Cakranegara, Dalam Grid dan Getir - Sebuah Puisi

Di ufuk timur Pulau Seribu Pesona,

Cakranegara terbit bagai mantra,

dalam bayang kejayaan Bali tua,

yang mengukir kota tak sekadar rupa.


Grid dibentang seperti suratan langit,

jalan-jalan lurus bagaikan niat,

tak tumbuh dari langkah acak nan sempit,

tapi dari nalar, doa, dan semangat kuat.


Pura-pura bersenandung dalam diam,

Meru, Dalem, Puseh saling bersalaman,

seolah berkata pada zaman yang kelam:

“Di sinilah suci, tempat cinta dan keharmonisan.”


Mayura bersaksi dalam genangan air,

istana dan kolam bicara lirih, getir,

tentang masa raja dan perwira gagah berzikir,

saat kota bukan jual beli tapi takdir.


Cakra sang naga menggeliat di tanah,

menjadi kota, bukan sekadar lahan basah.

Kini pedagang dan motor mengaduk sejarah,

melumat pelan-pelan jejak leluhur yang megah.


Tata ruangmu dulu filsafat yang terang,

kini terpinggir di lorong dan tiang,

yang lebih suka neon dan parkir sembrang,

lupa bahwa kota pernah sakral dan tenang.


Katanya kau satu dari dua di dunia,

ah, mungkin dunia hanya lupa membaca peta,

tapi siapa peduli pada makna dan makna,

asal warung buka, dan wifi menyala.


Namun angin malam di Cakranegara,

masih membawa napas dari masa purba,

bisik sunyi dalam lengkung gang dan pura,

“Tak semua modern itu mulia.”


Wahai kota yang dilahirkan dalam rencana,

bukan sekadar tumbuh seperti luka,

kau bukan hanya pasar dan tumpukan dosa,

kau pusaka—yang dilupa oleh pewarisnya.


Jika tak berlebih biarlah puisiku ini jadi pusaramu,

sebelum beton meredam jiwamu,

Cakranegara, kota dengan roh yang dulu,

kini berbisik pada mereka yang tak lagi tahu.


Cakranegara, Sore Setelah Hujan.

Comments