Bagian 5 — TEBING PENGORBANAN
Fajar merangkak pelan di atas Sekar Kuning, seperti
seseorang yang ragu-ragu membuka tirai setelah malam yang terlalu panjang.
Angin dari laut membawa dingin yang tidak biasa—dingin yang menembus tulang,
dingin yang seperti menyimpan suara. Orang-orang menyebutnya: pagi yang
menahan napas.
Di tepi timur, jalan menuju tebing Mandalika sudah dipenuhi
manusia. Para ibu menggendong anak, para lelaki membawa obor yang belum padam
sempurna, para tetua berjalan tertatih sambil merapal doa-doa yang lupa
ujungnya. Mereka semua berkumpul karena kabar yang beredar seperti air: Putri
Mandalika akan mengumumkan pilihannya. Tujuh pangeran telah datang. Tujuh
bendera berkibar menentang angin, menyalakan kembali bayangan perang yang tak
diinginkan siapa pun.
Mandalika berjalan dari istana menuju tebing, ditemani
beberapa pelayan yang tak berani bicara. Di belakang mereka, suara langkah
ratusan orang mengikuti. Gaun Mandalika sederhana : putih pucat dengan
pinggiran yang sedikit kusut, di dalamnya ia mengenakan kain tenun cokelat dengan
guratan garus hiram meliuk dan bergelombang seperti ombak gelap. Di rambutnya,
tidak ada permata. Tidak ada mahkota. Hanya sehelai pita lusuh yang ia ikat
sendiri.
Setiap selangkah, Mandalika menghafal pemandangan di
sekelilingnya—seolah-olah ia sedang menyimpan dunia di balik matanya : bukit-bukit
yang Sebagian berwarna hijau dan Sebagian mulai mongering kecokelatan, padi yang mulai menguning di kejauhan, asap
dapur yang masih menempel di atap rumah, pohon-pohon lontar yang merunduk
karena angin. Ia menyimpan semuanya, satu per satu, seperti menaruh benda
berharga ke dalam kotak kecil yang akan dibawa ke mana pun ia pergi.
Di sepanjang jalan, rakyat yang melihatnya berhenti bekerja.
Mereka menunduk. Anak-anak yang biasanya berteriak memanggil namanya kali ini
diam. Mandalika membalas mereka dengan senyum lembut—senyum yang terlihat
seperti cahaya saat listrik padam. Redup, tapi hangat.
Seorang bocah perempuan—barangkali tujuh tahun—mendekat
sambil menggenggam kue basah yang remuk di tangan kecilnya.
“Tuan putri… mau?”
Mandalika berlutut. Ia menerima kue itu, walau hanya
menyentuhnya sebentar, lalu mengembalikan dengan hati-hati.
“Simpen untukmu. Kau akan membutuhkan tenaga hari ini.”
Bocah itu menunduk dan tiba-tiba menangis, tanpa alasan yang
bisa dijelaskan. Mandalika mengusap kepalanya.
“Tak apa. Beberapa hari menangis, beberapa hari tertawa. Itu
tanda kita masih hidup.”
Ia berdiri lagi, meneruskan langkah. Di kejauhan, tebing Mandalika mulai terlihat—gelap, tinggi, tegas. Laut di bawahnya memantulkan langit yang belum memutuskan apakah akan menjadi biru atau tetap abu-abu.
Di atas tebing, tujuh pangeran sudah menunggu. Mereka
berdiri tidak terlalu dekat satu sama lain, masing-masing membawa warna, bau,
dan ambisinya sendiri. Pedang mereka berkilau tajam, bahkan dalam cahaya yang
muram. Di belakang mereka, prajurit berbaris dengan baju zirah, wajah-wajah
tertutup helm, jantung-jantung berdebar seperti genderang perang.
Raja telah tiba lebih dulu. Ia berdiri di sisi batu yang
datar, bahunya tegak, jubah kebesarannya memanjang sampai menutupi alas kakinya.
