Hati yang kuat biasanya karena: sudah sering kecewa, terbiasa maklum, mampu mengikhlaskan berkali-kali dan yang pasti sudah melewati berbagi macam "gebukan"
Jika sudah demikian (seharusnya) hari-hari selanjutnya menjadi lebih damai atau paling tidak hati sendiri selalu punya cara berdamai (minimal dengan diri sendiri) meski di luar sana kacau balau. Mereka yang hatinya terlatih patah hati tahu betul bagaimana harus beradaptasi ketika kekecewaan hadir, tahu bagaimana menata diri ketika realita tak sesuai rencana.
Benar kiranya mereka yang tawaddu', ikhlas, tenang, selalu sabar dan bijak pasti telah melewati badai yang berupa-rupa. Hati mereka telah terlatih.
Karena di zaman sosmed sekarang ini, ada banyak hal yang bisa mengganggu bahkan melukai bahkan secara spontan. Anak Facebook terutama. Apalagi pemain baru hehe. Ada satu orang tulis status yang merasa tersinggung buanyak orang. Padahal belum tentu niat yang nulis menyinggung. Kena tuh hati, kepikiran, bisa berhari-hari. Ada orang ungga foto bahagia bersama keluarga, eh ada yang terusik. Apakah ia genk nya Da Kyung? 😁, kena lagi hatinya. Sakit. Ada yang posting makanan, traveling dan lain-lainnya. Eh ada yang galau meratapi diri yang gak bisa kemana-mana. Padahal tadinya sudah bahagia dengan keadaannya. Masyaallah...
Jika hati terlalu sibuk menilai, terlalu sibuk merasa diri hebat, terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, dan dendam hatimu bisa oleng bahkan tenggelam berujung kamu malu. Pernah beberapa kali punya pengalaman melihat mereka ga bisa kuasai hatinya. Saya cerita aja untuk jadi pembelajaran dansedikit menyenangkan hati saya wkwkwkw 😂
Tiba-tiba seorang teman masa remaja menelpon. Ia ada di kota yang sama dengan saya. Anak ini dulunya selaluuu merasa saya saingannya padahal siapa saya? Saya ga pernah merasa bersaing. Mulai dari potongan rambut, punya pacar dll seolah - olah saya sedang nantang dia. Heran saya. Padahal urusan nilai pelajaran eksak dia lebih jago. Akhirnya saya ajak dia ke rumah. Kangsn juga saya sama teman lama. Saya kirim alamat dan map, tak butuh waktu lama ia tiba di depan rumah dan saya sudah menunggunya di depan rumah dengan memakai kaos, sarung dan sendal jepit.
"Mana rumahmu" katanya dengan gaya percaya diri
"Ini kan" kata saya sambil nunjuk nomor rumah di tembok gerbang. Saya sampe agak terbatah karena feeling saya bilang anak ini gak berubah.
"Ah serius, saya ini" katanya kemudian
"Maksudnya? Saya juga serius hahaha" saya heran meski sudah tahu ekspektasi nya dia
"Ini rumah siapa?" shit dia malah nanya begitu
"oh ini rumah anak-anak saya" kata saya "ayo masuk"
Kami masuk dan dia sudah tak sepede tadi. Dia mulai oleng nih dan bicaranya mulai tak terarah. Kalian tebak pertanyaan dan pernyataan selanjutnya dari orang yang mulai oleng karena realita tak sesuai harapan? "Di BANK mana kemarin dapat pinjaman?" Boom!!! "Berapa BUNGA nya???" Duarrrrr!!! "Aku juga ada niat bikin rumah, rencan mau pinjam di bank JUGA" HAHAHAHAHAHAHA 😂😂😂
Saya dan istri saling pandang. Ingin rasanya menjelaskan dengan sedetail-detailnya sampe dia semalu-malu nya tapi saya memilih untuk menjaga hati saya untuk membuat orang lain. Kalaupun orang lain malu biarlah karen ulahnya sendiri Saya katakan dengan segala kerendahan hati kalau kami tidak pernah terlibat apapun dengan bank bla bla bla. Seketika suasana hening dan kembali normal setelah saya ajak beliau nostalgia dengan cerita-cerita masa remaja.
