkan pernah hampir ketinggalan rakaat pertama sholat Jumat. Saya lari tunggang langgang lewat jalan pintas agar tak ketinggalan rakaat pertama dan sudah pasti saya berada di shaf terbelakang. Bagaimana perasaan saya? Biasa aja? Atau menyesal?


Saya hampa lalu gelisah karena merasa bersalah. Karena merasa sia-sia dan merasa kesal karena kelalaian sendiri. Pikiran saya memang berusaha untuk memberikan pembenaran 

"Udah, jangan pikirkan, yant penting kan udh sholat, terus tadi dari rumah juga bisa dengat khotib, kan?" katanya

Tapi tetap saja nurani saya tidak terima. Bahwa sholat Jum'at itu harus disiplin. Kita sudah harus duduk di masjid bahkan sebelum ibadah Jum'at dimulai, dan sia-sia Jumatan tanpa menyimak dan mendengar khotbah dengan seksama. Sia-sia!

Lalu saya diliputi rasa bersalah yang benar-benar mengganggu...

Setelah itu memperbaiki diri, berusaha disiplin sholat Jum'at. Target saya harus duduk di shaf pertama atau minimal shaf kedua, atau paling telat di shaf ketiga. Ketika semua berjalan sesuai harapan dan sesuai niat, ada perasaan bahagia luar biasa di dalam hati. Sungguh nikmat beribadah itu terasa. Kita seperti telah mengangkat sendiri harga diri kita yang tadi nya kita hinakan dengan keterlambatan dan ketergesaan yang membuat kita berada di paling belakang seolah kita ini orang yang paling jarang sholat, paling malas, paling jelek. Kita sendiri yang membuat diri kita hina dan tak dihargai tapi kita sendiri pula yang bisa membuat diri kita lebih baik dan lebih dekat dengan Allah yang akhirnya menghadirkan rasa tentram dalam hati.

Meski terkadang memang kita lalai dan sulit memulai, tak ada salahnya untuk tetap mencoba dan terus mencoba istiqomah. Kadang kebaikan itu harus dipaksa dulu agar menjadi kebiasaan. Karena jika sudah jadi kebiasaan berat untuk berhenti, kan?

Kalau kalian pernah punya pengalaman "Social Experiment" gitu gak? Tulis di kolom komentar dong. Pliisss

Kenapa foto ini? Karena bingung mau pakai foto yang mana buat thumbnail hehe

Comments

  1. Sosial eksperiment trakhir sy ktika sy mngirim sebuah foto dengan caption "jangan sampai lolos" di sebuah WAG... Resultnya sy d remove dr grup... Jiakakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha aslii ngakakkk ingat ini. Niat becanda ehbdi seriusin wkwkw sabarrr

      Delete
    2. Sabar banget sy mah bang, he

      Delete
  2. Oh iy 1 lg, prihal pengakuan lalai dlm Jum'atan, semoga skarang dan ke depannya kita dijauhkan dr sifat lalai tersebut... Aamiin yaa Robb

    ReplyDelete
  3. Bener mas, sya suka dgn kalimat "terkadang kebaikan itu harus dipaksa agar menjadi kebiasaan". Sya pernah mengalami hal sperti itu jg. Saat itu hari Jumat, sya ditugaskan utk menghadiri pembukaan pertemuan X yg diadakan salah satu instansi pemerintah. Kebetulan pakai pakaian olahraga krena saat itu jadwal senam di kantor. Awalnya panitia meremehkan krena diliat sya masih muda n pakai pakaian seadanya. Pas sya sebut, mewakili Pak Kabid X krena bapak berhalangan hadir. Panitiany berubah jd senyum n ramah. Hahahaha

    ReplyDelete
  4. Kayanya hampir semua ya pernah mengalami, krna peenampilan, status dll kita diremehkan. Pengingat juga buat saya ni...

    ReplyDelete
  5. Penghargaan dri org lain, trgntung bgaimana cara kta mnghargai dri sndri. Asyiik.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment