Dalam psikologi pendidikan, ada sebuah premis dasar yang tidak bisa dibantah: "You cannot pour from an empty cup." Kita tidak bisa menuangkan air dari cangkir yang kosong. Sama halnya, kita tidak bisa mengharapkan pendidikan yang berkualitas dan penuh kasih sayang dari seorang guru yang jiwanya "kosong", lelah, dan merasa diperlakukan tidak adil.
Berita terbaru mengenai kebijakan Full Day School (FDS) yang meliburkan siswa di hari Sabtu demi "waktu berkualitas bersama keluarga", (which is ini bagus) namun tetap mewajibkan guru masuk untuk "refleksi", adalah sebuah paradoks psikologis yang nyata. (nahh bagian ini yang harus jadi bahan diskusi)
Karena Kebijakan ini mengirimkan pesan ganda yang membingungkan: Keluarga siswa dianggap penting untuk perkembangan mental anak, namun keluarga guru dianggap tidak relevan dalam ekosistem pendidikan.
Mari kita bedah secara logis dan tegas. Konsep Full Day School menuntut stamina kognitif dan emosional yang luar biasa tinggi. Selama lima hari (Senin-Jumat), guru harus standby dari jam 07.30 hingga 15.30 WITA (Jenjang SD) dan 16.30 WITA (Jenjang SMP) . Ini bukan sekadar duduk di kantor; ini adalah kerja emosional (emotional labor) menghadapi ratusan karakter siswa, menahan emosi, memotivasi, dan mentransfer ilmu.
Secara psikologis, otak dan jiwa manusia membutuhkan fase detachment (melepaskan diri) dari rutinitas kerja untuk bisa pulih sepenuhnya. Jika hari Sabtu—yang seharusnya menjadi fase pemulihan (recovery)—justru diisi dengan kewajiban presensi atas nama "refleksi", maka siklus kelelahan itu tidak pernah putus. Belum lagi anak-anak para guru akan bersama siapa di rumah? Mereka juga punya hak seperti siswa lainnya pada hari sabtu bersama keluarga.
Akibatnya? Bagi guru, ada kemungkinan besar Senin pagi bukan disambut dengan antusiasme, melainkan dengan sisa-sisa kelelahan minggu lalu. Akan sulit mencapai tujuan "peningkatan kompetensi" dalam mode survival karena kurang istirahat. Karena bahkan di rumah pun guru harus mempersiapkan bahan ajar untuk esok harinya.
Poin yang paling harus kita evaluasi bersama dari kebijakan ini adalah pengabaian peran guru sebagai orang tua. Seorang guru yang dipaksa meninggalkan anak-anaknya di hari libur demi administrasi sekolah, akan bekerja dengan membawa beban psikologis bernama guilty feeling (rasa bersalah). Bayangkan ironinya: Di sekolah, guru diminta mengajarkan siswanya tentang pentingnya "Bakti pada Orang Tua" dan "Kehangatan Keluarga". Namun di saat yang sama, guru tersebut sedang "menelantarkan" hak anaknya sendiri di rumah karena terikat aturan presensi.
Ini menciptakan konflik batin yang dalam. Guru menjadi tidak tenang, cemas, dan tidak hadir sepenuhnya (mindful) saat kegiatan refleksi di sekolah. Jika batin pendidiknya saja sedang bergejolak, bagaimana ia bisa memberikan ketenangan bagi murid-muridnya?
Menurut saya, refleksi terbaik seorang guru seringkali terjadi bukan di ruang rapat yang kaku, melainkan saat ia sedang bermain bola dengan anaknya, saat ia sedang menyiram tanaman di rumah, atau saat ia beribadah dengan tenang. Momen-momen itulah yang memicu kreativitas dan semangat baru (recharge). Memaksa "refleksi" dalam kondisi lelah hanyalah formalitas administratif yang bisa dibilang membuang waktu karena sulit mindfull tadi
Melalui tulisan ini, kita tidak sedang menolak kerja keras. Percayalah Guru-guru di negeri ini adalah petarung tangguh. Namun, kita sedang menuntut kewarasan dan keadilan.
Jika pemerintah percaya bahwa Full Day School adalah solusi terbaik dan hari Sabtu adalah hak siswa untuk kembali ke pelukan keluarga, maka logika yang sama mutlak berlaku bagi gurunya. Guru juga manusia. Guru juga kepala keluarga. Guru juga memiliku anak dan keluarga, Guru juga butuh bahagia.
Jangan sampai kita sibuk membangun karakter siswa, tapi di saat yang sama kita meruntuhkan fondasi mental para pembangunnya. Kembalikan hari Sabtu kepada guru, bukan karena kami malas, tapi karena kami ingin kembali ke sekolah di hari Senin dengan jiwa yang utuh, waras, dan penuh cinta.
Mhn maaf, ini sekadar POV dari kami para guru. Semoga bisa menjadi pertimbangan untuk kebaikan bersama . Mari diskusi di kolom komentar

Comments
Post a Comment