Seumur hidupnya, anak-anak akan selalu mengingat momen-momen sederhana yang pertama kali mereka lakukan dan menyenangkan. Seperti belajar memasak, bercerita sepulang sekolah dengan ibu, diajari menjahit, moment diajarkan mencangkul atau menanam tetumbuhan oleh bapak dan sebagainya. Hal-hal sederhana yang kelak menjadi kenangan indah yang akan menemani hidup anak-anak.
Seperti yang akan selalu saya kenang. Moment "Menggantang Fitrah" bersama kakek saya adalah salah satu moment yang Akan terus saya ingat dan rindukan. Moment sederhana yang menyenangkan, setidaknya bagi saya dan saudara - saudara saya.
Tanggal 25 atau 26 Ramadhan kakek kami Selamat Riadi sudah menggiling padinya berkarung-karung. Bibi-bibi dan ibu saya membersihkan beras-beras itu dengan tampi (Tepi' bahasa Sumbawa nya). Pemandangan ibu-ibu menampi beras ini pun adalah kenangan indah sekali buat saya. Ada keharmonisan yang tak hanya terlihat tetapi juga terasa. Ada kekompakan dan kasih sayang disana. Hingga akhirnya beras kembali masuk karung dengan bersih.
Ba'da ashar, papin Selamat, kakek saya yang tampan itu sudah siap dengan baju rapi, sarung dan pecinya. Tikar pandan digelar di ruang tengah rumah panggungnya. Lalu di atas tikar digelar lagi selembar karpet plastik tipis bermotif pattern klasik. Selanjutnya butiraan demi butiran beras bernas mulai berjatuhan rapi di atas karpet. Kakek duduk bersila menghadap Qiblat, di atas tikar dengan benda dari kayu hitam serupa ember di depannya. Benda itu kami sebut Gantang Fitrah. Entah terbuat dari kayu apa yang jelas umurnya lebih tua dari kakek. Ada ukiran arab di sekelilingnya. Syahadat. Gantang Fitrah dibuat untuk menakar beras sesuai perintah Allah dan rasulullah. Pemandangan ini menakjubkan buat saya. Beras yang di atas tikar, gantang fitrah yang berwibawa dan kakek yang mulai merapalkan nawaitu Zakat fitrah.
Saya duduk di pinggiran tikar, sepupu-sepupu ku yang perempuan menunggu di sisi lainnya. Beras di takar, dimasukan ke wadah yang di pegang sepupuku, di atas beras diletakkan kemiri dan jajan semprit, kadang juga rempah serupa pala dan lainnya. Lalu berangkatlah kami menuju rumah mereka yang berhak menerima fitrah. Disana kami duduk dengan takjub melihat sang penerima membaca doa sebelum memindahkan beras ke wadah lain. Kami bersalaman mencium tangannya dengan santun. Lalu berlari pulang untuk menggantang fitrah selanjutnya.
What a beautiful memories! Unforgettable moment!
Lalu hari ini, nun jauh dari kampung halaman. Saya mengingat kembali moment itu. Berharap bisa mengulangnya bersama dua putri kecil saya dengan saya yang duduk di posisi kakek saya dulu. Dada saya kembang kempis ketik pertama kali melakukannya. Air mata hampir menetes. Rindu yang seketika mengepung. Anak-anakku terlihat riang membuatku kembali tenang. Tak ada Gantang fitrah tapi emak bilang ukuran sama dengan ember cat di rumah saya.
Saya merapal nawaitu dengan dada bergemuruh dan air mata yang hampir luruh. Kangen kakek. Kangen rumah panggung yang penuh kenangan. Kangen ramadhan di kampung halaman. Tetapi saya sedang hidup dalam kenyataan, bukan kenangan. Segera saja semua saya selesaikan.
Tradisi dan kenangan ini harus terus berlanjut.
Terimakasih para orang tua kami untuk kenangan - kenangan baik yang dibekalkan untuk kami. Inilah warisan terbaik. Lebih dari apapun.
Alhamdulillah beras-beras dari sawah kakek neneknya Quin Deeva, sudah menemui pemiliknya sore ini. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi kita semua.



Alhamdulillah.
ReplyDeleteJadi pengen ikut menulis kenangan yang sama. Kalau di saya, mwnggantang zakat fitrah, identik dengan satu bokor kuningan. Beras satu bokor penuh dan peres, setara 2.5 kg, takaran wajib zakat fitrah.
Salam Kamis manis dari Selong, buat duo bidadarinya Bang Ajie.
Asyik, sekarang typonya sudah kurang dari 5 kata. Alhamdulillah ^^
HAHAHAHA Sa Ae bun.
Delete