Notes ini saya tulis setelah makan siang dan cuci tangan. Hari ini saya makan siang dengan menu ayam lalapan favorit saya, yang hampir setiap mau makan di luar bersama siapapun saya akan rekomendasi kan menu ini. Selain harga yang affordable, rasa dan porsi menu nya mantab banget.
Apa yang akan saya tulis ini sebenarnya sudah terpikirkan beberapa jam sebelum makan siang. Karena takut lupa, saya terus memikirkan nya ketika rapat, ketika membereskan meja dan laptop juga saya pikirkan terus naik motor.
Apa yang akan saya tulis ini sebenarnya sudah terpikirkan beberapa jam sebelum makan siang. Karena takut lupa, saya terus memikirkan nya ketika rapat, ketika membereskan meja dan laptop juga saya pikirkan terus naik motor.
Bisa dibilang saya teringat terus materi ini karena saya patah hati sepertinya. Ya, ketika saya sedang "sayang-sayangnya" ia menghilang begitu saja tanpa bekas dan kabar yang jelas. Hingga saya berhasil move on setelah menemukan yang lain yang kembali mengisi sisi hati eh sisi lambung saya yang kosong.
Betul
Ini tentang makanan. Makanan favorit saya di sebuah kedai yang saya kenal sekali perjalanannya. Sebuah kedai makan harga mahasiswa yang dulu memulai usaha dari warung kecil banget dengan menu yang "berani" pada saat itu. Ketika kedai-kedai lain menjual ayam goreng dengan lapisan tepung bahkan lebih tebal dari daging ayamnya, kedai ini menawarkan menu pada dan dada ayam super besar tanpa tepung sedikitpun. Pada yang besar, mulus dan empuk. Eh maaf, paha ayam maksud nya. Juga dada ayam yang besar full padat berisi dengan Marinasi sempurna. Pelan-pelan hingga akhirnya berbondong-bondong mahasiswa mahasiswa makan disitu. Pada akhirnya kedai ini berkibar tinggi. Punya kedai di ruko baru yang besar. Manajemen pun makin bagus. Saya pun makin sering makan disana. Sejak kuliah, wisuda hingga bertahun-tahun kemudian. Saya ingat saya sering mengajak kakek saya makan disini.
Hingga suatu hari saya kehilangan arah waktu buka menu dan tak ada lagi menu Andalan itu. Saya Limbung tak tahu harus berpegang pada menu yang mana saya hanya tahu menu itu dan saya setia bertahun-tahun lamanya. Minuman boleh berganti tapi menu makanan? Saya ga bisa kelain hati. Hmm mksdnya lain menu.
Sejak hari itu saya bingung tiap mau makan di luar. Makan dimana ya? Menu yang mana ya? Saya kehilangan arah. Saya takut kecewa pada menu dan tempat baru. Saya terlalu bergantung pada pada dan dada padat berisi dan enak itu. Kadang saya tetap kesana. Membuka menu atau memesan langsung pada pelayan yang sudah sangat familiar itu, kemudian dia hanya menatap saya dengan tatapan sedih tapi bibir tersenyum sekenanya yang saya artikan "maaf mas, menu itu tinggal kenangan, silahkan coba menu lainnya"
Hingga akhirnya saya menemukan tempat dan menu baru yang hampir mirip yang pada akhirnya berhasil mengisi hati saya kembali.
Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa rasa adalah segala nya. Sebagai pelanggaan, selain hati yang nyaman, rasa yang sudah nyaman di lidah adalah koentji! Jangan rebut itu dari kami. Jika pun menu itu bahan bakunya jadi mahal pliss jangan turunkan kualitas rasanya apalagi sampai menghapus nya dari buku menu. Itu kejam!
Bukan hanya kejam kepada lidah pelanggaan tapi kejam pada usaha Anda sendiri. Lihat, kedai itu sekarang terbenam di antara kedai-kedai makan yang bertabur selebgram dan menu yang update serta menawarkan rasa yang tak pernah ada sebelumnya. Pada akhirnya yang rugi adalah anda sendiri.
Tak apa naikan harga karena untuk orang yang Jatuh cinta tak ada harga mahal itu. Kecuali ketika akhir bulan 😜
Daripada membuang satu-satunya yang mampu menarik banyak pelanggaan hanya karena harga naik mengapa tak naikan saja harga mengikuti kenaikan bahan baku? Pelanggaan setiap akan memaklumi itu karena rasa telah mengikat mereka seperti Badarawuhi mengikat Bima dan Ayu.
Pada akhirnya kini saya lebih longgar dalam urusan rasa. Ekplorasa alias Ekplorasi rasa itu tak dosa kok asal bayar. Untuk menemukan rasa yang paling pas dan nyaman di lidah. Karena rasa... Ah lanjutkan sudah!
Selamat makan siang

Comments
Post a Comment