Salah satu alasan terpenting untuk hidup di saat ini adalah karena tidak ada yang abadi. Setiap momen, sekecil apa pun itu, pada akhirnya akan berlalu. Kita sering terlalu sibuk memikirkan masa lalu yang tak bisa diubah, atau terlalu khawatir akan masa depan yang belum tentu datang. Akibatnya, kita kehilangan momen-momen berharga yang sedang berlangsung di hadapan kita.
Pernahkah kita benar-benar menyadari hangatnya sinar matahari pagi di wajah kita? Atau aroma teh yang mengepul di cangkir? Senyum tulus dari orang yang kita sayangi? Semua itu adalah hadiah kecil dari kehidupan, yang seringkali kita abaikan karena pikiran kita melayang entah ke mana.
Hidup di saat ini bukan berarti kita melupakan masa lalu atau mengabaikan masa depan. Tapi ini tentang memberi ruang bagi diri kita untuk hadir sepenuhnya—dalam tawa, dalam air mata, dalam keberhasilan, bahkan dalam kegagalan. Karena saat kita benar-benar hadir, kita belajar. Kita merasa. Kita tumbuh.
Banyak hal dalam hidup datang dan pergi: orang-orang yang kita cintai, kesempatan, kesehatan, bahkan rasa sedih atau bahagia sekalipun. Tidak ada yang tinggal selamanya. Justru karena semuanya fana, maka setiap momen menjadi sangat berharga. Itulah mengapa kita diajak untuk menikmatinya selagi bisa.
Menunda kebahagiaan dengan berpikir “aku akan bahagia kalau sudah sukses”, atau “aku baru akan tenang kalau semua masalah selesai”, adalah jebakan yang membuat kita melewatkan kehidupan itu sendiri. Padahal, ketenangan dan kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari pencapaian besar, tetapi dari cara kita mensyukuri detik demi detik yang kita jalani sekarang.
Maka, mari kita belajar hadir. Letakkan gawai sejenak saat berbincang dengan keluarga. Rasakan betul setiap langkah saat berjalan. Nikmati makanan dengan kesadaran penuh. Dengarkan musik tanpa tergesa. Hiduplah dengan hati yang sadar bahwa hari ini adalah anugerah, bukan sekadar jembatan menuju esok.
Karena pada akhirnya, yang paling kita sesali bukanlah hal-hal besar yang tak tercapai, melainkan momen-momen kecil yang tak kita hargai saat mereka datang.
Hidup bukan tentang menunggu badai reda, tapi tentang belajar menari di tengah hujan. Maka, mari menari hari ini. Karena esok mungkin tak akan sama. Dan yang paling nyata adalah sekarang.

Comments
Post a Comment