"Nanti Dia Berubah, Kok..." — Yakin Mau Nunggu?


Calon suamiku keras orangnya, tapi aku yakin dia bakal berubah setelah menikah.”

Kalimat ini sering banget kita dengar. Atau jangan-jangan kita sendiri yang pernah (atau sedang) mengucapkannya?

Yuk, duduk sebentar. Tarik napas. Renungkan.
Menikah itu bukan sulap. Enggak ada jaminan seseorang akan berubah hanya karena statusnya berubah jadi “suami”. Kalau dari pacaran aja dia sudah sering marah-marah, ngomong kasar, atau bikin kamu merasa nggak aman, kenapa yakin setelah menikah semua itu bakal hilang?

Kita kadang terlalu optimis—atau tepatnya, terlalu berharap—bahwa cinta bisa mengubah segalanya. Padahal, perubahan itu cuma bisa terjadi kalau orangnya sendiri mau dan sadar butuh berubah. Bukan karena ditekan oleh harapan kita.

Luka Batin Itu Nyata
Yang sering dilupakan adalah: luka itu bukan cuma tentang fisik yang memar, tapi juga jiwa yang retak perlahan. Dan luka itu… bisa diturunkan.
Dari mana? Dari kamu, sebagai ibu.
Saat kamu mengandung dalam kondisi penuh tekanan, sedih, atau kecewa karena sikap suamimu, janinmu ikut merekam semua itu.
Yes, itu nyata. Di psikologi, ini dikenal sebagai luka batin masa janin.

Dan luka itu terus tumbuh. Anak-anak yang menyaksikan ibunya disakiti secara verbal, emosional, atau bahkan fisik—mereka menyimpan jejak itu dalam jiwa mereka. Mereka mungkin belum bisa mengungkapkan, tapi mereka merasa. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang kita nasehatkan.

Aku bisa sabar, kok…”

Oke. Tapi pertanyaannya sekarang:
Anakmu… bisa sabar juga nggak? Apa dia punya pilihan? Atau dia cuma akan tumbuh dalam suasana rumah yang penuh amarah, dingin, dan ketakutan?

Menikah Bukan Tentang Bertahan Dalam Luka. 
Kalau hari ini kamu masih punya pilihan, maka bijaklah memilih. Menikah bukan tentang “yang penting status” atau “daripada nanti dibilang pilih-pilih”. Menikah itu soal membangun kehidupan, membangun rumah tangga yang sehat—bukan ladang luka yang diwariskan turun-temurun.

Cinta yang sehat gak akan bikin kamu kehilangan dirimu sendiri. Gak akan bikin kamu berusaha keras bertahan sendirian sambil berharap “nanti dia berubah kok.” Yakin mau gambling masa depanmu dan masa depan anakmu dengan seseorang yang belum tentu berubah?

Kalau kamu masih ragu maka itu bukan cinta. Itu alarm. Kamu pantas bahagia, tanpa perlu menunggu orang lain berubah dulu.

Comments