Coba deh jalan-jalan sebentar ke pinggir jalan. Ada orang yang nyebrang bukan di zebra cross, motor naik ke trotoar, mobil parkir sembarangan, atau pengendara yang tetap nekat nerobos lampu merah. Yang menarik, kalau ditanya, banyak dari mereka tahu kok kalau itu salah. Tapi ya… tetap aja dilakukan. Pertanyaannya: kenapa, sih?
Ini bukan soal kurang tahu. Banyak orang Indonesia tahu mana yang benar dan salah. Tapi tahu itu beda banget sama mau dan mampu untuk taat. Masalahnya seringkali bukan di pengetahuan, tapi di mentalitas.
Pertama, kita ini bangsa yang terkenal “toleran”. Tapi kadang toleransi itu kebablasan. Kita gampang memaklumi pelanggaran kecil. Kayak, “Ah, cuma buang sampah satu plastik doang kok,” atau “Cuma sebentar parkirnya, nggak ganggu siapa-siapa.” Lama-lama, pelanggaran kecil jadi budaya. Diterima sebagai hal wajar. Bahkan dianggap “nggak apa-apa selama nggak ketahuan.”
Kedua, sistem hukum kita masih punya PR besar: konsistensi dan keadilan. Kadang yang melanggar bisa lolos karena “kenal orang dalam” atau bisa “damai di tempat”. Ini bikin orang jadi skeptis. Mereka mikir, “Ngapain taat, toh yang nggak taat juga bisa bebas?” Rasa hormat terhadap aturan jadi luntur karena keadilan terasa nggak merata.
Ketiga, kita ini bangsa yang punya budaya “asal aman” dan “asal nggak merugikan orang lain secara langsung.” Jadi, banyak orang berpikir, selama yang dia lakukan nggak bikin orang celaka saat itu juga, ya sah-sah aja. Padahal aturan itu dibuat bukan cuma buat sekarang, tapi buat jangka panjang, buat keselamatan dan keteraturan hidup bersama.
Lalu ada faktor teladan juga. Gimana masyarakat bisa patuh kalau yang mereka lihat di berita justru pejabat nyolong duit negara, melanggar aturan, tapi tetap bisa senyum di depan kamera? Masyarakat perlu contoh, dan ketika contoh itu rusak, rasa percaya terhadap sistem pun ikut rusak. Ujung-ujungnya, semua merasa berhak langgar aturan karena “atasan aja begitu.”
Tapi jangan salah. Ada banyak juga kok orang Indonesia yang taat aturan. Yang antri dengan sabar, nyetir sesuai rambu, buang sampah pada tempatnya. Tapi sayangnya, yang benar ini sering kalah suara sama yang bandel. Dan kadang… mereka juga capek sendiri, karena merasa berjuang sendirian.
Apakah kita bisa berubah? Bisa banget. Asal mulai dari hal kecil dan dimulai dari diri sendiri. Jangan tunggu semuanya sempurna dulu baru taat. Justru taat itu jadi tanda bahwa kita mau ikut memperbaiki keadaan. Kita bisa mulai dari rumah, dari lingkungan kerja, dari komunitas kecil. Ajak anak-anak kita buat ngerti kenapa aturan itu penting. Bukan cuma untuk dipatuhi, tapi untuk dipahami.
Jadi, kalau kamu capek lihat orang melanggar aturan, jangan cuma ngeluh. Jadilah contoh. Nggak keren sih, nggak viral juga. Tapi mungkin, perubahan memang selalu dimulai dari yang sunyi.

Comments
Post a Comment