Percakapan di grup WA Kelas
Guru : Untuk sementara belajar di rumah dulu. Tidak ada dan tidak boleh belajar kelompok dulu. Pak guru akan berikan link tugas setiap dua hari dan kita bahas bersama dihari berikutnya di WA grup kelas. Ingat ini bukan liburan tetapi belajar dari rumah ya. Jangan berkumpul, sholat di rumah dulu
Siswa1 : Dong Brembe kalau jumatan pak guru?
Guru : Untuk saat ini kita ikuti anjuran pemerintah kita ya, sholat di rumah
Siswa1 : *forward ayat*
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ
Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat. [HR Muslim].
Guru : (Mau dijawab ini anak-anak, gak dijelaskan nanti seterusnya gini anak ini)
Baik, mari kita simak hadist ini ya. Yang lain juga tolong di simak
“Barangsiapa yang mendengar adzan, namun tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali ada udzur” (HR. Abu Daud
Akhirnya saya mulai menjelaskan dengan seringan mungkin dan saya tekankan pada Kecuali Ada Udzur.
***
Tapi point nya bukan pada hadis boleh atau tidak ke masjid ketika ada wabah. Melainkan ada hal yang lebih mendasar yang saya sadari : bahwa anak-anak kecil sekarang sudah bisa berargumen bahkan mendebat orang dewasa dan hal yang semestinya orang dewasa lebih mengerti. Ketika berhadapan dengan keadaan semacam ini sebagai orang dewasa tentu kita akan merasa serba salah. Terpancing untuk berdebat atau mendiamkan sebagai bentuk mengalah untuk menang. Dua-duanya menurut saya kurang tepat karena jika mendebat tentu kita seakan setara dengan anak kecil, jika mendiamkan jelas kita telah menutup kesempatan si anak untuk mendapatkan ilmu yang benar. Maka dalam keadaan itu yang harus kita lakukan pertama kali adalah berusaha menguasai diri, tenang dan memberikan penjelasan dengan sederhana. Penjelasan dari seorang guru, orang tua, orang dewasa kepada anak-anak. Bukan mendebat. Secara kasar anak kecil adalah orang bodoh. Orang yang belum menemukan atau diisi dengan ilmu. Mereka sedang belajar. Jadi ketika kita larut dalam pusarannya maka apa bedanya kita dengan anak kecil? Dengan orang bodoh?
Kadang kita lupa hal itu. Beberapa orang dewasa memilih beradu berargumen bahkan ada yang mulai marah dan menghardik si anak dengan kata-kata yang keras dan kasar seperti "tau apa kamu anak kemarin sore?!" atau "Baru belajar pipis saja sudah berani ngajarin orang tua" dan masih banyak kalimat lainnya yang tidak tepat digunakan pada anak-anak atau siapapun yang mendebat kita. Kalimat-kalimat ini adalah contoh ngegasnya orang tua yang _kalau saya boleh katakan_ sudah kalah dengan dirinya dan anak kecil yang mendebatnya. Kalimat-kalimat itu bukan hanya kasar tetapi berakibat melemahkan mental dan keinginan si anak untuk terus belajar.
Karena orang yang dewasa dan bijak tidak akan mudah untuk ngeGas. Orang dewasa adalah orang tenang menghadapi semua permasalahan. Termasuk dalam mendidik. Orang tua yang mendidik dengan kasar kelak akan menghasilkan anak-anak yang kasar begitu pula sebaliknya. Karena orang tua atau orang dewasa akan selalu menjadi contoh bagi anak-anak.
Hal penting lainnya adalah batasi penggunaan gadget bagi anak-anak. Ini sangat penting!
![]() |
| Belajar untuk gak Ngegasss dalam mendidik |

Comments
Post a Comment