Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal dan Teologi


Bahas Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal dan Teologi itu seru banget apalagi langsung dengan pakarnya.

Jadi ini adalah salah satu video #TemanNgobrol Imajie tv yang bisa dibilang tak terencana. Ceritanya begini..
Jadi istriku punya teman Online, seorang ibu-ibu yang beberapa tahun lebih tua usianya. Sebut saja namanya Kokom. Mereka berteman sudah sejak 2010an lah. Sudah sangat lama. Awalnya sebagai pedagang dan pembeli lalu menjadi teman ngobrol dan semakin erat. Sejak tahun itu mereka tidak pernah bertemu. Lalu suatu hari di tahun 2019 mbak Kokom ini berkesempatan ke Lombok berlibur bersama keluarga nya. Kami pun bertemu tapi pertemuan yang singkat sekali kala itu. Hingga akhirnya tiba-tiba seminggu yang lalu jam 6.30 pagi ada tamu si depan gerbang. Kami bingung siapa tamu sepagi ini.
Ternyata mbak Kokom dan suaminya jalan kaki ke rumah kami dari hotel tempatnya menginap. Jalan kaki sehabis subuh berbekal google map. Mantab jiwa!
Lalu kami menikmati teh pagi kami sambil ngobrol di ruang tamu hingga akhirnya saya terlambat berangkat kerja dan mengantar anak-anak ke sekolahnya tapi itu bukan masalah. Tidak terlalu terlambat juga hehe
Obrolan yang nyambung justru obrolan saya dan suaminya. Beliau bercerita kedatangannya ke NTB untuk meneliti dan mengkurasi naskah kuno di Lombok dan Sumbawa. Beliau bilang Lombok adalah salah satu tempat paling banyak naskah kuno nya, beliau ini memang background nya adalah Peneliti di Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Keagamaan. Beliau meneliti manuskrip-manuskrip kuno dan masa lampau untuk keperluan Mitigasi bencana berdasarkan kearifan lokal dan teologi tadi.
Saya pikir ini obrolan yang perlu banget banyak orang tahu karena sangat penting. Saya pun menawarkan beliau untuk ngobrol di lantai atas rumah kami, di studio #imajietv dan gayung bersambut beliau mau dengan senang hati berbagi bersama #imajiepeoples.
Saya rasa penting karena kita berada di wilayah cincin api yang artinya hampir setiap waktu bencana mengintai kehidupan kita. Ya gempa, ya gunung meletus, ya banjir, longsor dan sebagainya. Leluhur kita tentu sudah mahfum akan masalah ini sehingga lahirnya bentuk-bentuk adaptasi mereka yang bisa kita lihat dari bentuk dan arsitektur bangunan tradisional kita, tempat tinggal kita, awiq-awiq yang kita harus patuhi dan berbagai macam hal lainnya baik berbentuk fisik (bagunan, benda dan tulisan) maupun lisan sehingga jadilah kita memiliki identitas diri sebagai manusia yang memiliki budaya. Semua itu terbentuk setelah beberapa kali menyesuaikan diri dengan alam.
Namun hari ini identitas kita mulai terkikis perlahan bahkan saat ini sudah mengkhawatirkan. Sekitar tahun 2008 lalu saya bahkan pernah baca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa salah satu bahasa yang diprediksi akan punah dalam 50 tahun ke depan adalah bahasa Sumbawa. Ya gak mengherankan karena anak-anak di Sumbawa lebih senang diajarkan bahasa indonesia sejak kecil daripada bahasa daerah dan beberapa contoh lainnya. Rumah-rumah panggung yang mulai ditinggalkan adalah bentuk kita mulai membuang identitas kita, lalu mengambil identitas baru yang sesungguhnya tak cocok dengan bentang alam kita.
Obrolan ini buat saya amat sangat menarik karena ini adalah kesempatan saya bersuara. Mengajak semua orang untuk mulai sadar bahwa pelan-pelan identitas kita hanya bisa kita saksikan di panggung-panggung bukan lagi pada kehidupan sehari-hari. Saya ingin mengajak teman-teman untuk kembali bangga pada budaya dan tradisi kita Tau Samawa, Dengan Sasak dan Dou Mbojo karena kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?
Mungkin di beberapa tempat dan bagian kita sudah terlambat tapi ada bagian lainnya yang masih bisa kita perbaiki dan insyaallah bisa menyempurnakan bagian - bagian lainnya dari budaya dan tradisi kita. Bukan semata-semata sebagai identitas yang hanya bisa dilihat melainkan sebagai bentuk cinta pada alam dan cara survive dan adaptasi kita pada alam
Well, insyaallah videonya tayang besok. Tungguin ya tapi sebelum nya kalian sudah subscribe kanal Youtube imajje belum?
Kalau belum, subscribe disini bit.ly/imajieTV




Comments