Ada satu kalimat yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Sederhana, tapi seperti menggetarkan bagian terdalam dari diri. Kalimat itu lahir dari bibir seorang pemimpin yang lembut dan penuh kebijaksanaan, Bapak Badrul Munir — sosok yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2008-2013 Saya lupa pasti kapan persisnya, hanya ingat suasananya: kami duduk di sudut Sekretariat Regional Institute, berbincang santai, tapi percakapan itu perlahan menjelma menjadi ruang perenungan yang dalam.
Beliau berkata,
“Puncak kegagalan adalah ketika manusia gagal mengenali dirinya, gagal mengenali Tuhannya, dan gagal menanam kejujuran dalam dirinya.”
Sekilas, kata-kata ini terasa seperti petuah biasa. Tapi makin saya renungkan, makin terasa betapa dalam luka yang bisa ditimbulkan oleh tiga bentuk kegagalan ini.
Gagal mengenali diri—adalah saat kita kehilangan arah. Kita lupa siapa diri kita sebenarnya, dari mana kita berasal, apa luka yang belum sembuh, apa potensi yang belum tergali, dan untuk apa kita hidup. Kita terlalu sibuk meniru, mengejar pengakuan, hingga akhirnya menjauh dari jati diri. Dan saat kita menjauh dari diri, kita perlahan menjadi asing bagi hidup kita sendiri.
Gagal mengenali Tuhan—adalah saat kita berjalan tanpa cahaya. Kita tersesat dalam dunia yang begitu bising, menuhankan logika, membungkam suara hati, dan mengabaikan kehadiran yang paling dekat namun paling sering dilupakan. Padahal, mengenali Tuhan bukan hanya soal ritual, tapi tentang kehadiran-Nya yang halus dalam tiap hela napas, dalam tiap rasa syukur, dalam tiap detik kita hidup. Saat kita gagal melihat-Nya, kita kehilangan arah pulang.
Gagal menanam kejujuran dalam diri—adalah saat kita mengingkari nurani. Kita tahu mana yang benar, tapi memilih yang nyaman. Kita tahu mana yang baik, tapi memilih yang cepat. Kita tahu kita sedang berdusta, tapi kita pura-pura tidak tahu. Kejujuran bukan hanya tentang berkata jujur kepada orang lain, tapi tentang berani jujur pada diri sendiri—bahwa kita lelah, bahwa kita salah, bahwa kita bisa berubah.
Tiga kegagalan ini sering tak terasa. Ia tidak langsung menghancurkan hidup, tapi perlahan menggerogoti makna hidup itu sendiri. Dan jika dibiarkan, ia akan mengikis harapan, memudarkan cahaya, dan membuat kita kehilangan arah. Tapi selalu ada ruang untuk kembali. Mengenali diri mungkin butuh keberanian. Mengenali Tuhan butuh ketulusan. Menanam kejujuran butuh keteguhan. Tapi semua itu bukan mustahil.
Mungkin, di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk hidup, kita hanya perlu duduk sejenak, diam, dan bertanya pada diri sendiri:
Siapa aku sebenarnya? Untuk apa aku hidup? Masihkah aku jujur pada diriku sendiri? Sudahkah aku berjalan bersama-Nya hari ini?
Karena sesungguhnya, puncak dari keberhasilan bukan soal seberapa tinggi kita naik, tapi seberapa dalam kita mengenal diri, seberapa dekat kita dengan Tuhan, dan seberapa jujur kita dalam menjalani hidup ini.

Comments
Post a Comment