Mandalika : Janji Yang Ditagih Laut (Bagian 4)


Bagian 4 — PENGAKUAN

Langkah Mandalika bergema pelan di lorong bawah istana yang jarang dilewati orang. Dinding batu tampak seperti menyimpan hawa dingin yang menembus kain pakaiannya. Di setiap langkah, udara semakin lembap dan gelap, seperti ia sedang turun ke dalam perut bumi—atau ke dalam rahasia yang tidak ingin ditemukan siapa pun.

Obor yang ia bawa bergoyang, memantulkan bayangan panjang yang bergerak bersama dirinya. Bayangan itu tampak seperti sosok lain, berjalan bersisian dengannya.

Bayangannya? Atau bayangan perempuan itu?

Mandalika tidak berani menoleh.

Tangga terakhir mengarah pada pintu kayu berat, kusam, dan dipenuhi ukiran yang tidak dapat ia pahami. Ukiran itu tampak seperti simbol laut, sisik ikan, dan lingkaran seperti mata. Di beberapa bagian, ukiran itu seperti tangan yang terulur—seperti mengajak masuk, atau menghalangi.

Pintu itu seakan bernafas.

Mandalika menelan ludah.

Ia menempelkan telapak tangannya ke kayu yang dingin.

Saat ia mendorongnya perlahan, pintu itu terbuka tanpa suara, seolah sudah lama menunggunya.

Ruang bawah tanah itu lebih luas dari yang ia bayangkan. Rak-rak kayu tua berdiri di sisi kanan dan kiri, dipenuhi benda-benda yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: botol dengan cairan gelap, lembaran kain bertuliskan simbol, dan benda-benda yang tampak seperti bagian ritual—cawan dari batu karang, tulang yang diikat dengan benang merah, dan benda yang menyerupai sisik besar dari hewan laut.

Udara terasa lembap dan asin.

Seperti laut.

Tidak—seperti tubuh yang lama direndam di laut.

Mandalika maju perlahan, langkahnya terdengar seperti detak waktu yang tak pernah berhenti. Sudut ruangan itu tampak paling gelap, namun di sanalah ia melihat sebuah peti kayu tua.

Peti itu tidak hanya berkarat. Ia kotor, berlendir, seperti baru terangkat dari dasar laut.

Rasa dingin merayap di tulang belakang Mandalika. Ia meraih ujung peti dan membuka pelan.

Hingga suara keretakan terdengar, seperti benda itu protes karena dibangunkan setelah terlalu lama disembunyikan. Di dalamnya—Mandalika melihat tiga benda:

Gulungan kain berisi tulisan mantra, huruf-hurufnya bergelombang seperti ombak. Toples kaca yang berisi rambut panjang hitam, basah, menggantung seperti usus makhluk laut. Buku tua bersampul kulit hewan, tebal, dengan bagian pinggir yang tampak gosong.

Rambut basah itu meneteskan air ke dasar peti. Seolah-olah baru diangkat dari laut.

Mandalika merinding.

Ia mengambil toples itu dengan tangan gemetar. Air asin menempel di jarinya, dan ketika tetesan itu jatuh ke lantai, ia mendengar lirih suara :

"Janji..."

Mandalika menjatuhkan toples itu, tapi tidak pecah. Karena air di dalamnya entah bagaimana membentuk kembali dirinya seperti daging hidup yang menggenggam kaca.

Mandalika mundur, napasnya terputus.

Ia meraih buku bersampul kulit itu.

Begitu jari-jarinya menyentuh permukaannya, ia merasakan sensasi berdenyut. Seperti buku itu memiliki jantung. Mandalika membuka halaman demi halaman, membaca catatan yang ditulis dengan tulisan tangan yang ia kenali: tulisan ayahnya.

Catatan itu dimulai seperti jurnal seorang raja yang terdesak:

Tahun ke-3 masa paceklik. Tanah retak. Sungai mengering. Pasar hancur. Aku sebagai raja tidak lagi dihormati. Mereka menuntut mukjizat. Aku tidak punya apa-apa.

Halaman berikutnya mulai berubah intens :

Seorang belian yang datang malam itu mengatakan ada cara. Perempuan dari laut itu menawarkan kekuatan. Ia berkata: “Aku dapat membuat kerajaanmu disembah.”

Perempuan dari laut.

Mandalika memejamkan mata. Tenggorokannya serasa menutup.

Ia melanjutkan membaca.

Syaratnya adalah cinta yang paling murni dari keturunanku. Aku pikir aku bisa menipu roh itu. Aku pikir aku bisa memberikan persembahan lain. Tapi perempuan itu berkata: "Yang lahir dengan tangis paling jernih, itulah hadiahnya."

