Padahal jika ditelisik lebih dalam, “keberanian” semacam itu terkadang tak lebih dari bentuk ketidaksiapan. Bahkan, dalam banyak kasus, ia hanya nama lain dari ketidakmampuan menanggung konsekuensi.
Ketika Cinta Tak Lagi Butuh Arah
Kita hidup di era yang merayakan kebebasan perasaan. “Ikuti kata hati” terdengar jauh lebih keren dibanding “pikirkan dulu baik-baik.” Cinta tak perlu ditanya akan dibawa ke mana, yang penting merasa. Padahal hati bisa berubah. Dan ketika perubahan itu datang, siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan yang ditinggalkan?
Cinta yang tulus seharusnya tetap punya rencana, bukan dalam artian kaku atau terlalu terstruktur, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa perasaan ini bukan main-main. Bahwa ketika kita mencintai seseorang, kita juga sedang membuka ruang bagi konsekuensi: tentang waktu yang kita korbankan, luka yang mungkin kita timbulkan, dan pilihan yang tak bisa seenaknya dibatalkan.
Romantisme Era Medsos: Manis di Story, Pahit di Kenyataan
Media sosial ikut andil dalam membentuk wajah cinta masa kini. Semua terlihat manis dalam bingkai instastory: dinner dadakan, bunga tak terduga, liburan mendadak. Tapi yang jarang ditampilkan adalah sisi lain dari hubungan—ketika tak ada arah, tak ada kejelasan, dan tak ada keberanian untuk menghadapi tanggung jawab emosional dari sebuah hubungan.
“Yang penting happy bareng dulu aja,” begitu katanya. Tapi ketika luka mulai timbul, saat seseorang terlalu dalam berharap, dan hubungan mulai retak karena beda tujuan hidup, semua jadi seperti tak pernah ada rencana sejak awal.
Keberanian Sejati dalam Cinta
Keberanian sejati bukan soal berani mencintai siapa saja kapan saja. Tapi soal siap menghadapi akibat dari cinta itu. Berani untuk tidak hanya jatuh cinta, tapi juga tumbuh dalam cinta. Berani menata arah, mengkomunikasikan tujuan, dan tidak lari ketika keadaan tidak lagi seromantis hari-hari awal.
Sebab mencintai tanpa rencana mungkin terdengar puitis, tapi tanpa tanggung jawab, itu bisa jadi egois.
Cinta Butuh Kesadaran
Cinta memang indah, apalagi jika datang dengan kejutan dan ketulusan. Tapi jangan biarkan romantisme yang tanpa arah menjebak kita dalam siklus mencintai lalu menyakiti, berharap lalu meninggalkan.
Karena cinta yang tumbuh tanpa kesadaran dan rencana, seringkali berakhir jadi cinta yang menyesatkan.
Romantis itu boleh. Tapi jangan sampai kamu menyebut dirimu “berani mencintai” padahal sebenarnya kamu hanya belum siap bertanggung jawab.
Btw, apa dan bagaimana romantis versi kamu?

Comments
Post a Comment