Lagi-lagi waktu terasa begitu cepat berjalan.
Tiba - tiba udah punya anak tiga dan ada yang mulai remaja. Masyallah TaBarakallah.
Sementara diri kadang rasanya masih merasa masih stuck di usia muda wkwkw. Dalam artian masih bersemangat untuk belajar dan mengejar hal-hal yang saya sukai. Masih senang untuk menantang diri dalam berkarya dan lainnya. Sehingga ketika melihat ternyata uban udah mulai banyak jadi tersadar begitu singkatnya waktu. Rasanya masih banyak hal yang ingin dipelajari, yang ingin di-achieve eh tiba-tiba udah mau 40 tahun aje.
Tapi orang - orang bilang, hidup di mulai di usia 40 tahun, saya belum terlalu mahfum apa maksudnya tetapi karena kalimat itu, di tahun-tahun menjelang 40 ini (jika Allah mengizinkan) saya terus berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam segala hal. Ibadah, kesehatan, connectivity, hati, pikiran dan semuanya yang ternyata gak segampang itu ya. Semakin kesini semakin sadar bahwa musuh terbesar kita ya selalu diri kita sendiri. Bagaimana merespon masalah dan sebagainya ternyata membutuhkan kesadaran dan kesabaran yang terus menerus harus dibiasakan.
Mengejar kebaikan memang jalannya gak selalu mulus karena hadiahnya adalah diri-yang-lebih-bahagia di masa depan, maka saya akan terus melawan diri agar selalu lebih baik dari kemarin kemarin.
***
Sejak kecil saya punya kebiasaan berbicara dengan diri saya sendiri. Entah kenapa sejak kecil saya percaya bahwa saya ini ada dua 😅 Satu anak Baik, satunya lagi si Rebel dan Cuek. Ketika si rebel berulah si anak baik ini akan ceramah deh tuh di kepala saya. Kadang si rebel cuma menjawab "iya deh, maaf maaf.."
Terus Si anak baik akan menggerutu "Kamu bisa lebih aware gak? Kalau kenapa - kenapa, bukan kamu doang yang susah!!"
Lalu ketika si anak baik ini bimbang dan ragu memutuskan sebuah hal atau terlalu overthinking atau terlalu keras pada diri, si rebel ini yang kayak menyadarkan "ayo lah, enjoy this life. YOLO men! Jangan terlalu pikirin apa yang belum dan mungkin gak akan terjadi. Semua itu hanya ada di pikiran saja". Serius, ini banyak kali sangat membantu si anak baik untuk berani.
Hingga tumbuh dewasa, saya masih sering berdialog dengan diri sendiri. Kadang antara si anak baik dan si rebel. Kadang antara hati si emosi dan otak si logika.
Keuntungannya saya jadi berhati-hati dalam menjalani hidup. Saya tidak akan sekonyong konyong mengambil keputusan karena pasti ada diskusi yang objektif dalam diri. Maka apapun keputusan yang saya ambil itu selalu sudah melalui diskusi panjang si Anak Baik dan Si rebel, si otak dan si hati, si Perasaan dan si Logika.
Dan waktupun terus berlari.
Si Rebel dan si Anak baik ini tumbuh dengan baik dan tetap menjadi dirinya sendiri. Mereka yang menjaga saya agar terus belajar menjadi bijak dalam setiap keadaan.
Hanya saja tahun-tahun belakangan si Rebel seperti lelah karena si Anak Baik kadang terluka overthinking dan keras pada dirinya. Untung nya mereka bersepakat waktu itu untuk mendaki dan mereview lagi perjalan hidup yang telah dilewati. Untung nya ada Album Daur Hidup nya Donne Maula yang hampir 100% mewakili suara otak dan hati si Anak Baik dan Si Rebel. Hingga pada akhirnya mereka kompromi satu sama lain dan bersepakat untuk menjalankan hidup ini beriringan sesuai karakter mereka. Si Rebel harus tetap terus ada dan menyala dan meletup letup seperti semangat anak kecil, si anak baik yang kalem harus selalu hidup dan menjadi pengingat dan penunjuk arah buat di Rebel yang selalu merasa dirinya seperti anak kecil yang tanpa masalah. Selalu bahagia dia. Jadi dia harus tetap menjadi anak kecil dalam diri saya dan si Anak Baik harus tetap ada dan evolve dalam diri saya.
Begitu lah.
Harus selalu kita ulang ulang kalimat "Meski tak sempurna, hidup ini indah begini adanya"
***
Comments
Post a Comment