Namun dari jarak dekat, tangan raja tampak gemetar. Sekali, dua kali, raja
mengusap keringat yang tak henti muncul di pelipis. Permaisuri berdiri sedikit
di belakang, wajahnya pucat. Bibirnya bergerak, entah berdoa, entah menahan
nama yang tak berani ia sebut.
Mandalika menatap laut. Ada getaran kecil di sana—bukan pada
permukaan air, melainkan di dalam dirinya. Getaran yang ia kenali sejak
kecil, getaran yang datang setiap kali sosok itu mendekat.
Mandalika menarik napas panjang.
Mandalika menatap ayahnya, mata mereka bertemu. Di mata
raja, ada sesuatu yang Mandalika tak pernah lihat sebelumnya: ketakutan yang
tulus. Bukan ketakutan kehilangan kuasa. Bukan ketakutan pada perang.
Tetapi ketakutan pada kebenaran.
“Ayah,” kata Mandalika, suaranya setenang batu di dasar
sungai. “Ada masa depan yang bisa diselamatkan. Hanya saja… bukan milikku.”
Raja hendak bicara lagi, tetapi pangeran dari Barat
melangkah maju, suaranya seperti baja yang ditarik dari sarungnya.
“Tak perlu drama. Putri, pilih salah satu. Jika bukan aku,
setidaknya sebutkan nama. Kita bukan dijejali cerita pasar.”
Pangeran dari Utara tertawa pendek, kasar.
“Nama yang disebut hari ini menentukan siapa yang hidup dan
siapa yang mati.”
Pangeran dari Timur mengangkat dagu.
“Jika putri menolak lagi… tebing ini akan menyaksikan lebih
dari sekadar ombak.”
Suara gaduh prajurit mulai naik, seperti derit pintu raksasa
yang dipaksa. Rakyat yang berkumpul menjauh cemas. Anak kecil menangis. Orang
tua memeluk cucu.
“Aku akan bicara.”
Ia berdiri di ujung batu yang sedikit menjorok, tempat laut
tampak lebih dekat daripada daratan. Rambutnya berkibar. Sorot matanya
tenang—tenang yang dihasilkan oleh orang yang telah memilih.
Terdengar helaan napas… lalu banyak suara bersahutan. Para
pangeran saling berpandangan, setengah bingung, setengah marah. Raja menutup
mata, seolah kalimat itu menamparnya di depan semua orang.
Mandalika meneruskan, suaranya tidak meninggi, tetapi tak
ada satu pun kata yang gagal sampai ke telinga siapa pun.
Mandalika menatapnya lurus.
“Cara yang kau tak sanggup lakukan: melepaskan.”
Ia berbalik sedikit, menatap ayahnya. Ada sesuatu yang pecah
pelan di dada raja ketika melihat tatapan itu—tatapan yang mengatakan Aku
masih mencintaimu, tapi aku tidak menyelamatkanmu.
Permaisuri menangis tanpa suara. Ia ingin berlari ke arah Mandalika, namun
kakinya seperti ditambat rantai tak kasat mata.
“Putriku…” ujar permaisuri serak. “Tunggu… setidaknya—”
“Ibu,” Mandalika memotong lembut. “Tak ada yang perlu
ditunggu.”
Sejenak, dunia seperti menahan putarnya. Burung-burung entah
ke mana. Ombak berhenti menunjukkan giginya. Waktu menjadi kain yang diremas
tangan tak terlihat.
Mandalika menutup mata.
Ia mendengar bisikan itu lagi, sangat dekat kali ini—di
belakang telinga, di sepanjang tulang belakang, di hulu napas.
“Relakan. Biar aku yang menyelesaikan.”
“Tidak,” kata Mandalika dalam hati. “Aku yang
menyelesaikan.”
Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke tepi. Batu di
bawah kakinya dingin, licin oleh embun. Jantungnya berdetak… namun tenang,
anehnya tenang, seperti badai yang memutuskan untuk diam.
