Pocong The Origin (2019), Perjalanan Mengantar Jenazah yang Tak Biasa

Ini adalah salah satu film horror tahun ini yang sempat saya abaikan karena ada embel-embel Pocong di judulnya.  Saya berpikir aah pocong lagi, palingan sama aja dengan film-film Pocong beberapa tahun lalu yang kacang banget. Namun ternyata saya salah.

Film bercerita tentang perjalanan Sasthi (Nadya Arina) untuk mengantar jenazah Ananta (Surya Saputra), bapaknya yang baru saja di eksekusi mati sebagai hukuman atas kejahatannya sebagai pembunuh berdarah dingin ke kampung halamannya, sesuai dengan wasiat Ananta semasa hidup. Yama (Samuel Rizal) seorang sipir menemani Sasthi mengantarkan Ananta ke kampungnya yang menempuh perjalanan lebih kurang enam jam perjalanan.

Di kampungnya Ananta dikenal sebagai penjahat sadis yang memiliki ilmu hitam bernama Banaspathi. Sebuah ilmu hitam yang menjadikannya kuat namun selalu berkeinginan untuk melakukan kejahatan pembunuhan. Warga kampungnya sepakat menolak kedatangan jezanah Ananta. Demikian juga Ilmu hitam nya yang menginginkan Ananta bangkit kembali jika dalam 24 jam belum juga dikuburkan. Jadilah mereka harus berpacu dengan waktu.

Sepanjang perjalanan Yama dan Sasthi merasakan ada yang berusaha mencegah mereka membawa Pocong Ananta ke Kampung halamannya. Scene horror pertama yang di alami Yama ketika berhenti untuk buang air kecil disebuah rumah warga. Ketika masuk ia mendapati ibu pemilik rumah sedang menggoreg tempe lalu ada suara tangis dari arah kamar mandi tak ketahuan suara siapa hingga saat Yama keluar si ibu juga hilang dan ia mendapati rumah itu adalah rumah tua kosong yang sudah rusak. Scene ini sederhana sih tapi horror nya dapat banget, seperti kebanyakan cerita yang sering kita dengar dari orang-orang. 



Sepanjang perjalanan Monty Tiwa sang Sutradara menyajikan horror-horror yang halus tanpa jumpscare berlebihan. Bahkan terkesan natural sekali. Misal ketika pak lurah yang gantung diri tanpa alasan yang jelas ketika mengetahui Ananta akan dimakamkan di kampungnya, juga ketika istri pak Lurah yang kesurupan semua seperti hal-hal yang terjadi di dunia nyata sehari-sehari.

Yang paling mencekam dan bikin gregetan adalah ketika diperjalanan Yama dan Sasthi terus-terusan mendapat gangguan. Sempat nyasar dan bertemu serombongan orang membawa keranda dengan lidah yang menjulur keluar. Kemudian ada seorang wartawan yang ngotot sekali ingin mengetahui apakah jenazah Ananta benar-benar akan dikubur atau tidak, terus saja ia membuntuti Yama dan Sasthi bahkan sampai menambah kekaucauan perjalanan mereka. Tapi menurut saya peran si Wartawan yang bernama Jayanti (Della Dartian) ini agak mengganggu sih dan kurang banget performanya, tak sehebat waktu Della Dartian di film Love For Sale yang bagus banget. Tetapi memang karakternya disini penting untuk melengkapi dan menambah warna cerita.

Film ini berhasil membuat saya melepas handphone dan fokus menonton meski pun horror abis tetap saja membuat saya betah nonton dan kalian tahu saya nonton jam berapa? jam 11 malam dan baru kelas jam 00 lewat. Kebayang dong suasana malam sepi dan hening terus nonton horror. Anehnya saya semakin tertantang sih untuk menyelesaikan film ini karena memang dari segi cerita film ini kuat, suasana horror nya jangan tanya lagi dah, horror abis. Bahkan ketika Ananta belum dieksekusi mati, suasana penjaranya benar-benar terasa mencekam. 

Minusnya...

Lebih ke karakter Yama yang diperankan Samuel Rizal dan Adhi yang diperankan Yama Carlos agak kurang apaaa gitu, mungkin di logat sundanya yang terdengar maksa. Akting Surya Saputra disini tak perlu diragukan lagi, benar-benar terpancar sosoknya sebagai penjahat kakap hanya saja porsi yang terlalu sedikit.

Selain nama-nama keren di atas, di film ini kalian akan menjumpai Tio Pakusadewo, Yeyen Lidya yang aktingnya pas disini, ada Egy Fadly, Reza Nagin, dan beberapa nama lainnya yang turut melengkapi film ini.


Seperti apa akhirnya perjalanan Sasthi mengantarkan jenazah Ananta ke kampung halamannya? Berhasilkan mereka mengubur Ananta? Sebaiknya nonton langsung sendiri ya.



Comments