Sejujurnya dari awal saya merasa gak nyaman dengan seruan "Jaga Film Hayya di Bioskop!" dan banyak broadcast messages lainnya yang beredar massive serta banyak pesan yang terkesan "mengancam" ummat dan seolah kita kalau ga nonton bakal auto kafir. Sungguh saya tidak nyaman.
Walaupun akhirnya saya ke bioskop juga untuk menemani istri sekaligus ingin melihat sedahsyat apa film yang merupakan sekuel dari film 212 The Power of Love ini.
Di menit menit awal film saya sudah tidak terlalu nyaman karena sutradara nya memasukkan part Horror yang GAK BANGET dan komedi yang nanggung yang membuat saya beberapa kali ketiduran saat nonton dan akhirnya melek lagi karena seat bioskop goyang karena gempa namun seisi bioskop ga ada yang menyadari hal itu.
Akhirnya kami keluar bioskop karena khawatir akan ada gempa lagi sementara anak-anak kami sedang bersekolah.
Selain filmnya yang katanya sumatranbogfoot (#kupasfilm) bisa memakan waktu sejam untuk membahasa minusnya film ini, saya ingin menyoroti sisi lainnya, yaitu promosi nya yang terlalu berlebihan.
Akhirnya saya tahu co produksinya ternyata adalah salah satu penulis idola saya bunda Asma Nadia. Cara promosi seperti yang marak beredar di sosmed dan wa itu menurut saya terlalu memanfaatkan kecintaan ummat pada agama. Bawa isu agama lalu jadilah booming seharusnya tidak perlu dilakukan untuk film. Apalagi ada broadcast yang bilang bahwa film ini sebenernya ga bisa tayang di bioskop komersial karena kaum pembenci islam bla bla bla dan banyak yang langsung termakan.
Come on! Film ini memang segmen nya ga luas, jadi akan lebih tepat kalau caji film televisi special lebaran. Bukan saya tidak mendukung save palestin. Bukaaan! tapi cara mengajak orang untuk memakmurkan bioskop tidak profesional.
Kalau boleh kasi saran, promosi itu boleh jor joran tapiii ga perlu menuduh pihak ini gini pihak itu gitu (entah siapa yg memulai promosi seperti ini). Cara yg baik adalah buat cerita yg universal, apalagi isu palestin ini bukan sekedar isu agama tapi kemanusiaan. Harusnya Hayya bisa dinikmati juga oleh kalangan lainnya. Memberikan dakwah dan pesan perdamaian dengan halus yg bisa diterima oleh semua ummat.
Cara seprti ini saya liat di film Wedding Agreement yang di prediksi tidak akan bertahan lama di layar bioskop nyatanya hampir satu bulan masih bertahan tanpa perlu broadcast pesan yang "seramg-seram". Film ini memberikan pesan yang bagusss banget tentang rumah tangga islami. Memberikan pesan tentang kewajiban suami istri dan sakralnya pernikahan. Karena bagus akhirnya orang bersemangat mengajak orang lain untuk menonton.
Penampilan Meyda Sefira dan ria Ricis menyelamatkan film ini. Meyda berakting dengan sangat luwes dan dia satu-satunya yang matang angktingnya, lalu humor ria ricis yang mencairkan film. Selebihnya B aja bahkan kurang kuat.
Tetapi film Hayya masih jauh lebih baik dari film yang baru keluar trailer nya saja sudah di bully se Indonesia Raya karena kontroversi dunia pondok pesantren yang anti mainstream.
So jaga film Hayya di Bioskop itu maksa sih. Gimana caranya kita mau jaga film yang kita tidak menikmati ceritanya padahal premis yang ditawarkan sudah lumayan bagus. Benar-benar saya terganggu sekali dengan scene horror gak jelas dan sampai berhari-hari saya masih bahas dengan istri saya gimana bisa Hayya bisa bertahan dalam koper selama dua minggu dan bagaimana dia tidak bisa ketahuan dia ada di dalam koper padal dia keluar masuk? Jangan pernah jawab "Namanya juga film!"
Overall, harus diakui oleh semua pihak bahwa masih banyak kekurangan jadi, mari ambil pesan baik yang disampaikan film ini dan berharap kedepan kualitas film Indonesia semakin baik khususnya film bertema religi.
Maaf saya harus jujur dan objektif. Boleh setuju boleh tidak

Jd penasaran buat nonton hehehe
ReplyDeleteSy blm bs bilang setuju atau enggak
ReplyDelete