Kamu Tak Pernah Benar-Benar Kurang, Hanya Terlalu Keras pada Diri Sendiri


Belakangan ini, banyak diantara kita yang terlalu sering merasa tidak cukup. Tidak cukup cantik. Tidak cukup pintar. Tidak cukup sukses. Tidak cukup sabar. Tidak cukup kuat. Padahal, siapa yang mengukur cukup itu? Standar siapa yang sedang kita kejar?

Di tengah dunia yang berlomba memamerkan pencapaian, kita jadi terlalu sering bercermin untuk mencari kekurangan. Kita lupa bahwa cermin tidak pernah jujur sepenuhnya. Ia hanya menampilkan kulit, bukan isi. Sementara luka, doa-doa yang tak terdengar, perjuangan yang tak tampak… semuanya tertinggal di balik mata yang lelah menatap diri sendiri dengan kacamata penuh penghakiman.

Teman…

Tak ada satu pun manusia yang lahir sempurna. Bahkan yang tampak paling bersinar pun menyimpan keraguan dan luka di balik senyumnya. Semua orang sedang berjuang. Bedanya, ada yang sibuk menambal kekurangan, ada pula yang memilih fokus menemukan kekuatannya. Dan kau, bisa jadi sedang terlalu keras menilai dirimu sendiri. Padahal bisa saja, orang lain melihatmu sebagai sosok yang kuat, lembut, bijak, penuh perhatian—semua hal yang selama ini kau anggap biasa saja.

Sadarilah ini:

Tuhan tidak menciptakanmu untuk terus-menerus merasa salah. Ia menciptakanmu dengan maksud. Dengan potensi. Dengan bakat. Dengan kekuatan yang mungkin belum sempat kau lihat sendiri karena terlalu sibuk membandingkan hidupmu dengan orang lain. 

Hari ini, mari kita berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk menghela napas dan menyadari satu hal penting: Kita tidak harus sempurna untuk menjadi berarti.

Temukan kekuatanmu. Entah itu dalam caramu mendengar cerita orang lain. Dalam sabarmu mendidik anak-anak. Dalam tawamu yang menghangatkan suasana. Dalam tulisanmu, masakanmu, doamu yang diam-diam menyelamatkan seseorang dari patah. Kekuatanmu tidak harus besar. Tidak harus viral. Tidak harus dipuji-puji. Cukup bermanfaat. Cukup membuatmu bertumbuh. Cukup membuatmu bersyukur, bahwa dirimu Sudah cukup. Sudah berharga. Sudah layak dicintai—meski belum sempurna.

Comments