![]() |
| Nasi Porang (Shirataki) & Ayam Rarang Lombok |
Pernah dengar nama shirataki? Pasti pernah dong. Apalagi buat kamu yang lagi diet rendah kalori atau sedang menjalani pola makan sehat, shirataki ini sering banget muncul di daftar menu. Bentuknya mirip mi atau nasi tapi katanya “aman buat yang lagi jaga berat badan”. Nah, yang menarik, shirataki sering disebut-sebut sebagai makanan khas Jepang. Tapi… tahu nggak, sebenarnya bahan dasarnya tumbuh subur di tanah kita sendiri?
Iya, serius!
Shirataki dibuat dari umbi konjac, yang dalam bahasa kita disebut porang. Di beberapa daerah dikenal juga dengan nama ilung-ilung atau suweg. Tanaman ini banyak banget tumbuh di Indonesia, dari Jawa sampai Sulawesi, bahkan ada petani kita yang sukses ekspor porang ke luar negeri. Ironisnya, kita baru “ngeh” setelah diberi nama yang lebih keren: shirataki.
Kalau ngobrol sama orang tua di desa, dulu umbi porang itu sering dianggap makanan cadangan, atau malah “nggak dimakan manusia”. Cuma dimanfaatkan waktu paceklik atau nggak ada pilihan lain. Bahkan di Sumbawa di wilayah saya tanaman ini gak ada yang tahu kalau bisa dimakan umbinya (bahkan aku gak tau tanaman ini ada umbinya), masyarat di tempatku memanfaatkan batang dan daun porang untuk anti nyamuk. Tapi sekarang? Harganya bisa bikin melongo. Banyak petani yang justru mulai tanam porang karena permintaan ekspor tinggi, terutama dari Jepang dan Korea.
Lucu ya. Lebih ke miris sih hehe
Dulu ditinggalkan, sekarang diburu. Dulu dianggap makanan rakyat jelata, sekarang jadi “menu elite” di restoran sehat.
![]() |
| Porang. Foto : google |
Makanan Sehat Itu Dekat, Bukan Impor
Hal ini bikin aku mikir. Sering kali kita merasa harus jauh-jauh nyari makanan sehat, padahal aslinya kita sudah punya dari dulu. Umbi-umbian lokal seperti porang, gadung, talas, dan singkong sebenarnya kaya manfaat. Tapi kita sering lupa, karena terlalu terpesona sama makanan impor yang dikemas lebih rapi dan dipromosikan lebih menarik.
Shirataki adalah contoh nyata. Makanan sehat yang katanya dari luar negeri, padahal tumbuhnya di tanah kita sendiri. Ini bukan cuma soal makanan, tapi juga soal identitas dan kearifan lokal yang lama kita abaikan. Sudah saatnya Menghargai yang Kita Punya. Aku nggak bilang kita harus anti produk luar. Tapi mungkin ini saatnya kita balik bertanya:
"Kenapa harus nunggu dikenal dunia dulu baru kita mau mengapresiasi?"
Porang, yang jadi bahan utama shirataki, adalah bukti bahwa tanah kita subur dengan potensi luar biasa. Bukan cuma bisa dijual, tapi juga bisa jadi solusi sehat buat masyarakat kita sendiri. Jadi kalau kamu sedang makan shirataki hari ini, sempatkan senyum dan bilang dalam hati:
“Selamat datang kembali, wahai kearifan lokal.” Wkwkwkwk
Kalau kamu suka tulisan semacam ini, boleh banget komen atau share. Siapa tahu dari mi shirataki ini, kita jadi makin cinta sama apa yang tumbuh dari tanah sendiri.
![]() |
| Sup Porang Buah Kelor |
![]() |
| Fettuchini Porang dengan Lauk "Sepat Sumbawa" dan Pelecing Kangkung Lombok |
![]() |
| Bihun Porang dengan Lauk Pelecing Tahu |





Comments
Post a Comment