Pernah nggak sih ketemu perempuan yang kalau ngomong kayaknya “ngegas” terus? Gampang marah, suka ngatur-ngatur, bahkan seolah-olah pengen pegang kendali penuh atas suaminya. Dari luar, kesannya kayak galak, dominan, bahkan terlalu maskulin. Tapi coba berhenti sebentar. Bisa jadi, sikap itu bukan muncul karena dia memang “galak” bawaan lahir. Sering kali, itu hanyalah cara dia bertahan hidup setelah melewati luka atau pengalaman pahit di masa lalu.
Kenapa Perempuan Bisa Jadi Terlalu Keras?
Sikap dominan, suka ngontrol, atau gampang emosi biasanya ada akarnya. Ini beberapa penyebab yang sering terjadi:
1. Dididik di keluarga yang keras
Kalau dari kecil terbiasa dimarahi, ditekan, atau harus nurut tanpa boleh banyak suara, biasanya orang belajar: “Kalau aku nggak keras, aku nggak akan didengar.”
2. Kurang sosok ayah atau figur ayah yang lemah
Kalau ayah nggak hadir, atau hadir tapi nggak bisa jadi pelindung, seorang anak perempuan bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki nggak bisa diandalkan. Jadilah dia yang akhirnya ambil peran sebagai “yang kuat.”
3. Pernah disakiti laki-laki
Entah itu ditinggalkan, dikhianati, atau diperlakukan nggak adil. Luka itu bikin dia pasang tembok tinggi. Kontrol jadi cara agar hal buruk itu nggak kejadian lagi.
4. Nggak pernah merasa aman atau dihargai
Anak yang sering dibanding-bandingkan, diremehkan, atau diabaikan, bisa tumbuh dengan keyakinan: “Kalau aku nggak keras, aku akan diinjak.”
5. Inner child yang terluka
Ada “anak kecil” di dalam diri yang dulu merasa takut, nggak aman, dan nggak berdaya. Waktu dia dewasa, luka itu belum hilang. Bedanya, sekarang keluar dalam bentuk sikap keras dan ngegas.
Terus, Bisa Disembuhin Nggak?
Jawabannya: bisa banget. Tapi prosesnya pelan-pelan. Nggak instan, karena yang disembuhin bukan cuma sikap, tapi lukanya.
Langkah kecil yang bisa dicoba:
Pertama, Sadar dulu. Akui bahwa ngegas itu bukan sifat asli, tapi cara bertahan. Kedua, Belajar ngobrol sama diri kecil. Bayangin diri kita waktu kecil yang takut dan nggak berdaya. Bilang padanya: “Sekarang kamu aman. Kamu nggak sendirian". Ketiga, Coba lepas kontrol sedikit demi sedikit. Misalnya biarin pasangan ambil keputusan kecil. Rasakan bahwa ternyata dunia nggak runtuh kalau kita nggak selalu ngatur. Keempat, Perbaiki cara komunikasi. Ubah kalimat larangan jadi kalimat kebutuhan. Bukan “Kamu jangan pergi!” tapi “Aku cemas kalau kamu pergi tanpa kabar. Bisa kabarin aku biar aku tenang?”. Kelimat, Rawat diri. Olahraga, journaling, me-time, doa, atau hal-hal yang bikin hati lebih rileks. Keenam, Cari bantuan kalau perlu. Nggak ada salahnya konsultasi ke psikolog, konselor, atau cari jalan spiritual untuk merasa dipeluk dan aman lagi.
***
Jadi, perempuan yang kelihatan terlalu ngegas itu sebenarnya bukan mau melawan. Dia cuma sedang berusaha melindungi dirinya dari rasa sakit yang dulu pernah dia alami.
Kalau lukanya disadari dan disembuhkan, sikap keras itu perlahan akan berubah. Dari kontrol jadi kepercayaan. Dari curiga jadi tenang. Dan perempuan itu bisa kembali jadi dirinya yang asli: lembut, kuat, dan penuh kasih—tanpa harus teriak-teriak untuk didengar.

Comments
Post a Comment