Salah satu rekan saya yang kakaknya positif Covid-19 bercerita bagaimana keadaan kakaknya di ruang Karantina di RS. Kebetulan kakaknya ini berangsur sehat hanya saja hasil tes hinggal ketiga kali masih positif terus. Sudah satu bulan setengah beliau di RS. Di ruangan yang sama setiap hari.
Rekan saya ini bercerita dua minggu pertama kakaknya cukup "menikmati" karantinanya dengan bekal buku-buku bacaan yang dibawakan keluarganya. Minggu berikutnya mulai merasa bosan dan semakin bosan. Rasa kangen anak istri menjadi-jadi. Beliau jadi sering nangis dan teriak - teriak meluapkan rasa di dadanya.
Di hari rekan saya ini bercerita, kakaknya memelas sekali ingin bertemu anak - anaknya. Pihak keluarga juga sudah memohon untuk karantina mandiri tetapi belum ada izin karena dikhawatirkan akan menularkan ke keluarganya dan kemungkinan menyebar lagi semakin besar.
Saya mendengar dengan seksama dan berkali-kali mata saya sembab karena rekan saya ini bercerita sambil berair mata. Beliau juga kangen kakaknya dan yang paling beliau kasihani anak istri kakaknya yang sementara ini tinggal bersama beliau.
Kenapa saya ceritakan ini disini? Saya ingin kita berpikir berkali-kali jika ingu meremehkan keadaan ini. Coba berpikir bagaimana rasanya tak bertemu keluarga sebulan lebih apalagi di bulan ramadhan? Juga tak jelas kapan akan bertemu lagi. Coba bayangkan gimana rasanya sebulan lebih bangun dan tidur di dalam ruangan yang sama terus. Pagi siang malam disitu terus. Semua aktifitas disitu terus. Apa gak bosan kamu? Iya kamu yang keluar rumah cuek tanpa masker.
Pikirkan sebelum pada akhirnya kamu mengalami. Gimana nasib anak istri, suami, bapak ibu mu jika kamu harus dikarantina berminggu-minggu? Gimana pekerjaanmu? Pendapatanmu? Sosialmu?
Kemana ya pikiran mereka-mereka yang bebal gak mau pake masker ini? Beberapa kali saya bawa masker lebih lalu nekat negur dan ngasi mereka yang gak pake masker. Soalnya mereka yang gak pake masker saya yang merasa ini horror banget. Tapi kan gak bisa gitu terus tiap hari. Harus ada kesadaran diri.
Alhamdulillah polisi mulai sering patroli masker sekarang sepertinya. Semoga bisa lebih menyadarkan. Kadang kebaikan itu harus dipaksakan.

Yap.. pasti sangat berat. Saya tidak terbayang berada dalam posisi di atas. Tidak terbayangkan harus jauh dari anak istri.
ReplyDeleteDan, memang menjengkelkan melihat kelakukan banyak orang yang terus menerus mengabaikan kenyataan bahwa kita dalam situasi yang berbahaya. Ada rasa geram melihat mereka yang meremehkan.
Cuma, pada akhirnya, saya menemukan bahwa cara terbaik adalah membangun benteng untuk melindungi keluarga sendiri dan mengacuhkan yang tidak mau nurut seperti itu. Setidaknya saya berusaha berbuat yang terbaik bagi keluarga saya dari ancaman penyakit ini.
Baru mungkin berusaha mengajak 1-2 orang di lingkungan kita untuk berkontribusi dan bergerak ke arah yang sama.
Paling tidak dengan begitu energi dari rasa geram dan jengkel bisa disalurkan ke arah yang positif dan tidak merusak diri sendiri.