Perjalanan Nekat Demi Kopi Punik Sumbawa!


Genks, seperti biasa saya selalu punya rencana untuk libur lebaran. Bersama keluarga besar saya, keluarga istri dan planing me time saya. Dua rencana awal berjalan baik dan menyenangkan namun rencana ketiga gagal di H-1 karena perjalanan yang rencananya akan saya tempuh terlampau jauh untuk motorans sendiri, nyalinya maju mundur karena tadinya saya tidak akan sendiri melainkan bersama teman-teman @JelajahSumbawa yang saya gabungkan ke dalam WhatsApp Group bernama #JalanBareng2023. Menjelang harinya hanya ada satu orang yang berkabar, itupun kabarnya tidak jadi ikut. Yaah, padahal destinasi itu destinasi impian saya setahun belakangan ini. Tapi syukurnya saya tidak kecewa-kecewa amat karena saya masih punya B Plan yang tidak kalah asik dan bisa saya jalani sendiri : Menuju Dusun Punik, Sumbawa!

Mengapa Dusun Punik? Ada apa di dusun Punik?

Baiklah saya jelaskan dulu sedikit tentang dusun Punik ya. Jadi, dusun punik itu adalah bagian dari Desa Batu Dulang yang mana Desa Batu Dulang sendiri adalah bagian dari kecamatan Batulanteh Kabupaten Sumbawa. Punik ini berada lebih kurang 98 Km dari pusat Kabupaten Sumbawa Besar. atau jika berkendara dengan motor berkepatan normal minima 80 km/jam akan memakan waktu 1 jam 45 menit lebih kurang. Tetapi karena medan menuju kesana yang berkelok, menanjak tajam dan menurun curam serta beberapa spot terdapat kerusakan jalan makan waktu tempuh bisa lebih dari itu. 

Desa Punik yang saya tahu sebelumnya adalah desa tempat paman saya mempersunting seorang gadis dan menetap disana. Saya hanya tahu namanya saja tetapi belum pernah punya kesempatan untuk melakukan perjalanan kesana. Padaha jika dari desa bapak saya (Desa Samongkat Sampar) tidak terlalu jauh. Karena memang tidak ada kesempatan makan keinginan ke Dusun Punik tidak pernah saya sebut lagi hingga hampir 30 tahun kemudian. Punik yang saya tahu dari cerita kakek nenek, paman bibi dan bapak saya adalah desa di ujung bukit bukit. Tempat yang banyak pohon kemiri dan hasil alam lainnya. Warga desa punik makmur dan bersahaja. 

Cuma itu yang saya tahu hingga akhirnya saya mendengar kemasyuran Kopi Dusun Punik yang banyak di sebut di Kota Mataram dan lainnya. Lalu dengan baiknya Allah membuat saya mengenal Mbak Wiwin Suryani di event Lomba Wirausaha Muda yang sebetulnya iseng saya ikuti. Mbak Wiwin disana hadir sebagai pembicara yang memberikan testimoni karena beliau adalah juara pertama di Lomba Wirasusaha Muda tahun sebelumnya. Mbak Wiwin memberikan speech yang sangat singkat dan membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang Kopi Punik. Meski saya bukan coffee addict tetapi saya menyukai kopi. Maka ada lah alasan saya yang kuat untuk melakukan perjalanan menuju Dusun Punik yang dingin berkabut: Menemui Mbak Wiwin dan Menyeruput Kopi Punik langsung di Dusun Punik mungkan sembari dipeluk halimun di antara pohon kopi juga untuk menemui Paman saya yang entah di sebelah mana rumahnya di Dusun Punik.

Maka hari itu saya membuat pengumunan di sosial media saya bahwa saya akan ke Dusun Punik, jika ada yang berminat ikut silahkan kita bahan dan berangkat hari itu juga. Tak perlu menjelaskan Dusun Punik itu apa dan bagaimana lagi karena nama Kopi Punik Sumbawa sudah sedemikian tersohor. Beberapa teman berminat bergabung dalam perjalanan ini, maka kami putuskan untuk langsung saja berangkat dan bertemu disana. Saya pun berangkat sendiri setelah berziarah ke makam Kakek dan Nenek saya dari bapak di Samongkat Sampar. Perjalanan yang seru, nekat dan healing itupun di mulai.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang jalannya karena teman-teman bisa melihat sendiri di foto-foto di bawah tulisan ini, yang jelas jalan menuju punik itu sangat menantang nyali, memacu adrenalin dan buat saya ini perjalanan yang menyenangkan sekaligus degdegan karena harus bisa beradaptasi dengan cepat pada tanjakan 45 derajat yang disambul tikungan tajam dengan kerikil berserakan yang kadang membuat gentar. Di saat bersamaan depan, kiri dan kanan jalan menyuguhkan view yang aduhai magisss. Serupa scene film Avatar pertama dengan tebing-tebing tinggi, berbatu dan juga pepohonan tua berselimut lumut juga anggrek. Kekar dan angker rupanya tetapi sangat menyangkan untuk dinikmati mata saya. Ingin rasanya mengabadikan dengan kamera tapi apa daya kaki saya tak akan sanggup lama-lama menahan motor di tengah tanjakan dan turunan curam. Cukuplah saya nikmati dengan mata dan hati saja, batin saya saat itu. Perjalanan yang terasa seru sekali karena saya menebak-nebak "sudah dekat atau belum, ya?" dan tak bosan-bosan mata saya menikmati kanan jalan saya yang adalah lembah menganga dipenuhi pepohonan yang rapat dan tebak seperti semak di kejauhan. Indah nian alam ini, semoga terus seperti ini, semoga selamanya seperti ini, aku berdoa dalam hati sembari menyesap dalam-dalam udara segar hingga memenuhi dada.