Mandalika berbalik menghadap orang-orangnya. Ia mencari
sepasang mata kecil—mata bocah perempuan yang tadi menawarkan kue. Bocah itu
ada di pinggir barisan, menatapnya dengan tanya yang tak punya bahasa.
Mandalika tersenyum pada anak itu.
“Tumbuhlah. Makanlah sampai kenyang. Tertawalah. Jangan
biarkan orang dewasa mengajarkanmu takut.”
Anak itu mengangguk, air mata mengalir hingga membasahi
bibir. Mandalika menoleh pada ayahnya untuk terakhir kali.
“Kutukan berhenti di aku.”
Raja ingin berlari. Betisnya menegang. Tetapi sesuatu
menahannya—rasa bersalah yang tumbuh seperti akar pohon tua, menjerat
pergelangan, lutut, pinggang, leher. Ia hanya mampu berteriak, suara yang
terlambat:
“Mandalika—!”
Tepat saat itu, langit retak oleh guruh yang tidak
memekakkan telinga namun menghantam dada. Ombak naik, tapi tidak memukul
karang. Ia hanya mendekat, seperti menawarkan pelukan. Mandalika
mengangkat kedua tangannya, bukan menyerah, tetapi memeluk keputusan.
Dan ia melompat.
Tidak ada yang siap dengan cara laut menyambutnya. Tidak ada
percikan besar. Tidak ada suara patah. Yang terjadi: air menutup seperti pintu
yang ditutup dengan sopan.
Sunyi.
Satu tarikan napas panjang menyeberang dari tebing ke laut,
dari laut ke langit. Rakyat menahan jerit. Pangeran-pangeran membeku, pedang
mereka kehilangan makna. Raja berlutut, jubahnya kotor oleh tanah yang lembap.
Permaisuri menutupi wajahnya, tetapi ia tidak pingsan. Ia memaksa
matanya terbuka, karena ia tahu: ada sesuatu yang harus ia saksikan dengan
sadar—sampai tuntas.
Lalu… di permukaan yang tenang, muncul kilau halus. Bukan
kilau emas. Bukan kilau senjata. Kilau yang seperti kunang-kunang yang
menetas dari air.
Satu… dua… lima… ratus… ribuan. Makhluk kecil memanjang,
berwarna hijau kebiruan, menari mengikuti ritme yang tak dapat dimengerti siapa
pun. Mereka bergerak seperti kalimat yang tak sempat selesai.
Seorang tetua berbisik dengan suara retak:
“Nyale…”
Orang-orang yang belum pernah melihat pun tahu: ini
jawaban. Bukan kemenangan. Bukan kekalahan. Jawaban.
Cahaya itu menyebar membentuk semacam jalur—seolah laut
menulis sesuatu lalu menghapusnya. Beberapa nyale bergerak berlawanan arus,
seperti hendak kembali ke kaki tebing. Anak-anak meraih lengan ibu mereka. Para
pangeran menurunkan pedang. Seseorang berlutut dan mencium tanah.
Di tengah semua itu, raja memandang air dengan tatapan orang
yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Bukan hanya
putrinya. Dirinya sendiri. Ia ingin menyelam. Ia ingin berdamai. Ia
ingin mengulangi masa lalu dari titik sebelum kesalahan pertama dibuat. Namun
waktu bukan kain yang bisa dijahit ulang.
Permaisuri mendekati suaminya. Tangannya menyentuh bahu
raja, gemetar halus.
“Dia memilih kita,” katanya pelan, suaranya seperti debu
jatuh. “Dengan hidupnya.”
Raja tidak menjawab. Bibirnya bergetar, tetapi kata-kata
adalah benda yang terlalu berat untuk diangkat malam itu.