*** Kisah kedua Seorang teman masa kuliah berkunjung ke rumah, perempuan. Bicaranya selalu ngegas. Ribut. Saya paling ga nyaman sama orang yang kalau ngomong kayak lawan bicaranya itu tuli. Bener-bener gak nyaman.
"Ajie, ini ngontrak?" pertanyaan pertama yang ia sampaikan setelah salam "hahaha bisa aja" "serius saya nanya, ini ngontrak?" shit! Saya harus sombong nih lama-lama! "Gak kok, cuma bangun sendiri. Kebetulan berjodoh sama tanah disini. Alhamdulillah dimudahkan Allah lewat teman-teman dan orang-orang baik. Jadi selesai" "Serius??? saya agak ga percaya secara guru honor gitu kan hahaha" acemm! "hahahaha iya yah" saya ikut aja ketawa
Setelah itu dia sibuk ceritain diri nya YANG AKAN bangun rumah karena sekarang ngontrak. Dia nanya budget dan segala macam dan terdiam, lalu pamit.
****
Percayalah perjalanan hati itu tidak mudah tetapi pada akhirnya ketika jawabannya ketemu, semua akan terasa lebih mudah. Hati itu perlu treatment. Perlu perhatian karena jika tidak ia akan mengubah seluruh hidupmu menjadi lebih buruk. Sebaliknya jika kau fahami, kuasai dan rawat baik-baik insyaallah hidup juga lebih baik. Kebenaran dan ketenangan itu mudah di dapat...
-------- Btw kalau kalian ada pengalaman atau ada yang mau didiskusikan, tulis aja di kolom komentar.
Jika hati tak terbiasa ikhlas. Tak terlatih maklum, bahaya. Hatimu gampang sakit dan itu jadi penyakit.Hati yang terlatih gampang bahagia, terlatih mudah ikhlas dan maklum insyaallah ga gampang iri, gak gampang sakit. Kalaupun sakit, gampang nyembuhinnya. Beneran! Maka melatih hati itu penting, teman-teman. Kecewa itu perlu sejak dini, sama seperti pentingnya bersyukur. Banyak cara melatih hati. Pilihannya ada dua, melatih sendiri atau biarkan hidup yang akan memaksamu melatih hati untuk "ramah kecewa" dll. Memiliki hati yang tenang akan menimbulkan pikiran yang positif. Perasaan yang positif. Jika sudah demikian gampang menemukan hal-hal positif di luar sana. Kita gak akan gampang menilai, gak akan seenaknya mengatai orang lain, gak akan mudah berpikir negatif dan ga akan gampang menganggap diri paling tinggi. Percaya saya, banyak sekali pengalaman saya diremehkan, dipandang sebelah mata dll oleh orang lain tapi, Ya awal-awal itu membuat saya yang sudah introvert, minder, semakin galau. Tapi ya itu, hati hari ke hari jadi sabar. Lama-lama ya udah biasa aja. Mereka sibuk meremehkan kita sibuk memperbaiki diri. Lama-lama merasa perlu ada yang seperti itu. Ibarat kita sedang menulis buku, gak perlu bayar editor karena ada mereka yang setia memberi kritik untuk tulisan kita dan untuk itu kita harus berterima kasih banyak karena mereka telah relakan sekian dari umurnya untuk memperhatikan kita sampai pada akhirnya mereka melihat hasil nyinyiran dan kritikan mereka bertranformasi menjadi jauuh lebih baik. Percaya gak percaya saya memberi penghargaan pada mereka yang pernah seperti itu pada saya. Saya beri mereka hadiah, saya bantu mereka, saya baikin mereka tentu saja dengan tulus karena saya berterimakasih. Yaa tentu saja mereka malu hahahaha tapi saya paling tidak suka melihat orang lain malu. Kasian. Jadi meski saya berkesempatan melakukan itu, percayalah saya hanya melakukan beberapa kali hahaha Kakek saya pernah bilang : "Jangan membalas mereka dengan hal yang sama. Jadilah berhasil dalam hidup. Rasa malu akan menjadi pukulan terberat buat mereka." Terimakasi Papin Selamat ku
