Menuju usia 40, ketika seorang lelaki yang telah menjadi suami dan ayah memikul begitu banyak rasa yang saling bertabrakan di dalam dirinya. Ia tak lagi hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Ada istri yang telah berjalan bersamanya melewati waktu, ada anak-anak yang kini menjadi alasan utama ia bangun pagi dan pulang malam.
Di satu sisi, ada syukur yang dalam. Ia bersyukur atas rumah yang berhasil mereka bangun, meski tak selalu megah. Atas keluarga kecil yang ia cintai, meski tak selalu sempurna. Ia mulai melihat keberhasilan bukan dari jumlah nol di rekeningnya, tapi dari cara anaknya memeluknya erat setiap pulang kerja, atau dari senyum istrinya saat mereka duduk berdua setelah anak-anak tidur.
Namun, di sisi lain, ada kelelahan yang tak bisa ia ceritakan. Lelah yang bukan semata karena tubuh yang mulai mudah pegal, tetapi lebih pada mental yang mulai penat memikirkan masa depan. Tentang pendidikan anak, tentang masa tua yang makin dekat. Kadang ia ingin istirahat sejenak, tapi tak tahu bagaimana caranya. Tentang apakah hidup akan selalu baik-baik saja. Ia sering termenung sendirian. Di balik diamnya, ada tanya-tanya yang sulit dijawab: Apakah aku sudah cukup menjadi suami yang baik? Apakah aku ayah yang bisa dibanggakan? Apakah jalan hidupku sudah benar?
Menuju 40, ia juga mulai berdamai dengan kegagalan. Dulu, kegagalan bisa membuatnya marah dan merasa sia-sia. Kini, ia mulai paham: tidak semua hal harus berhasil, yang penting tetap berjalan. Ia belajar untuk lebih tenang, lebih ikhlas, lebih mengandalkan doa ketimbang ambisi kosong.
Perasaannya lebih dalam. Ia menangis lebih mudah—kadang saat mendengar cerita sederhana dari anaknya, atau ketika mengingat perjuangan orang tuanya dulu. Tapi ia juga lebih mudah tersenyum—karena kini ia tahu, bahagia itu bukan soal besar kecilnya pencapaian, tapi seberapa tulus kita menjalaninya.
Menuju 40 tahun, seorang lelaki menjadi lebih manusiawi. Ia bukan lagi pria muda yang serba ingin cepat, tapi seorang lelaki yang mulai paham bahwa hidup adalah tentang merawat, menunggu, dan mencintai tanpa pamrih.
Comments
Post a Comment