Luka Batin

Selama rentang waktu 7 tahun (bahkan lebih) saya mengalami tempaan yang menurut saya amat sangat berat!
Selama itu tercipta luka batin, trauma, dendam dan depresi yang hampir saja membuat mental saya jatuh. Alhamdulillah mental saya cukup kuat. Saya sendiri heran dengan itu. Hanya saja fisik saya yang tidak kuat terpapar energi negatif dan semacamnya itu.

Pada akhirnya yang terjadi saat ini adalah saya sulit menangis, gampang depresi, kadang panik attack, trauma pada banyak hal yang bisa mengingatkan saya pada masa-masa itu, was was dan saya kena autoimun Psoriasis!

Selama rentang waktu itu saya berusaha berpositif thinking bahwa ini adalah proses, ini adalah ujian dan ini akan ada akhirnya. Ternyata berpikir positif pun tidak bisa menghindarkan kita dari efek buruk yang saya alami. Tetap Saja saya depresi, was was, Gerd dll meski pada akhirnya sering berjalan waktu semua itu berakhir namun toxic dan energi negatif sudah terlanjur merusak banyak bagian dari fisik dan mental.

Saat ini saya sudah sampai pada fase, saya Memaafkan, saya sudah menerima bahwa hal itu pernah terjadi dan saya berterimakasih dan meminta pada diri saya yang begitu kuat bertahan dan menjadi seperti sekarang.

Tapi melupakan bukanlah kendali saya. Saya tidak bisa mendikte hati dan pikiran untuk lupa sebaliknya hanya bisa diperintah untuk mengingat, bahkan kadang tanpa diminta ingatan selalu datang. Berbeda dengan melupakan yang Benar-benar di luar kendali saya.

Maka sampai hari ini saya kadang masih ke trigger untuk mengingat lagi. Sampai saat ini setiap hari saya berjuang untuk terus melupakan, menerima dan mengikhlaskan tapi memang tidak semuda mereka mengeluarkan energi negatifnya memang. Saya butuh kerja keras yang yang sangat keras dan berat. Saya melawan diri. Melawan ingatan.

So tolong. Kepada siapapun. Ingatkan bahwa waktu itu berjalan, manusia kuat akan lemah, sebaliknya yang lemah akan kuat.

Sialnya ketika sekarang saya berada di atas dengan power yang bisa saya pakai untuk mencabik-cabik mulut mereka saya malah tidak bisa melakukan itu. Hati saya malah mengajak melakukan sebaliknya. Saya berusaha membantu, memberi iba dan empati pada mereka yang telah menanamkan luka teramat dalam dalam batin saya. Saya berusaha membalas tapi tidak bisa. Wajah kakek nenek saya, wajah ibu bapak saya, wajah guru-guru saya muncul dan tersenyum sewakan-akan mengatakan saya tidak perlu menjadi seperti mereka. Saya tidak perlu mengotori mulut dan tangan saya seperti mereka. Ya Allah saya ingin membisikkan kembali Kata-kata jahat mereka di telinga mereka. Saya bahkan ingin membacok, memenggal atau menendang kepala mereka!!

Tapi Allah Maha Baik yang selalu tak ingin saya berbuat jahat. Di dengungkannya dalam hati saya kalimat kalimat teduh dan nasehat yang membuat semua menjadi masuk akal untuk tidak membalas.


Comments