Di antara kerumunan, bocah perempuan tadi melangkah ke garis
paling depan. Ia menatap nyale yang berkilau lembut. Dengan hati-hati, ia
menunduk—bukan untuk menangkap, hanya untuk melihat dari dekat. Nyale itu
mendekat sendiri, lalu menjauh, seperti mengucapkan salam dengan cara yang
hanya dimengerti oleh anak-anak dan orang-orang yang pernah kehilangan.
“Terima kasih, Tuan Putri.”
***
Malam merayap cepat, seolah langit ingin mengakhiri hari itu
sesegera mungkin. Para pangeran dan prajurit mereka turun satu per satu tanpa
komando. Tak ada lagi yang dapat diperebutkan tanpa terasa memalukan. Beberapa
menyarungkan pedang dengan tangan gemetar. Yang lain menatap lama ke laut,
mungkin untuk mencari pembenaran, lalu pergi tanpa menemukannya.
Rakyat tetap tinggal lebih lama daripada mereka. Mereka
menyalakan obor obor kecil dan lilin lebah yang sendu, menaruhnya di atas batu,
menatap nyala yang bergerak-gerak karena angin. Seseorang menggumamkan doa.
Yang lain menyanyikan lagu kecil yang dikenal di desa-desa pesisir—lagu yang
biasanya dinyanyikan ibu-ibu untuk menidurkan bayi. Malam itu, lagu itu terdengar
seperti permintaan maaf.
Raja berdiri perlahan. Ia menatap tepi tebing, tempat
pijakan terakhir Mandalika masih tampak dalam bentuk tanah yang sedikit runtuh.
Di sana, jejak kaki putrinya tersisa samar—berderet rapi, berhenti mendadak di
ambang dunia.
Raja meraih udara kosong di depannya.
“Mandalika…” suaranya pecah. “Aku…”
Kata-kata berikutnya tidak keluar.
Sebab kata-kata tidak bisa mengembalikan yang tenggelam. Dan
laut tidak pernah meminta penjelasan. Laut hanya menagih yang dijanjikan.
Permaisuri menutup mata, menarik napas, lalu
menghembuskannya panjang.
“Kita harus pulang,” katanya akhirnya. “Rakyat butuh
penjelasan.”
Raja menoleh pelan ke arah kerumunan. Mereka menatap, tidak
marah, tetapi juga tidak siap memaafkan. Di mata mereka, ada luka yang tidak
ditunjukkan dengan teriakan. Luka yang akan menjadi cerita bertahun-tahun ke
depan.
Sebelum raja melangkah, angin membawa aroma yang tak asing :
bau rambut basah oleh air laut.
Kepalanya menoleh refleks. Di sisi tebing, sebentar
saja—seperti bias cahaya—sosok perempuan berambut panjang berdiri tegak. Bukan
Mandalika. Yang satu lagi. Mata tanpa pupil menatap raja melalui tabir
kabut. Tidak ada senyum. Tidak ada ancaman. Hanya kehadiran yang cukup untuk
membuat darah raja membeku.
Permaisuri tidak melihat sosok itu, tapi tangannya
menggenggam lebih erat lengan suaminya, seolah instingnya tahu sesuatu yang
luar biasa baru saja lewat. Raja memejamkan mata. Ketika ia membukanya kembali,
tebing hanya tebing. Angin hanya angin.
Ia menuruni jalan, langkahnya goyah, diiringi rakyat yang
kembali pulang tanpa banyak kata. Di belakang mereka, nyala lilin-lilin kecil
padam satu per satu, bukan karena angin, tetapi karena malam telah memenuhi
tugasnya.
Laut di bawah tebing menyimpan rahasianya dengan rapi dan di
permukaan air, masih ada sisa-sisa cahaya kecil yang menolak padam.
Cahaya yang akan kembali lagi setiap tahun pada waktu yang sama, mengingatkan
orang-orang pada satu hal yang mustahil untuk dilupakan:
***
Bagian 6 : KUTUKAN TERBALIK

Comments
Post a Comment