Tangis paling jernih.

Mandalika merasakan kepalanya berputar.

Ia lahir tanpa tangis.

Semua orang selalu membicarakan itu dengan bangga.

“Putri Mandalika lahir dalam ketenangan. Tidak seperti bayi lain.”

Bukan ketenangan.

Itu tanda. Ia adalah persembahan.

Tangan Mandalika gemetar saat membuka halaman terakhir. Tulisan itu singkat, dengan tinta merah pudar—bukan tinta, tapi darah.

Jika keturunan perempuan jatuh ke laut dengan rela, perjanjian selesai.

Mandalika membeku. Tangan yang memegang buku itu bergetar hebat.Di dalam kepalanya hanya ada satu kalimat:

"Ayah menjualku."

Bukan demi rakyat.
Bukan demi istana.
Tapi demi tahtanya sendiri.

Mandalika merobek halaman itu dengan gerakan panik—seolah merobek kenyataan hidupnya. Buku itu terjatuh ke lantai, terbuka pada halaman yang sudah robek. Lilin seakan padam satu per satu karena angin yang tidak nyata.

Mandalika berlari keluar dari ruang bawah tanah. Langkahnya terhuyung seperti seseorang yang kehilangan keseimbangan antara dunia nyata dan mimpi buruk. Setiap anak tangga yang ia lewati terasa seperti jarak antara hidup dan kematian. Dan ketika ia akhirnya sampai di balairung, ia melihat ayahnya sedang duduk di singgasana, seolah tidak ada yang terjadi di dunia.

Mandalika berteriak:

“Ayah membuat perjanjian dengan roh laut!”

Suaranya menggema, lantang, pecah oleh emosi.

Raja terdiam. Ia memandang putrinya, wajahnya memucat. Untuk pertama kalinya dalam hidup Mandalika, ia melihat wajah sang raja bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai manusia yang ketakutan.

Mandalika mendekat, matanya berkilat oleh air mata dan kemarahan yang hampir meledak.

“Ayah menyerahkan aku sebelum aku lahir. Ayah menjual masa depan kerajaan… dengan darahku.”

Raja mengepalkan tangan. Ia ingin membantah. Ia ingin menyangkal. Tapi tidak ada kata keluar. Mandalika melempar lembar halaman yang ia robek ke lantai singgasana.

“Perjanjian selesai jika aku jatuh ke laut dengan rela.”

Raja akhirnya bersuara.

“Aku melakukan itu demi kerajaan… demi kita.”

Mandalika tertawa miris.

“Tidak. Demi kekuasaanmu.”

Air mata mulai turun dari mata sang raja. Bukan air mata penyesalan, tetapi air mata yang muncul saat seseorang takut kehilangan apa yang ia perjuangkan selama ini.

Raja berbisik

“Maafkan aku. Aku tidak tahu—”

Mandalika menatap lurus ke mata ayahnya.

“Ayah tahu.”

Raja tertegun.

“Kau hanya tidak peduli.”

Kata-kata itu memukul raja lebih keras daripada pedang mana pun. Ia jatuh berlutut, bukan karena diserang, tetapi karena dihantam oleh kebenaran yang tidak bisa ia ubah.

Saat Mandalika berbalik untuk pergi—bayangan perempuan itu muncul.

Di belakang Mandalika. Tepat di belakang raja.

Perempuan itu tersenyum—senyum yang mengiris jiwa. Rambutnya basah, meneteskan air laut ke lantai singgasana. Matanya kosong, tidak bernyawa.

Sang raja melihatnya—dan pingsan.

Mandalika tidak menoleh. Ia hanya berjalan pergi.  Air matanya jatuh satu demi satu di marmer dingin lantai istana.

***

Kabar tentang pingsannya raja tidak pernah keluar dari tembok istana. Semua yang melihat kejadian itu dipanggil satu per satu dan diberi peringatan.

“Kalau satu kata pun keluar dari mulutmu tentang apa yang terjadi, kau tidak akan pernah terlihat lagi.”

Nyawa menjadi taruhan. Para prajurit membenamkan kebenaran bersama mayat ikan di palung sungai. Istana tetap tersenyum di permukaan—tapi ada retakan yang tidak bisa lagi ditutup oleh simbol atau kekuasaan: Mandalika tahu kebenarannya.

Dan yang lebih mengerikan— Mandalika tahu apa yang harus ia lakukan.

***

Bagian 5 :  TEBING PENGORBANAN

Comments