Pernyataan Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden terpilih Indonesia, yang mendorong siswa-siswa Indonesia untuk menggunakan Artificial Intelligence (AI) dalam proses belajar adalah langkah yang tampak visioner. Dalam iklim global yang bergerak cepat, integrasi teknologi dalam pendidikan memang bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, pernyataan ini juga menyingkap sebuah ironi besar: bagaimana mungkin siswa bisa memanfaatkan AI secara optimal jika mereka masih kesulitan memahami teks bacaan sederhana?
Paradoks Literasi dan AI
Indonesia masih menghadapi krisis literasi yang serius. Berdasarkan data PISA (Programme for International Student Assessment), skor literasi membaca siswa Indonesia secara konsisten berada di posisi bawah dibandingkan negara-negara lain. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami makna tersirat dalam bacaan, menyusun argumen, apalagi menulis dengan struktur yang baik. Ini bukan masalah teknis, tapi sistemik—yang mencerminkan kegagalan panjang dalam menumbuhkan budaya baca, menulis, dan berpikir kritis.
Sementara itu, AI seperti ChatGPT, Google Gemini, atau Claude bukanlah sekadar mesin jawaban. Mereka bekerja berdasarkan "prompting"—kemampuan pengguna dalam memberikan instruksi atau pertanyaan yang jelas, terarah, dan kontekstual. Prompt yang baik memerlukan kemampuan merumuskan masalah, memahami konteks, berpikir analitis, dan menyusun kalimat dengan struktur logis. Singkatnya: prompting adalah kegiatan literasi tingkat lanjut. Maka, ketika siswa dengan kemampuan literasi rendah diminta menggunakan AI, risiko paling besar adalah terjadinya ketimpangan baru: yang literat akan semakin pintar, yang tidak akan semakin tergantung.
AI Bukan Obat Ajaib
Ada kesan keliru dalam banyak narasi elit tentang AI: bahwa AI adalah solusi instan atas berbagai masalah pendidikan. Padahal, AI hanya akan memperkuat kemampuan yang sudah ada. Ia bukan tongkat sihir yang tiba-tiba membuat siswa menjadi rajin berpikir atau tiba-tiba paham materi. Tanpa kemampuan dasar seperti membaca kritis, memahami instruksi, atau menyusun pertanyaan yang masuk akal, AI hanya akan menjadi alat mencontek yang lebih canggih. Siswa bisa saja menyerahkan tugas kepada AI dan menyalin jawabannya mentah-mentah, tapi apakah mereka benar-benar belajar?
Lebih berbahaya lagi, AI bisa memperparah krisis literasi dengan menciptakan ilusi kecerdasan. Ketika semua jawaban bisa didapat dalam satu klik, dorongan untuk membaca buku, mendengarkan guru, atau berdiskusi pun menurun. Kita berpotensi melahirkan generasi yang serba instan, kehilangan keinginan untuk berpikir mendalam, dan tidak memiliki daya tahan intelektual.
Siapa yang Siap dan Siapa yang Tertinggal?
Yang juga perlu disorot adalah ketimpangan akses dan kesiapan. Kalangan menengah ke atas di kota-kota besar mungkin punya akses ke gadget, jaringan internet stabil, dan guru yang paham teknologi. Tapi bagaimana dengan siswa di pelosok, di sekolah yang kekurangan buku, apalagi komputer? Digitalisasi tanpa pemerataan justru akan menciptakan jurang baru antara "yang bisa prompting" dan "yang bahkan belum punya listrik stabil."
Inilah saatnya kita jujur: AI bukan prioritas utama pendidikan kita saat ini jika fondasi literasi belum kuat. Tentu, kita tidak boleh anti-teknologi. Tapi AI harus dilihat sebagai pelengkap, bukan substitusi. Ia harus hadir sebagai alat yang memperkuat proses berpikir, bukan menggantikannya. Pemerintah perlu menyusun peta jalan yang jelas: bagaimana literasi ditumbuhkan secara masif dan merata, sebelum (atau sambil) memperkenalkan teknologi canggih.
Kembali ke Dasar: Membangun Manusia Sebelum Mesin
Jika benar kita ingin AI dimanfaatkan oleh siswa Indonesia, maka mulailah dengan revolusi literasi nasional. Tanamkan kembali kecintaan membaca sejak dini. Bangun ekosistem yang membuat menulis dan berpikir menjadi budaya, bukan kewajiban sekolah. Bekali guru dengan pelatihan yang bukan hanya teknis, tapi juga filosofis: bagaimana teknologi bisa memperkaya pengalaman belajar, bukan menggantikannya.
Lebih dari sekadar gadget dan akses, kita butuh kesiapan mental dan intelektual untuk menggunakan AI secara bijak. Tanpa itu, apa gunanya mendorong siswa memakai teknologi masa depan, jika masa kini mereka masih tertinggal?
Kesimpulan
Pernyataan Gibran soal AI dalam pendidikan adalah sinyal positif bahwa pemimpin muda Indonesia melek teknologi. Tapi tanpa pemahaman menyeluruh tentang konteks sosial-pendidikan kita, langkah ini bisa menjadi ilusi kemajuan. Literasi harus menjadi fondasi utama. Barulah teknologi seperti AI bisa menjadi alat yang memberdayakan, bukan membodohi.
Teknologi tanpa literasi hanyalah suara mesin di tengah kebisingan. Yang kita butuhkan adalah manusia yang mampu berpikir, bukan sekadar mengetik.


Comments
Post a Comment