Trauma Masa Kecil

Mungkin banyak yang bilang saya sombong, cuek, anti social dan sebagai nya, syukur - syukur ada yang bilang saya pemalu, masih okelah.😜 Mungkin banyak orang melihat betapa mudahnya hidup saya. Betapa mulus jalan saya sampai titik sekarang. Percayalah saya yang sebenarnya tidak tahu malu, saya tidak sombong, saya juga tidak cuek tapi entahlah sejak dulu saya sering diliputi rasa tidak nyaman bertemu orang (terutama orang baru) dan berlama-lama bersama orang yang belum saya akrabi (apalagi sama orang yang saya suka, kagumi dan semacamnya). Percaya lah hidup saya perjuangannya berdarah-darah melawan trauma dalam diri saya sendiri yang orang lain tak akan mampu melihatnya. Trauma yang kalau kamu kalah kamu bisa saja berakhir di rumah sepi dengan mulut berbusa setelah menenggak baygon. 

Karena itulah saya ingin bercerita disini kenapa bisa seperti itu, meski sebenarnya bingung memulai dari mana...

Kita flash back ke diri saya yang duduk dibangku kelas 5 SD, di SDN 1 Pukat yang sudah punah itu. Suatu hari saya mendapati diri saya duduk sendirian di perpustakaan sekolah yang jarang sekali buka. Saya membuka buku penjaskes kelas 6, menarik karena bahasannya selain olahraga ternyata ada membahas tentang perkembangan remaja. Mata saya menemukan tulisan yang sampai kapanpun akan saya ingat sebagai titik balik pertama hidup saya. Tulisan itu tentang dua jenis remaja :

1. Remaja masa depan cerah (Maderah) dengan ciri-cirinya
2. Remaja masa depan suram (madesu) juga dengan ciri-cirinya.

Saya terperanjat, saya ada di nomor 2. Sejak saat itu saya bertekad mengubah hidup saya sendiri!

***

Saya adalah anak pertama, cucu pertama dari kedua pihak keluarga orang tua saya. Bayangkan gimana menjadi saya. Meski bukan dari keluarga kaya raya saya merasa semua perhatian dan kasih sayang berlebih saya terima.

Jika anak-anak lain boleh pergi melihat dangdutan di kondangan orang malam2 saya hanya boleh mendengarkan dari rumah, ibu saya melarang. Jika teman-teman saya boleh bermain melewati waktu bermain saya bahkan harus dipaksa tidur siang, bermain pun harus dengan si A, B C ga boleh dengan si E, F, G. Jika setelah sholat led dan bersilaturrahmi dengan keluarga teman-teman ku boleh naik motor ke pantai, ke kampung lain dll maka saya hanya boleh diam di rumah menonton operet lebaran dan menyambut tamu yang datang.

Hari Minggu pagi ku waktu kecil selalu duduk manis di depan tv tabung mengikuti Pak Raden menggambar atau menulis surat untuk Kak Devi dan si Kumba ketika teman-temanku ramai-ramai pergi nonton wirosableng ke kampung sebelah. Sesekali aku ikut tapi pulangnya pasti kena omel. Paling menyenangkan adalah aku ke Kebun sama kakek nenekku. Menangkap burung memancing ikan atau bermain rumah-rumahan lalu membuat simulasi kebarakan. Sendirian!
Akupun tumbu jadi anak yang katanya cerdas dan pintar tapi apalah arti semua itu kalau aku juga tumbuh menjadi anak yang minder. Aku sendiri tak mengerti mengapa aku harus minder padahal tak ada yang harus jadi alasan untuk itu. Pujian-pujian kakekku lah yang sedikit menguatkanku dan selalu ku ingat sampai saat ini. Selebihnya yang ada ditelingaku selalu suara ibuku dengan larangan-larangan nya. Aku mengerti itu adalah bentuk perlindungan dan kekhawatiran orang tuaku tapi mungkin saat itu orang tua kita tak banyak mengerti bagaimana seharusnya parenting itu.

