"Dia Gak Pernah Mukul, Tapi Aku Sering Nangis Diam-diam" - Red Flags yang Sering Dianggap Angin Lalu
“Dia tuh gak pernah kasar kok… ya cuma suka ngomong nyakitin aja. Kadang cuek berhari-hari, tapi habis itu baik lagi. Lagian aku juga suka salah…”
Kalimat semacam ini sering banget keluar dari mulut perempuan yang sedang berjuang mempertahankan hubungan yang sebetulnya sudah tidak sehat. Karena kita terbiasa diajarkan bahwa kekerasan itu hanya yang berbentuk fisik. Padahal kenyataannya, banyak luka terdalam justru tidak meninggalkan bekas biru di kulit, tapi menyisakan trauma dalam di hati dan kepala.
Emosi yang Melelahkan
Kalau kamu sering merasa bingung dengan perasaannya (hari ini baik, besok dingin banget), sering disalahkan atas hal-hal kecil, takut ngomong jujur karena takut dia marah, atau malah minta maaf meski kamu nggak salah mungkin kamu sedang berada dalam hubungan yang mengandung kekerasan emosional. Dan parahnya, kekerasan model ini tidak kelihatan. Tidak ada darah. Tidak ada teriakan. Tapi kamu mulai kehilangan dirimu sendiri, sedikit demi sedikit.
Kamu mulai merasa tidak cukup baik. Kamu takut membuat kesalahan kecil. Kamu menjauh dari teman dan keluarga. Kamu hidup dalam ketakutan—dengan orang yang kamu cintai.
Kenapa Sering Dianggap Biasa? Karena kita tumbuh dalam budaya yang memaklumi sikap dingin laki-laki sebagai “wajar.” Kita diajarkan untuk “sabar,” “mengalah,” dan “mengerti.” Kita takut dianggap terlalu sensitif atau lebay. Padahal yang kamu rasakan valid. Yang kamu alami nyata. Kekerasan emosional itu nyata.Silent treatment itu menyakitkan. Manipulasi perasaan (gaslighting) itu melemahkan. Mengontrol secara halus itu tetap bentuk dominasi.
Luka yang Terbungkam
Kamu bisa saja masih tersenyum di depan orang lain. Tapi kamu tahu betul rasanya menangis pelan-pelan di kamar mandi, rasanya jantung berdebar ketika ada notif darinya, dan rasanya capek banget pura-pura semuanya baik-baik saja.
Jangan biasakan dirimu bertahan dalam hubungan yang membuatmu merasa kecil. Kamu tidak lebay. Kamu tidak berlebihan. Kamu cuma terlalu sering menunda keberanian untuk bilang :
“Aku nggak pantas diperlakukan kayak gini.”
Karena Cinta Sejati Gak Bikin Kamu Takut. Cinta yang sehat gak bikin kamu deg-degan karena takut dimarahin. Cinta yang sehat gak bikin kamu nahan tangis sambil mikir, “Ini salah aku kali ya?”. Cinta yang sehat bikin kamu tumbuh. Bukan tenggelam. Kalau kamu merasa “baik-baik saja” tapi menangis diam-diam hampir tiap malam, mungkin saatnya bertanya… Apakah ini cinta… atau kebiasaan yang membunuh perlahan?

Comments
Post a Comment