Jangan Asal Tuduh Syirik: Tradisi Leluhur Kita Tak Selalu Tahayul


Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi kecenderungan di masyarakat untuk langsung menghakimi praktik-praktik tradisional sebagai syirik, tahayul, atau tidak sesuai ajaran agama tanpa terlebih dahulu memahami konteks, filosofi, dan mekanisme kerja dari praktik tersebut. Tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dianggap kuno, tidak logis, bahkan sering kali disamakan dengan kesesatan, padahal jika dicermati secara ilmiah, banyak dari tradisi itu justru menyimpan kearifan lokal dan prinsip ekologi yang selaras dengan sains modern.

Tulisan ini ter-trigger oleh seseorang yang menuduh seseorang lainnya syirik karena menempel bawang putih di baju anak bayinya dengan peniti. What??? padahal bawang putih dan bawang itu anti bakteri yang bagus banget. Dengan menempelkan ke anak itu sebagai bentuk perlindungan anak dari bakter, virus dan kuman. Gampang banget nuduh orang syirik.  Berarti orang yang pakai sabun perlindungan dari kuman juga syirik gitu? Astagfirullah...

Tradisi dan Ilmu Pengetahuan Tidak Selalu Bertentangan

Salah satu contohnya adalah tradisi melarung kepala kerbau ke laut yang dikenal di beberapa komunitas pesisir di Indonesia, termasuk Sumbawa. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai memberi makan "baeng lit” (penunggu lautan) agar diberi banyak hasil tangkapan ikan. Sekilas praktik ini tampak aneh, bahkan dianggap mendekati kemusyrikan. Namun, penelitian dalam bidang oseanografi dan biologi kelautan menunjukkan bahwa bahan organik seperti kepala hewan yang dilarung ke laut dapat menjadi sumber makanan bagi plankton dan mikroorganisme laut. Plankton ini kemudian menarik ikan-ikan predator yang lebih besar, sehingga lokasi tersebut menjadi lebih produktif bagi nelayan. Dengan kata lain, praktik ini secara ekologis menciptakan ekosistem penyangga sumber daya laut — dan terbukti efektif lewat pengalaman turun-temurun.

Hal serupa berlaku untuk mitos “Seruling Dewa” di wilayah Lombok Utara yang disebut-sebut mampu mendatangkan hujan. Meski terdengar seperti cerita fiktif, dalam kajian fisika gelombang dan geo-akustik, ada fenomena di mana frekuensi suara tertentu dapat memengaruhi getaran dan kelembaban udara, terutama di daerah dengan kondisi elektromagnetik yang unik. Meskipun belum ada penelitian langsung mengenai seruling ini, konsep seperti sound resonance dan pengaruh medan magnet terhadap pola cuaca lokal adalah topik yang diakui dalam sains modern.

Kajian Ilmiah tentang Tradisi yang Dicap Tahayul

Bukan hanya dua contoh di atas. Banyak penelitian ilmiah sudah mengkaji tradisi leluhur yang sebelumnya dianggap tidak rasional. Misalnya:

Tradisi pengasapan rumah (fumigasi tradisional), Di beberapa daerah digunakan untuk ‘mengusir roh jahat’. Ternyata, asap dari tanaman tertentu yang digunakan seperti daun sereh, kayu manis, atau cendana mengandung zat antibakteri dan antivirus alami. Studi oleh World Health Organization (2002) menunjukkan bahwa asap herbal ini bisa menurunkan jumlah mikroorganisme di udara dalam ruangan.
Penggunaan jampi-jampi dan doa dalam pengobatan tradisional: Kajian dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine (2008) menunjukkan bahwa kata-kata sugestif dalam praktik tradisional bisa menghasilkan efek plasebo yang berdampak nyata pada psikoneuroimunologi (hubungan pikiran, saraf, dan sistem kekebalan tubuh).

Ironi: Tradisi Leluhur Dicerca, Propaganda Modern Dirangkul

Yang menjadi ironi besar adalah masyarakat yang mudah menuduh tradisi leluhur sebagai tidak ilmiah atau syirik, justru sering tanpa sadar menerima praktik dan produk dari budaya modern yang merusak fisik maupun mental. Film-film, makanan, hingga tren gaya hidup global yang menyimpan propaganda hedonistik, kekerasan, bahkan pelecehan nilai-nilai luhur dikonsumsi tanpa kritis.

Misalnya, makanan ultra-proses (ultra-processed food) yang sangat populer dan dianggap modern, telah terbukti dalam banyak penelitian (NOVA Food Classification System, WHO, 2019) sebagai penyebab utama obesitas, diabetes, dan gangguan metabolisme. Namun karena dikemas secara menarik dan diiklankan besar-besaran, masyarakat tidak menolaknya seperti mereka menolak jamu tradisional atau ritual adat yang jelas-jelas sehat alami diambil dan diolah langsung dari alam.

Kembali pada Kritis yang Objektif

Sebagai generasi penerus, tugas kita bukan menelan bulat-bulat atau menolak mentah-mentah warisan leluhur. Kita perlu menggali, meneliti, dan memahami secara ilmiah berbagai praktik adat, lalu menempatkannya secara bijak. Jangan sedikit-sedikit menuduh syirik atau tahayul, karena bisa jadi itu adalah bentuk pengetahuan dan intuisi ekologis yang telah diuji waktu — pengetahuan yang berasal dari Allah juga, melalui pengalaman panjang manusia dalam beradaptasi dengan alam.

Mengkritisi sesuatu memang penting, tapi jangan pilih-pilih: bersikaplah adil — kritislah juga terhadap budaya modern yang membawa dampak buruk terselubung.

Comments