Baru Kelar nyimak Podcast ini. Luar biasa!
Jadi lebih kurang ini yang bisa saya rangkum dari podcast #momscorner Episode 58 dengan narasumber ibu Elly Risman, Psi yang temanya Memasuki Pubertas Anak, Ayah yang Harus Lebih Berperan...
Di tengah gelombang perubahan yang dialami anak saat pubertas, kita sering kali terlalu sibuk menyoroti perubahan fisiknya saja. Padahal, seperti yang disampaikan oleh Ibu Elly Risman dalam obrolannya bersama Nikita Willy, masa pubertas adalah badai utuh yang mengguncang fisik, emosi, identitas diri, bahkan harga diri seorang anak. Dan menariknya, justru di masa penuh gejolak inilah seorang ayah seharusnya hadir paling kuat—bukan malah menghilang.
Sebagai orang tua, kita sering berpikir bahwa "urusan pubertas" adalah wilayah para ibu. Mulai dari membicarakan menstruasi hingga memberi tahu anak laki-laki tentang mimpi basah. Tapi Ibu Elly menantang pola pikir itu. Menurut beliau, ayah adalah kunci yang sering hilang dalam pengasuhan masa pubertas.
☑ Anak yang Bingung, Bukan Membangkang
Anak yang sedang puber sering terlihat moody, sensitif, atau bahkan "suka membantah". Tapi kalau kita mau lebih jernih memandang, mereka sebenarnya bingung dan butuh pegangan. Mereka merasa asing dengan tubuhnya sendiri, dengan emosi yang naik-turun tanpa aba-aba, dan dorongan seksual yang muncul begitu cepat. Mereka tidak sedang minta diceramahi. Mereka hanya butuh didampingi—oleh orang tua yang tidak menghakimi, melainkan mengerti.
☑ Kenapa Justru Ayah?
Dalam banyak keluarga, ayah hadir secara fisik tapi absen secara emosional. Padahal, masa pubertas adalah saat paling strategis untuk membangun relasi emosional yang kuat antara anak dan ayah. Anak laki-laki butuh role model laki-laki yang bisa diteladani, bukan cuma dilihat dari jauh. Anak perempuan butuh merasa aman dan dihargai oleh figur laki-laki pertamanya, yaitu ayah.
☑ Bicara Bukan Ceramah
Orang tua, terutama ayah, perlu belajar ulang tentang cara berkomunikasi dengan anak puber. Jangan pakai nada menggurui atau terlalu normatif. Sebaliknya, pakai pendekatan yang personal dan jujur. Cerita tentang pengalaman masa muda ayah bisa jadi jembatan yang kuat untuk membangun kedekatan. Anak lebih mudah terkoneksi dengan cerita nyata ketimbang wejangan formal.
☑ Edukasi Emosi, Bukan Hanya Seks
Seringkali, pembicaraan tentang pubertas berhenti di soal menstruasi atau mimpi basah. Padahal, yang lebih dibutuhkan anak justru panduan mengelola emosi: rasa malu, marah, takut ditolak, atau bingung dengan dirinya sendiri. Ayah bisa jadi pendengar yang tidak menghakimi, teman diskusi yang netral, sekaligus penopang rasa percaya diri anak.
☑ Kolaborasi yang Seimbang
Elly Risman menekankan bahwa ibu dan ayah harus menjadi tim yang solid. Terlalu banyak ibu yang merasa berjuang sendirian karena ayah menganggap urusan ini “bukan wilayahnya”. Padahal, anak butuh nilai-nilai dari dua sisi: keseimbangan antara sisi maskulin dan feminin, antara ketegasan dan kelembutan, antara logika dan perasaan.
Podcast ini seakan jadi pengingat bagi kita semua—terutama para ayah—bahwa pubertas adalah undangan terbuka untuk masuk lebih dalam ke dunia anak. Bukan sebagai pengontrol, tapi sebagai pendamping yang hangat dan relevan. Anak puber bukan sedang menolak kita, mereka sedang mencari arah. Dan tidak ada kompas yang lebih kuat daripada kehadiran utuh orang tuanya—terutama ayah.

Comments
Post a Comment