Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Belakangan ini, kita di NTB—terutama di Lombok—sering banget dengar kabar yang bikin merinding. Ada penemuan mayat dengan cara nggak wajar, begal, pencurian, sampai kasus-kasus kriminal lain yang bikin rasa aman jadi goyah. Rasanya dunia memang lagi nggak baik-baik saja. Tapi kenapa sih angka kejahatan di NTB belakangan ini terasa makin sering muncul ke permukaan?
Data dari kepolisian bilang kalau angka kriminal di NTB naik turun dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2023 ada 5.341 kasus kejahatan, naik 10% dari 2022. Tapi yang bikin miris, kasus yang berhasil diselesaikan malah menurun . Tahun 2024 jumlah kasus naik tipis jadi 7.017 kasus, tapi kali ini ada kabar baik: lebih banyak kasus yang berhasil ditangani polisi (naik 38%) . Khusus Lombok Timur, kasus pencurian motor melonjak lumayan tinggi, dari 262 kasus di 2023 jadi 323 kasus di 2024
Angka-angka ini jelas bikin banyak orang makin waspada. Nggak heran kalau setiap parkir motor kita selalu nengok dua kali, atau kalau anak pulang malam, hati orang tua langsung dag-dig-dug.
Kenapa Bisa Begitu?
Hidup makin susah, kebutuhan makin tinggi. Ada yang nggak kuat, akhirnya pilih jalan pintas. Padahal di sisi lain, pariwisata seperti Mandalika sebenarnya sudah bikin banyak peluang kerja baru. Sayangnya, nggak semua orang bisa ikut masuk dalam arus itu ([Antara]
Banyak warga masih merasa hukum itu ribet, lama, bahkan ada yang bilang kalau mau cepat harus “keluar biaya tambahan”. Gara-gara rasa nggak percaya ini, kadang masyarakat pilih jalan sendiri: main hakim sendiri, sweeping, sampai merusak kantor polisi kayak yang pernah terjadi di Lombok Utara
Satu tindak kriminal itu nggak berhenti di pelaku dan korban. Ada keluarga yang kehilangan, tetangga yang ketakutan, sampai anak-anak yang tumbuh dengan rasa nggak aman. Ini yang bikin dampaknya panjang.
***
Sebenarnya kita punya banyak modal baik: masyarakat religius, gotong royong masih hidup, dan pariwisata yang berkembang pesat. Tapi kalau rasa aman hilang, semua itu bisa runtuh.
Solusinya nggak bisa satu pihak saja. Polisi harus makin terbuka dan sigap. Masyarakat perlu terus waspada tapi jangan gampang main hakim sendiri. Dan tokoh adat maupun agama harus tetap hadir sebagai suara penyejuk di tengah keresahan.
***
Setiap kali dengar kabar penemuan mayat atau pembunuhan, hati kita ikut nyesek. Itu bukan cuma tragedi keluarga korban, tapi juga alarm buat kita semua: ada yang harus diperbaiki.
Kriminalitas ini semacam cermin. Dia nunjukin kondisi sosial kita—apakah kita semakin rapuh, atau bisa bangkit bareng-bareng. NTB sekarang lagi di persimpangan. Pilihannya cuma dua: biarkan rasa takut menguasai, atau bareng-bareng rebut lagi rasa aman di tanah yang kita cintai ini.
Turut berduka cita.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan kita semua lebih peduli menjaga keselamatan diri serta sesama.

Comments
Post a Comment