Jika hati terlalu sibuk menilai, terlalu sibuk merasa diri hebat, terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, dan dendam hatimu bisa oleng bahkan tenggelam berujung kamu malu. Pernah beberapa kali punya pengalaman melihat mereka ga bisa kuasai hatinya. Saya cerita aja untuk jadi pembelajaran dan
Kami masuk dan dia sudah tak sepede tadi. Dia mulai oleng nih dan bicaranya mulai tak terarah. Kalian tebak pertanyaan dan pernyataan selanjutnya dari orang yang mulai oleng karena realita tak sesuai harapan? "Di BANK mana kemarin dapat pinjaman?" Boom!!! "Berapa BUNGA nya???" Duarrrrr!!! "Aku juga ada niat bikin rumah, rencan mau pinjam di bank JUGA" HAHAHAHAHAHAHA 😂😂😂
Saya dan istri saling pandang. Ingin rasanya menjelaskan dengan sedetail-detailnya sampe dia semalu-malu nya tapi saya memilih untuk menjaga hati saya untuk membuat orang lain. Kalaupun orang lain malu biarlah karen ulahnya sendiri Saya katakan dengan segala kerendahan hati kalau kami tidak pernah terlibat apapun dengan bank bla bla bla. Seketika suasana hening dan kembali normal setelah saya ajak beliau nostalgia dengan cerita-cerita masa remaja.
*** Kisah kedua Seorang teman masa kuliah berkunjung ke rumah, perempuan. Bicaranya selalu ngegas. Ribut. Saya paling ga nyaman sama orang yang kalau ngomong kayak lawan bicaranya itu tuli. Bener-bener gak nyaman.
"Ajie, ini ngontrak?" pertanyaan pertama yang ia sampaikan setelah salam "hahaha bisa aja" "serius saya nanya, ini ngontrak?" shit! Saya harus sombong nih lama-lama! "Gak kok, cuma bangun sendiri. Kebetulan berjodoh sama tanah disini. Alhamdulillah dimudahkan Allah lewat teman-teman dan orang-orang baik. Jadi selesai" "Serius??? saya agak ga percaya secara guru honor gitu kan hahaha" acemm! "hahahaha iya yah" saya ikut aja ketawa
Setelah itu dia sibuk ceritain diri nya YANG AKAN bangun rumah karena sekarang ngontrak. Dia nanya budget dan segala macam dan terdiam, lalu pamit.
****
Percayalah perjalanan hati itu tidak mudah tetapi pada akhirnya ketika jawabannya ketemu, semua akan terasa lebih mudah. Hati itu perlu treatment. Perlu perhatian karena jika tidak ia akan mengubah seluruh hidupmu menjadi lebih buruk. Sebaliknya jika kau fahami, kuasai dan rawat baik-baik insyaallah hidup juga lebih baik. Kebenaran dan ketenangan itu mudah di dapat...
-------- Btw kalau kalian ada pengalaman atau ada yang mau didiskusikan, tulis aja di kolom komentar.

Good job
ReplyDeleteMantul pesannya Bang, itu dah Bang, banyak yg ngak ngerti rejeki itu ngak dateng dari kantor, tapi dari Allah.
ReplyDeleteNaah iya ini sepakat Saya, apa yang terkadang keluar dari mulut atau tulisan mungkin terlihat sepele Tapi efeknya itu kadang besar banget.saya masinget gimana kesalnya Saya gara gara dapet komen di Sosmed, asli itu butuh waktu ampe 2 Hari untuk memulihkan diri. Nais artikel bro Dan terimakasih udah mengingatkan
ReplyDelete