Lebih kurang satu jam perjalanan saya. Gerbang Dusun Punik akhirnya nampak di kejauhan. Saya tersenyum dan megucapkan salam takzim dalam hati begitu memasuki kawasan dusun indah ini. Tk jauh dari gerbang dusun berdiri dengan bersahaja papan nama Kopi Punik Sumbawa dengan backgroung hitam dan gambar kopi keemasan. Di depan rumah sekaligus kedai kopi, mbak Wiwin sudah menunggu saya bersama dua cewek dari Sumbawa; Samatha dan Destia. Setelah kami bergantian saling menanyakan kabar dan basa basi yang sebenarnya bukan sekedar basa basi, kami mulai menyiapkan spot untuk ngobrol juga menyiapkan perlengkapan pengambilan gambar untuk podcast #TemanNgobrol saya di channel youtube IMAJIE TV. Seperti yang sudah kami bahas sebelumnya via WhatsApp mbak Wiwin sudah bersiap untuk berbagi cerita dan motivasi kepada subscribers saya. Alangkah senang nya bisa ngobrol langsung bersama mbak Wiwin dengan durasi obrolan yang cukup panjang ditemani Kopi Long Black dan Esspresso racikan bang Suherman, suami mbak Wiwin yang sangat cekatan meracik kopi. Seperti kita memasang kancing baju tanpa melihat lubangnya seperti itu bang Suherman melakukan pekerjaannya. 

Obrolan kami bisa teman-teman simak di IMAJIE TV dan Spotify #TemanNgobrol tetapi kopinya silahkan teman-teman nikmati langung ke Dusun Punik untuk mendapatkan kenikmatan rasa dan suasana yang tak ada duanya. 

Setelah ngobrol dengan diawasi kamera dan perekam suara, kami melanjutkan obrolan seru kami bersama mbak Wiwin, Samantha dan Destia. Teman-teman yang lain entah dimana nyangkutnya. Selain ngobrol tak lupa kami berfoto ria, saya mengambil beberapa footage video di sekitar kedai dan di ruang tempat barista pribadi mbak Wiwin beraksi. Bang Suherman dengan santai menjelaskan hal-hal yang saya tanyakan tentang kopi-kopi yang berjejer rapi di dalam stoples di depannya. Hingga saya mahfum dan merasa puas bertanya hahaha. 

Sunggu sore yang indah. Ngobrol bersama orang yang memiliki pengalaman, ilmu dan value di tempat yang syahdu dan candu. Dusun Punik senyaman itu. Hingga saya berpikir untuk menginap dan pulang esok paginya. Namun saya punya janji pada dara-dara kecil saya keesokan harinya. Saya harus pamit sore itu, tapi sebelum benar-benar pulang saya menuju tengah dusun untuk mencari rumah paman saya. Tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Rumahnya ada di dekat mushallah, di depannya berjejer bunga matahari kecil berwarna warni dengan tanah dipenuhi rerumputan yang rata dan lembab. Rumahnya berada di tempat yang agak tinggi dari rumah lainnya sehingga saya bisa melihat atap semua rumah di dusun itu. Sayangnya paman saya sedang tidak di rumah, saya bertemu istrinya dan mertuanya saya baru pertama kali kami saling bertemu dan berkenalan tetapi mereka bilang mereka tahu saya dari cerita paman. Ah senangnya. Mereka senang sekali, begitupun saya. Ingin rasanya ngobrol lebih lama sambil menunggu paman, namun matahari tak mau menunda kepulangannya, sebelum jalanan ditutupu kabut saya harus segera pamit dan melanjutkan perjalanan. Meski pada akhirnya perjalan pulang tetap saja melewati kabut dan gelap magrib. Silahkan bayagkan seperti apa suasananya jalan yang saya ceritakan di atas di waktu magrib. Hehehe.  



















Comments