Monolog Gibran dan Cermin Retak Kepemimpinan Kita


Video monolog Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di kanal YouTube-nya bisa jadi adalah salah satu contoh paling nyata tentang bagaimana komunikasi politik di era digital bisa jadi bumerang. Alih-alih menginspirasi, monolog tersebut justru banjir dislike dan sindiran. Dan ini bukan sekadar soal gaya bicara atau naskah yang garing—ini tentang kredibilitas seorang pejabat negara yang duduk di kursi nomor dua Republik ini, tapi seolah tidak memahami sepenuhnya tanggung jawab dan konteks posisi tersebut.

Wapres Rasa Konten Kreator?

Kita tidak sedang berbicara soal YouTuber atau influencer yang sedang uji coba konsep baru. Ini adalah wakil presiden yang berbicara kepada rakyat—dalam kapasitas resmi. Namun, tayangan yang muncul lebih mirip sambutan lomba 17-an ketimbang pernyataan kebijakan strategis. Tidak ada substansi, tidak ada gagasan besar, tidak ada gebrakan yang membuat kita merasa: “Ya, ini pemimpin masa depan.”

Monolog itu kosong. Kosong dari keberpihakan nyata pada rakyat, dan kosong dari pemahaman mendalam terhadap kondisi generasi muda yang katanya ingin dia libatkan dalam pembangunan bangsa. Terus terang, terasa seperti sedang menonton parodi politik yang kebetulan tidak lucu.

Diduga Melanggar Konstitusi, Lalu Ngomong soal Masa Depan?

Yang membuat publik semakin sinis adalah rekam jejak Gibran sendiri. Tak bisa dipungkiri, posisinya sebagai wapres merupakan hasil dari proses yang dipertanyakan banyak pihak, terutama soal pelanggaran etika konstitusi dalam pencalonannya. Ketika Mahkamah Konstitusi sendiri diguncang oleh skandal konflik kepentingan demi membuka jalan baginya maju, bagaimana publik bisa menerima bahwa ia adalah simbol harapan baru?

Dan ironisnya, monolog itu bicara tentang membangun masa depan Indonesia. Tapi bagaimana kita bisa mempercayai masa depan itu, jika masa lalu dan proses menuju kekuasaan justru dibangun di atas retakan integritas?

Di Mana Kompetensinya?

Menjadi wapres bukan sekadar soal muda atau “kekinian.” Tapi soal paham kerja negara, punya rencana, dan mampu berkomunikasi secara bermakna. Sampai hari ini, belum tampak langkah strategis, gagasan kebijakan, atau bahkan narasi besar dari seorang Gibran sebagai wapres. Rakyat tidak butuh quotes motivasi. Kita butuh kerja nyata. Kita butuh kehadiran yang aktif, bukan sekadar video monolog berkonsep modern tapi kosong isi.

Kritik Ini Serius, Bukan Sekadar Sentimen

Kritik ini bukan soal tidak suka secara pribadi. Ini soal kapasitas dan legitimasi seseorang yang hari ini menjadi simbol negara. Rakyat berhak marah. Rakyat berhak kecewa. Karena ketika jabatan publik diisi tanpa kompetensi dan hanya berdasarkan kekuatan politik keluarga, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan demokrasi kita sendiri.

Saatnya Buka Mata

Video monolog Gibran adalah cermin. Tapi bukan cermin yang menunjukkan harapan—melainkan cermin retak yang memantulkan wajah muram demokrasi kita. Jika Gibran ingin dianggap serius sebagai pemimpin, dia harus memulai dengan kesadaran bahwa posisi yang dia duduki hari ini bukan hadiah, tapi amanah. Dan amanah itu tidak akan pernah bisa ditebus dengan video monolog yang keren tapi kosong makna.

Jika kamu juga merasa resah dengan arah kepemimpinan kita hari ini, silakan tinggalkan pendapatmu. Demokrasi hanya akan hidup jika suara publik tidak dibungkam.


Comments