Dunia sedang tidak baik-baik saja. Amat sangat sedang tidak baik-baik saja. Sungguh menyedihkan dunia saat ini. Belum hilang kekhawatiran-kekhawatiran lama kembali banyak bermunculan hal-hal baru yang membuat manusia jauh lebih khawatir lagi. Apakah Bumi sudah benar-benar tua? tapi menurutku Bumi tak akan pernah menua kecuali manusianya. Bumi akan begitu-begitu saja jika bukan manusia yang merusaknya.
Sebelumnya kita begitu dibuat gusar oleh sampah yang semakin memenuhi lautan dan daratan. Di udara pabrik-pabrik membuat kekhawatiran lain. Hutan-hutan menghilang. Hewan-hewan buas meradang tak tahu arah pulang. Kita? memakai produk mereka dengan senang dan tenang. Betapa malang.
Tahun lalu hidup rasanya kian dekat dengan akhir ketika bumi diguncang gempa besar berkali-kali. Kita panik dan berlari kesana kemari. Betapa kecil kita di Bumi ini, tetapi betapa kadang kita sering jumawa, pongah dan lupa diri.
Baru saja kita tenang sesaat, mikroorganisme yang akhirnya diberi nama Corona Virus membuat seisi dunia kalang kabut. Aku belum menemukan seseorang yang tidak takut pada virus kecuali mereka yang cacat pikirannya. Mereka mengatakan virus ini makhluk Allah dan mereka lebih takut Allah daripada makhluknya. Lalu beramai-ramai orang lainnya mengatakan pada mereka jika memag tidak takut makhluk Allah mari kami kandangkan kamu bersama macan. Berkali-kali peringatan untuk berkumpul dan mengadakan pertemuan dilarang agar penyebarannya tidak meluas namun mereka abai hingga akhirnya semua terpapar.
Saya sedih ketika membayangkan betapa manusia-manusia ini setelah merasakan sendiri nestapanya baru sadar dan menyesal. Lebih sedih lagi ketika mereka membuat bencana sebagai lelucon, sebagai bahan untuk nyinyir dan mencela. Entah Allah sedang menguji atau menghukm kita, seharusnya kita bisa lebih bijak dalam menyikapi. Perbanyak introspeksi diri dan benahi diri secara kesleuruhkan termasuk sudahkan kita peduli pada kebersihan? sudahkan kita peduli pada hubungan sosial kita? Entah ujian atau teguran kita hanya pantas untuk mengambil hikmah dan makna. Bukan saling menyalahkan atau merasa diri paling disayang Tuhan.
Perasaan saya tak karuan jika telah memikirkan keluarga. Betapa berat hari-hari anak-anak kami jika bencana ini tak segera berlalu. Dulu, ketika saya masih kecil. Tsunami, Gempa, gunung meletus, virus dan sejenisnya hanyalah cerita belaka. Susah payah kami anak-anak masa itu berimajinasi seperti apa tsunami, seperti apa gempa bumi, seperti apa dahsyatnya gunung, meletus. Tentang virus? kami tak memiliki gambaran sama sekali hingga akhirnya hari ini. Semua nyata dan mengejar nyawa.
Kepada kita semua, mari lebih dewasa menyikapi hidup. Menyikapi perbedaan dan semua yang datang pada hidup kita. Mari juga saling memperhatikan dengan baik, memperhatikan hal-hal baik dan memberi kebaikan. Jangan lagi ada membandingkan-bandingkan diri lebih baik dia tidak baik dan sebagainya. Corona tidak peduli kamu siapa. Istri presiden Italy pun diserangnya. Alih-alih bersama-sama kita kita hadapi sesuai rules yang sudah ada. Kita patuhi dan jalani untuk kebaikan dan kesleamatan bersama. Tahan sebentar keinginan-keinginan. Bukankah tidak semua keinginan harus terpenuhi?
Saya mohon maaf jika selama ini banyak kesalahan dan salah-salah ucap serta tingka laku. Kita bahkan tidak tahu nafas kita masih tersisa atau tidak untuk besok? Mari menjadi lebih baik untuk dunia yang nyaman buat kita dan anak-cucu kita kelak. Kamu pasti setuju kan?

Comments
Post a Comment