Tentang Rahim, Luka, dan Cinta pada Diri Sendiri

Hari ini saya ingin menulis sesuatu. Bukan tentang saya. Tapi tentang seorang perempuan hebat yang baru saja selesai melewati salah satu fase terberat dalam hidupnya: operasi angkat rahim karena miom dan kista.

Bibi saya. 

Beberapa tahun terakhir, beliau sering mengeluh nyeri di bagian bawah perut terutama setiap menstruasi, badan lemas, wajah pucat bahkan kami pernah menyaksikan betapa tersiksanya bibi kami menahan sakit dan kami tak tahu harus bagaimana membantu agar segera reda rasa sakitnya.  Sudah sempat berobat dengan segala macam cara mulai dari nakes, dokter di sekitar rumah, hingga suntik hormon untuk mengecilkan kista namun lagi lagi kembali sakit dan meradang lalu membesar. 

Pada akhirnya miom (tumor jinak di dinding rahim) dan kista di indung telur yang sudah cukup besar dan mengganggu. Dokter menyarankan operasi pengangkatan rahim sebagai solusi tuntas. Beliau pun membuat rujukan ke RS Bhayangkara dari Sumbawa. Alhamdulillah RS Bhayangkara sangat responsip, pelayanan nya ramah, care dan kamk sangat mengapresiasi bagaimana petugas petugas nya memberi penjelasan atau memberi motivasi sehat dengan ramah tanpa kesan formalitas. Pengalaman baik yang harus kami bagikan sebagai bentuk apresiasi dan rasa terimakasih kami atas pelayanan yang baik sejak awal hingga akhir oleh RS Bhayangkara Kota Mataram. 

Kembali ke Miom dan Kista yang membuat bibi kami mengambil keputusan mengangkat rahimnya. 
Berat? Iya. Sangat. Karena rahim bukan cuma soal fungsi biologis. Ada banyak beban emosional di dalamnya—kenangan, rasa sebagai perempuan, perasaan kehilangan.

Tapi beliau memilih untuk sembuh. Untuk sehat. Untuk hidup lebih baik.
Dan hari ini… beliau sudah pulih. Sudah bisa tertawa lagi. Sudah bisa makan enak dan tidur nyenyak tanpa rasa sakit yang selama ini membayang.

***

Sedikit cerita buat teman-teman yang belum tahu:
Miom dan kista itu sering dianggap sepele karena tidak selalu menimbulkan gejala. Padahal, kalau dibiarkan, bisa menyebabkan: Pendarahan hebat, Nyeri luar biasa, Anemia, Infertilitas, Tekanan pada organ lain.  Bahkan bisa jadi gawat darurat kalau pecah atau terpuntir

Penyebabnya bisa karena ketidakseimbangan hormon, gaya hidup kurang sehat, stres berkepanjangan, atau faktor keturunan.

Untuk perempuan usia 50 tahun ke atas, apalagi yang sudah tidak merencanakan kehamilan, operasi angkat rahim bisa menjadi pilihan yang bijak. Memang butuh keberanian. Tapi itu juga bentuk cinta terhadap diri sendiri: berani melepas untuk bisa hidup sehat kembali.

Dan bibi saya telah melewati itu dengan hati yang besar.

Selama proses ini saya belajar banyak dari beliau. Bahwa menjadi kuat itu bukan soal tahan sakit, tapi soal berani memilih yang terbaik untuk diri sendiri, meski pilihan itu terasa menakutkan.

***

Untuk semua perempuan di luar sana... 
Jaga tubuhmu. Dengarkan sinyal-sinyalnya. Jangan anggap remeh nyeri haid yang tak biasa, atau siklus yang kacau. Periksakan diri. Tidak perlu takut. Lebih baik tahu lebih awal daripada menyesal.Dan jangan ragu ambil langkah besar demi kesehatan dan kebahagiaanmu.

Tubuh kita sudah menanggung banyak.
Kini saatnya kita rawat dia dengan penuh cinta.

Terima kasih, Bibiku, sudah memberi contoh bahwa menyembuhkan diri itu bisa jadi bentuk paling tulus dari mencintai hidup. 💖

***
Kalau kalian butuh teman cerita, atau sedang ada gejala yang mengganggu, jangan diam sendiri ya. Tubuh kita berharga. Kita juga.

Comments