Lama sekali sejak lulus dari kampus saya tidak mau terjun untuk mengajar ke sekolah alih alih saya membangub bisnis sambil membangun rumah tangga
Alasannya karena sejak awal saya tidak begitu berminat menjadi guru. Dulu saya kesulitan berbicara di depan orang banyak. Saya minderan dan introvert dan menjadi guru itu apalagi guru honor gaji bikin geleng-geleng.
Hingga suatu hari semua mengerucut; saya jadi fasilitator Kelas Inspirasi Lombok Pertama yang pada akhirnya membuat berpikir "andil saya dalam dunia pendidikan, apa ya?? Saya sarjana pendidikan lho ini". Kalimat dari pak Anies Baswedan saat itu Benar-benar meresap dan mengganggu saya. Rasanya seperti saat saya merasakan hidayah (Sendu ada sedih dan rasa penuh kekurangan dan rasa berserah)
Kalimatnya sederhana tapi buat saya powerfull : Mendidik adalah tugas orang-orang terdidik. Lalu tepat saat itu salah satu sahabat saya Helmi Rose merekomendasikan saya dengan lebaynya ke sebuah sekolah yang sampai hari ini saya disini. Kemudian anakku mulai tumbuh dan memperhatikan kami orang tuanya yang bekerja dari rumah sehingga ada ke khawatiran ia akan melihat ketidak teraturan saya saat itu; jarang mandi pagi, gak keluar rumah bisa sampe berhari-hari, keluar hanya ketika kirim-kirim barang atau beli makanan. Jadi saya pikir ia butuh contoh yang baik dari saya. Maka ketika semua sudah bertemu di satu titik dengan sendirinya saya menjadi seorang guru.
Long story short, jadilah saya mengajar disini sebagai guru honor dan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak di tahun keenam. Tepat ketika saya sedang dilema meneruskan bisnis saja lalu berhenti mengajar katena merasa jenuh atau tetap mengajar tapi bisnis keteteran.
Tahun ketujuh saya masih disini. Awalnya dalam gambaran saya, saya akan menjadi guru yang ya biasa saja; ngajar dengan media yang membantu saya menjadi mudah menyampaikan materi, lalu pulang. Kenyataannya saya dan guru-guru disini harus menghadapi banyak sekali tantangan. Dari menghandle Siswa inklusi (anak berkebutuhan khusus), siswa dari wilayah yang cukup terkenal dengan n*rkoboy dan beberapa tantangan lainnya.
Saya ingat pertama kali mengajar disini. Saya merasa sangat polos sekali selama ini ketika beberapa murid jauh lebih kenal dan hafal istilah-istilah dalam dunia N*rkoboy itu. Bagimana mengonsumsinya, bagaimana menjadi kurir, dapatnya berapa dan yang sedih juga ketika mereka dengan santai menjawab "Bapak saya masih buron, pak" Ketika orang tuanya diminta datang ke sekolah karena keperluan tertentu.
Alhamdulillah tahun ketiga saya mengajar sudah tidak ada lagi anak-anak yang membahas itu, entah memang orang tua mereka tak lagi berbisnis itu atau efek satu kompi polisi sempat mengepung pemukinan itu. Kalau kalian pernah nonton Polisi di Film The Raid mengepung apartemen yang isinya "itu" semua, lebih kurang seperti itulah pemukiman itu di datangi polisi waktu itu.
Bayangan saya, saya akan menjadi guru yang biasa saja itu pun jauh panggang dari api. Setiap hari berjibaku dengan anak-anak yang superrrr ini dari genetasi ke generasi. Herannya saya menikmati. Saya menyanyangi mereka dan karena itu dengan sendiri nya keinginan untuk selalu ada dan memberikan perhatian dan bimbingan mengalir dengan sendiri nya. Saya pikir saya akan bertahan setahun atau dua tahun saja but see? Seven years! Woohoo!
Tahun ini tantangan level berikutnya tiba lagi. Dua siswa saya dengan latar belakang yang cukup menyedihkan menguji emosi setiap hari. Tapi beneran saya tidak pernah Benar-benar marah. Karena bagaimanapun keadaan siswa saya itu bukan salah mereka. Mereka hanyalah anak-anak yang tumbuh besar diasuh oleh lingkungan.
Sesungguhnya saya ingin bercerita jauh dan detail tentang mereka tapi cukup segini saja sebagai pengingat bahwa saya pernah menghadapi anak-anak yang membagongkan dan memberi banyaaaak sekali pelajaran penting untuk saya jadikan bekal ke masa depan.
Semoga Allah kuatkan dan sabar-sabarkan kita para guru dan orang tua
.jpg)



Comments
Post a Comment