Bahasa Sumbawa Terancam Punah : Sebuah Tinjauan Sosial-Budaya


Bahasa merupakan salah satu identitas utama suatu bangsa dan daerah. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, banyak bahasa daerah di Indonesia berada dalam kondisi kritis, termasuk Bahasa Sumbawa. Berdasarkan data UNESCO, lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia masuk kategori terancam punah, dan sekitar 11% di antaranya sudah berada pada tahap kritis. Bahasa Sumbawa, yang digunakan oleh masyarakat di Pulau Sumbawa bagian barat hingga tengah, menunjukkan gejala-gejala yang mengkhawatirkan. Jumlah penutur aktif dari generasi muda semakin menurun, dan penggunaannya terbatas hanya pada ruang domestik atau antaranggota keluarga lansia. Jika tidak ada langkah konkret, bahasa ini berpotensi hilang dalam satu atau dua generasi ke depan.

Penyebab Bahasa Sumbawa Terancam Punah

  1. Perubahan Pola Asuh Bahasa oleh Orang Tua : Banyak orang tua di Sumbawa kini lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Hal ini dilakukan agar anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan dianggap lebih modern serta terpelajar.
  2. Kurangnya Rasa Bangga terhadap Bahasa Daerah : Sebagian masyarakat masih memandang Bahasa Sumbawa sebagai sesuatu yang "kampungan" atau “kuno”. Stigma ini menimbulkan rasa malu untuk menggunakan bahasa daerah di tempat umum, terutama di wilayah perkotaan.
  3. Dominasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak : Di beberapa wilayah, terutama di daerah campuran dan perantauan, Bahasa Indonesia atau bahkan Bahasa Sasak menjadi bahasa dominan. Bahkan antarsesama warga Sumbawa pun kerap menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan harian.
  4. Minimnya Penggunaan dalam Kehidupan Sehari-hari : Bahasa Sumbawa tidak banyak digunakan dalam konteks formal seperti sekolah, kantor, atau media massa, membuat generasi muda kehilangan ruang praktik bahasa tersebut.
  5. Kurangnya Dokumentasi dan Pengajaran Formal : Pengajaran Bahasa Sumbawa belum terintegrasi dalam sistem pendidikan. Ketersediaan kamus, buku ajar, dan media pembelajaran juga masih sangat terbatas.
  6. Globalisasi dan Gaya Hidup Modern : Anak-anak dan remaja lebih sering terpapar bahasa asing serta budaya luar melalui media sosial dan internet. Bahasa daerah pun dianggap kurang relevan.
  7. Pernikahan Campur dan Mobilitas Sosial : Penggunaan Bahasa Indonesia di lingkungan rumah menjadi lebih dominan, apalagi dalam keluarga campuran. Bahasa Sumbawa perlahan terpinggirkan.
  8. Kurangnya Dukungan Sosial dan Pemerintah : Meski ada inisiatif pelestarian, sebagian besar belum menyentuh lapisan masyarakat terbawah dan belum menjadi bagian dari kebijakan publik secara menyeluruh.


Upaya Pelestarian Bahasa Sumbawa

Agar Bahasa Sumbawa tidak benar-benar punah, perlu dilakukan berbagai langkah strategis, baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Beberapa solusi yang bisa diterapkan antara lain:

Peran Masyarakat:

  • Gunakan Bahasa Sumbawa dalam Keseharian: Orang tua dapat membiasakan anak-anak mendengar dan menggunakan Bahasa Sumbawa di rumah.
  • Bangun Rasa Bangga: Melalui cerita, lagu, atau seni lokal yang menggunakan bahasa daerah, anak-anak bisa tumbuh dengan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
  • Buat Konten Digital Berbahasa Sumbawa: Generasi muda bisa menciptakan video, podcast, atau postingan media sosial menggunakan Bahasa Sumbawa agar tetap relevan dengan zaman.
  • Aktif dalam Komunitas Budaya: Mengikuti kegiatan kesenian, sastra lisan, atau diskusi bahasa daerah dapat memperkuat jati diri bahasa itu sendiri

Peran Pemerintah:

  • Integrasi Bahasa Daerah dalam Kurikulum: Bahasa Sumbawa dapat dimasukkan ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah.
  • Penerbitan Buku dan Media Pembelajaran: Pemerintah dapat bekerja sama dengan peneliti atau budayawan untuk membuat kamus, modul ajar, dan buku cerita anak berbahasa Sumbawa.
  • Pemberdayaan Komunitas Adat dan Budaya: Dukungan terhadap komunitas lokal bisa memperkuat pelestarian bahasa dari akar rumput.
  • Insentif dan Penghargaan: Pemerintah bisa memberikan penghargaan kepada sekolah, komunitas, atau konten kreator yang konsisten menggunakan Bahasa Sumbawa dalam karya atau pengajaran.


Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wadah budaya, nilai-nilai luhur, dan jati diri suatu masyarakat. Jika Bahasa Sumbawa punah, maka hilang pula sebagian warisan sejarah, cerita rakyat, sistem pengetahuan lokal, hingga filosofi hidup yang terkandung di dalamnya.

Maka dari itu, pelestarian Bahasa Sumbawa harus menjadi gerakan bersama. Orang tua perlu kembali mengenalkan bahasa ini kepada anak-anak sejak dini. Sekolah-sekolah perlu membuka ruang untuk pengajaran bahasa daerah. Pemerintah daerah dapat mendukung dengan kebijakan afirmatif, dan komunitas kreatif bisa mengambil bagian lewat media sosial, seni, dan konten digital.

Mari kita mulai dari langkah sederhana: gunakan Bahasa Sumbawa dalam percakapan sehari-hari, banggakan dalam forum publik, dan wariskan pada generasi berikutnya.

Karena bahasa daerah bukan beban masa lalu, melainkan harta karun budaya yang tak tergantikan untuk masa depan.

Comments