Tumbuh dengan mental yang minder sangat tidak enak teman-teman. Aku tidak bisa main bola eh bukan tidak bisa lebih ke tidak percaya diri bahwa aku bisa, aku tidak bisa bergaul dengan baik dengan teman-teman ku. Karena selalu muncul dalam pikiranku "aku ga keren, aku ga bisa kayak mereka, aku ini bla bla bla" shit! Ini part paling menyiksa!

Karena hal itu jadilah aku bulan-bulanan bullyan teman-temanku. Tau apa mereka tentang perasaanku!? Di tempat ngaji, di sekolah bullyan udah makanan sehari - hari, beberapa kali aku melawan, melempari mereka dengan batu dan kena salah satu kepalanya hasilnya, ibunya datang marah2 ke rumah. Rasanya saat itu sekolah dan tempat ngaji adalah tempat menyebalkan. Jadilah aku sering nongkrong sendirian di atas pohon jambu sambil membaca buku, di rumah membaca buku, di kebun sambil menemani nenekku, dengan buku! Kebayang jika tak ada buku. Meski akhirnya aku semakin tumbuh menjadi pemalu. Tapi di  SMP ada harapan baru.

Nyatanya sama saja bahkan lebih parah! Tukang bully nya makin banyak!
Rasanya mau mati memikirkan gimaba cara lepas dr perasaan minder dan bebas dari bullyan mereka?? Padahal aku tidak jelek, aku berprestasi, pratama pramuka di sekolah, ketua PMR di sekolah, bahkan sering ikut wakili sekolah dalam lomba-lomba. Kenapa masih susah lepas dr bullyan dan rasa minder?? Bahkan aku dapat surat cinta pertama kali dari anak kelas 1 yang pesan pembukanya berbunyi begini

"Kak, meskipun kamu culun culun gitu tapi aku jatuh cinta... Blablabla"

Nyet!

Mau senang tapi mau nangis juga rasanya.

Pulang sekolah, kadang sepedaku ga ada di tempatnya, aku jalan kaki di depan anak-anak labu bua lalu ramai - ramai di teriakin "Liat-liat jalannya kayak monyet pake walkman! Huwahahaha"

Anjing!
Dan aku makin kikuk jalannya, rasanya pengen lempar muka mereka semua pake batu.

Pada akhirnya SD SMP itu 70% adalah masa suramku. Sialnya justru di situlah usia-usia penting pertumbuhan fisik dan mental seorang anak. Semua mengendap di bawah sadar dan kelak akan muncul menjadi trauma. Dan benar saja, sejak usia 25 hingga saat ini trauma trauma masa kecil muncul menguat dan kembali membuat saya berjibaku menjinakannya. Berusaha berdamai dan mengikhlaskan. Sering bisa tapi kadang - kadang lose!

Alhasil, aku menjadi orang yang introvert, bukan pemalu tetapi tidak nyaman berlama-lama dengan orang lain beramai-ramai. Tidak suka keramaian, lebih nyaman menyendiri dan menyepi. Sulit memulai komunikasi, saya kadang membenci perhatian-perhatian dan sebagainya yang menjadi rumit ketika masalah - masalah hidup turut datang.

Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih percaya diri, Saya sudah berdamai dengan masa lalu saya, Saya sudah memaafkan siapapun yang dulu membully saya. Meski tidak bisa saya lupakan.
Saya pun menjadikan semua itu pelajaran berharga buat bekal saya membesarkan anak-anak saya dan tak bosan - bosan saya ajak semua orang di sekitar saya agar tak Hanya memperhatikan kesehatan fisik anak tetapi juga mentalnya. Itu juga amat sangat penting.

Sebenarnya masih panjang dan banyak yang ingin saya ceritakan sebagai pembelajaran buat semua. InsyaAllah kalau ada kesempatan saya buat sebuah video.
Terimakasih telah membaca.

NB :
Oh iya, suatu hari saya pernah menjadi pembicara di depan orang-orang yang pernah membully saya saat SMP. Saya menceritakan pengalaman saya dibully dan sialan saya menangis terbawa emosi melihat muka muka itu ada disana mendengarkan saya menyampaikan agar mereka menjaga anak mereka dari bahaya bullying!

Teman Kelasku di Sekolah Dasar


Comments